BONUS - ALBUM MINGGU INI (TVRI) MENEMPATKAN ARN, ARS, SELEKTA POP, DAN KAMERA RIA SEBAGAI "ANAK TIRI"
“SELAMAT siang, para pirsawan yang budiman, kami tampilkan
Album Minggu, yang merupakan cuplikan acara musik terapik pada minggu-minggu
sebelumnya.” Begitu mestinya Sutedjo mengantar acaranya. Lantas sajian yang
muncul tak sekadar petikan-petikan, tapi juga dibumbui biar lebih semarak.
Album Minggu Ini, mestinya lebih bagus dari Selekta Pop. Kalau Selekta didominasi musik pop, maka Album adalah Kumpulan beragam jenis warna musik dan lagu-lagu yang pernah ditayangkan sebelumnya. Tapi, kenapa hadirnya seperti tak memberi kesan?
“Sulit melacaknya. ‘Editing’-nya saja bisa hari Sabtu. Sehari menjelang disiarkan. Bisa pula, menjelang disiarkan ternyata ada materi yang berubah,” komentar Sutadi, penyiar yang juga sering membawa acara ini, bergiliran dengan Sutedjo. Tampaknya, Album memang (waktu itu) belum terperhatikan benar. Padahal, bagi artis Sendiri, Album jadi kebanggaan. Ini berarti, kemampuannya memang pantas untuk tampil.
Album yang tampil selama 30 menit rasanya terlalu sempit menjadi acara seleksi. Apalagi untuk musik. Kalau saja dirata-ratakan satu lagu empat menit, berarti sekitar delapan atau sembilan lagu yang tampil. Padahal, harus ada pengantar. Jadinya, Sutedjo terasa saat muncul di awal atau di tengah lagu. Tapi inilah salah satu cara mengirit waktu.
PETIK, APIK. Niat bagus Sutedjo, muncul juga di akhir tahun
1987 lalu. Album tampil seakan kupyokan dari acara musik setahun. Tapi sekali
lagi, sayang, waktunya tetap 30 menit. Dan jangan lupa – Album sebetulnya belum
jujur. Atau terlalu jujur, sehingga tidak memetik satu lagu pun dari acara
Aneka Ria Safari, Aneka Ria Nusantara, Selekta Pop, atau Kamera Ria.
Padahal, lagu-lagu apik bisa saja mencuat pada acara-acara itu. Soal ini, konon pernah dilontarkan, tapi seperti kata Sri Maryati, pembawa caara Safari, jawaban dari penggarapanya: “Tidak boleh.” Alasannya? “Entahlah.” Pantasnya, Album memang tidak hanya mengutip sebagian, tapi keseluruhan acara musik yang ada, sehingga tak muncul pertanyaan, “Kenapa hanya dari acara anu dan anu?”
Lantas, kembali ke soal penyajian, barangkali perlu juga
dipikirkan agar penggarapannya tak monoton. Apalagi komentar penyiar pun kerap
berlebihan. Jika saja dia digarap serius, mungkin tidak sekadar mengedit dari
acara-acara yang sudah disiarkan. Bisa saja diberitahukan, “Kami pilihkan lagu
anu yang dibawakan penaynyi si anu, petikan dari acara anu yang ditayangkan
pada…”
Lalu, visualisasinya baru. Jadi, ada rekaman gambar ulang. Ini bisa lebih menyegarkan daripada sekadar menampilkan potongan tubuh Sutedjo berlatarbelakang editan acara sebelumnya. Sudah tentu ini kerjaan baru. Tapi, namanya juga bikin yang terbaik untuk menyenang-nyenangkan pemirsa?
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar