BONUS - BERITA DAN GAMBAR DI TVRI (1), DENGAN TUTUP KUPING, MESTINYA TIDAK TERLEWAT INFORMASI PENTING

BICARA. Yang ada hanya gambar dan tulisan. Toh, ia sudah bicara tanpa harus ada suara

RANGKAK. Gambar memang lebih banyak bicara dibanding kata-kata. Itu dibuktikan – setidaknya – lewat tayangan Olimpiade XXIV Seoul di TVRI. Ada sesuatu yang (waktu itu) baru, sejak gebyar olimpiade Seoul 1988 saban hari nongol di layar gelas. Tata grafis spot tayangan itu tampak benar bedanya dengan spot-spot produksi lokal.

Kita (waktu itu) masih merangkak-rangkak bikin titel dengan huruf dot yang muncul satu-satu atau teks film yang warna-warni dengan efek bayangan segala. Sebagian penonton – meski iri berat – akhirnya hanya bisa bilang: apa boleh buat. Kecanggihan toh berurusan dengan piranti dan duit yang tidak sekadar ‘gopek’, 500. Nelangsalah kita untuk soal itu.

Lebih-lebih – dengan vokal – TVRI selalu jujur bilang, “Siaran ini berlangsung atas kerjasama TVRI dengan Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial, kupon KSOB.” Artinya, apalagi kalau bukan ‘doku’ persoalannya?

Tapi, ada sesuatu yang jauh lebih penting ketimbang soal tata grafis atau estetika gambar. Sesuatu yang lebih mendasar, lagipula tidak bisa di-“apa boleh buat”-kan begitu saja. Dengan alasan duit sekalipun. Ini soal kecanggihan sikap profesionalisme awak teve sendiri. Bukan soal properti atau perangkat keras yang bisa dibeli.

RANGKAI. Sikap profesional yang dimaksud adalah soal naluri bagaimana menguasai layar gelas. Bagaimana memfungsikan layar menjadi informatif. Sudah dimaklumi, teve bukanlah radio yang hanya bisa dinikmati dengan cara nguping. Nongkrong di depan pesawat teve butuh perilaku yang berbeda dibanding bila nongkrong di depan radio.

Nonton teve, mata punya kesempatan sama dengan kuping. Dan tayangan teve yang baik – dari segi penyampaian informasi – ibaratnya begini. Meski tutup kuping rapat-rapat, informasi tetap bisa didapat. Putar rekaman siaran olimpiade Seoul 1988 itu, dan tutup telinga selama nonton. Mata tetap bisa menyadap informasi yang lumayan. Dari nama atlet, data rekor dunia, sampai rekor olimpiade bisa ditangkap secara visual.

Pada akhirnya, memang, layar seyogyanya diamfnaatkan maksimal untuk kepentingan perangkaian dan penyampaian informasi. Untuk soal begituan, konon kita juga ketinggalan. Meskipun sebenarnya tidak ada alasan untuk itu. Ini perkara kemauan, perkara niat, dan profesionalisme kerja.

Siaran langsung pertarungan Elly Pical terakhir (kala itu) di Surabaya (yang waktu itu baru) lalu, seperti juga yang lain, pemanfaatan layarnya masih minimal. Mestinya banyak yang bisa divisualkan, daripada sekadar memasang data teknis kedua petinju yang sudah bisa dibaca di koran sehari sebelumnya.

Percuma TVRI kerap menayangkan ‘event’ olahraga internasional secara langsung, kalau tidak dipelajari juga teknik liputan dan cara penyajiannya. Bandingkan dengan tayangan pertarungan Tyson-Spinks yang (waktu itu baru) lalu. Suasana kamar ganti pun tak luput dari sorotan kamera.


RANGKUM. Tak perlu jauh-jauh untuk soal yang sama, kemiskinan gambar terasa untuk siaran mahapenting pengumuman susunan kabinet pembangunan V. Layar tidak dimanfaatkan maksimal. Padahal untuk hal itu, TVRI punya waktu untuk persiapan. Bahkan, sebagai media penerangan milik pemerintah, TVRI punya keleluasaan bergerak – untuk ‘lobbying’ misalnya.

Sekali lagi, ini memang soal naluri awak teve dalam meneruskan informasi ke pemirsa, bagaimana menyajikannya, sehingga ada kemudahan untuk menangkapnya. Syukur-syukur bisa dirangkum, jika diharuskan. Terus terang, “keluguan” tayangan itu sungguh mengecewakan, terutama yang sudah bersiap-siap dengan alat tulis. Praktis tidak bisa, selain merekamnya.

“Keluguan” layar, tidak terbatas untuk acara-acara langsung. Siaran Berita TVRI pun tak lepas dari “keluguan” itu. Setahu penulis bacaan ini (Setya Rahadi, adalah anggota kelompok jurnalistik Lajur, Yogyakarta), dulu (jauh sebelum 1988-red) TVRI rajin menyisipkan peta untuk berita-berita dari daerah/negara yang dianggap belum banyak dikenal. 1988, untuk berita ‘rally’ saja, tampaknya TVRI ogah-ogahan membikin peta tiap etapenya.


Tak berarti TVRI akan “goblok” terus-menerus. Sebagai contoh, TVRI Surabaya, yang menyiarkan juara Asah Terampil melengkapi dengan visualisasi urutan pemenang-pemenangnya. Artinya, mereka punya niat dan kemauan untuk menyiasati penonton. Gambar di layar teve seharusnya memang bukan berwatak ilustrasi cerpen yang samar-samar.

Meski artistik – kalau tidak membaca seluruh cerita tetap tak jelas maksudnya. Seperti komik strip yang dapat dimengerti tanpa teks, seharusnya gambar di layar teve mampu berbuat yang sama, bisa dimengerti tanpa harus tegang pasang telinga lebar-lebar. Untuk soal itu, yang penting (waktu itu) bagaimana mempertajam naluri awak teve untuk bersikap profesional. (Bersambung)

Dok. Monitor – No. 104/II/minggu ke-4 Oktober 1988/26 Oktober-1 November 1988, dengan sedikit perubahan









Komentar

Postingan Populer