BONUS - AGUS TAMASWARA, PENGGAGAS SI UNYIL (TVRI)
SUNDA. Tak banyak orang tahu, siapa penggagas pertama lahirnya
film boneka si Unyil (TVRI). Orang banyak tahu tentang Kurnain Suhardiman,
penulis cerita. Tapi, tidak banyak tahu nama Amas Tamaswara. Tak banyak yang
tahu pula asal-muasal Unyil dilahirkan.
Ilustrasi si Unyil setidaknya mengungkapkan daerah cerita ini dilahirkan: tanah Sunda! Tepatnya di Jl. Jurang, Bandung, tempat mang Koko (alm), tokoh karawitan Sunda, mengahbiskan masa-masa hidupnya. Tempat si belia Amas Tamaswara meniti kehidupannya hingga bacaan ini dimuat Monitor (1988-red). Suatu tempat pula, bagi Kurnain Suhardiman menggelandang.
Lagu Cing Kacang Buncis sempat populer di tanah Sunda sekitar tahun 1930-an. Bermula dari berkumpulnya muda-mudi (era itu) di Jl. Jurang. Di antara remaja-remaja (era itu) itu, ada nam-anma Kurnain Suhardiman, mang Koko, dan Amas Tamaswara.
Nama Kurnain Suhardiman dan mang Koko (Koko Koswara-red) sudah kita kenal sebagai penulis skenario si Unyil dan tokoh seni karawitan Sunda. Sedangkan Amas Tamaswara, khususnya bagi masyarakat Jawa Barat, amat populer sebagai seniman Sunda yang gigih.
Ia memiliki ketermapilan menawan dalam hal tarik-suara dan memainkan waditra. Selain itu, Amas sering menciptakan lagu-lagu tradisional Sunda. Dan ini dijajakinya sejak 1968. Lewat karya perdananya, Surat Ondangan, Reup Deungdeung, dan Beger Pakokolot namanya semakin melonjak.
Lewat pertemuan tersebut, Amas sempat melemparkan ide, menciptakan sandiwara boneka. Dimainkan hampir mirip dengan wayang golek. Maka sejak 1970, ide Amas tersebut terwujud. Dihimpunnya para dalang cilik (era itu) untuk memainkan wayangnya. Dilatihnya mereka di Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jl. Naripan, Bandung. Ketika itu, Kurnain Suhardiman sedang pergi ke Amerika.
SUKA DUKA. Hampir semua SD di Bandung dikelilinginya untuk
mementaskan sandiwara boneka ini. Amas sendiri terjun sebagai dalangnya.
Ceritanya berlangsung sekitar 90 menit.
Setelah keliling SD, mereka dikontak untuk ‘show’ di taman rekreasi kolam renang Karang Setra, Bandung, tiap hari Minggu. Berbeda dengan ‘show’-nya di sekolah-sekolah, di Karangsetra ini suara tokoh-tokoh si Unyil menggunakna ‘playback’. Banyak epnonton yang memadati arena pertunjukan. Terlebih lagi bila di tengah istirahat ditampilkan ekstra Gatotkaca Ngibing (Gatotkaca Menari).
“Kami hendak mendidik anak-anak, bukan komersial,” jelas Amas yang (belakangan itu) dosen FPBS, jurusan seni musik IKIP Bandung, juga staf Binmas Poltabes Bandung.
Ketika itu, bentuk tangannya tidak seperti pada si Unyil 1988, tapi berdasarkan bentuk “tuding” wayang golek. Iringan musiknya memakai dnetingan kecapi mang Koko. Ketika Kurnain kembali ke tanah airnya, ia segera membuat hal serupa. Dan kebanyakan, ide cerita pun berasal dari Kurnain. Kok nama Amas Tamaswara tak tercantum dalam proses pengerjaan/staf produksi si Unyil di layar gelas? “Entahlah, saya sendiri tak tahu,“ ucap Amas dengan suara beratnya.
Ditulis oleh: Rosyid E.A.
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar