BONUS - ADINDA MENCARI WANITA. YA SIA-SIA... (APA YANG KAU CARI ADINDA, SEPEKAN SINETRON/TVRI - JUMAT, 26 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30-23.25 WIB)

KATA-KATA. Lewat sinetron Adinda, Asrul menampilkan permasalahan lewat kata-kata. Betapa rukunnya keluarga Purnomo-Adinda ini, mereka selalu mengucapkan selamat malam kepada Kiki saat menjelang tidur

SINETRON berjudul Apa Yang Kau Cari Adinda meninggalkan jejak yang dalam pada perkembangan sandiwara TVRI. Kalau Juragan Sulaiman dari cerita dan skenario Ali Shahab dan pengarah acara Dedi Setiadi, mengaktualkan komedi Betawi tahun 1922 dengan teknik yang layak dan enak ditonton 1988 ini. Adinda, bercerita tentang wanita masa 80an, dalam ‘setting’ masa 80an pula.

Siaran menyambut hari Kartini tiga tahun sebelumnya (1985-red) itu, mengisahkan Adinda (Mutiara Sani), pembela hukum yang menemukan ekspresi pengejawantahan dalam karir yang cemerlang.

Dengan pembelaannya yang menyentuh, ia berhasil mengembalikan dua anak kepada ibunya. Dengan kesibukan yang padat, ia melepaskan kehangatan rumah tangga. Hubungan dengan suaminya, insinyur Purnomo (Asrul Zulmi) mengalami perubahan. Putri satu-satunya, Kik (Jehan Amir) akhirnya lebih lengket dengan pembantu.

Asrul Sani, sebagai penulis cerita dan penyusun skenario, menydoorkan sejumlah persoalan yang hangat, yang menyengat, yang problematis. Dan Irwinsyah, pengarah acara, tampil dengan terampil, kecuali beberapa set tutup meja makan, warna kursi yang kurang diperhitungkan.

Secara keseluruhan, karya ini berhasil. Berhasil secara keseluruhan, karena Asrul Sani agaknya memang menyediakan peranan di mana Mutiara Sani menemukan karakter yang bisa dipertajam. (Sehingga ganti pakaian 11 kali yang tetap terjaga antara model gaun, kalung, dan ikat pinggang tetap tidak terkesan berlebihan).

Dan terutama juga Asrul Zulmi yang dengan penguasaan emosi seorang intelek yang murka, geram, kesal, tanpa menjadi kekesalan berandal atau sopir bajaj. Dari beberapa lakon, di sini Asrul tampak unggul, justru karena kemampuan menempatkan satu tingkat emosional lebih rendah dari Mutiara Sani. Ia hadir dan sekaligus bisa menghadirkan lawan mainnya.

 

DIALOG. Pengarah acara Irwinsyah dan Mutiara Sani berdialog tentang visi Adinda. Pendekatan model begini sangat perlu. Setidaknya, hal ini bisa menjadikan suasana kekeluargaan pihak kru TVRI dengan para pemain 

CERITA, CEREWET. Kekuatan utama dan keberhasilan sinetron ini tak bisa dilepaskan dari bangunan cerita. Dimulai dengan keriangan keluarga Purnomo, diawali dengan kemesraan Adinda pada anaknya Kiki dengan usapan selamat malam, membangunkan, menyediakan tas sekolah, meruncingkan pensil, menyiapkan sarapan sementara suaminya lari pagi.

Dramatisasi melangkah dengan “kemenangan” Adinda yang menyeret pada kesibukan yang lain. Yang mendekatkan pada essama kaum wanita, tetapi menjauhkan hubungan keluarga. Klimaks dimulai dari rayuan pengusaha kaya yang kartu namanya murahan, pemisahan bik Supi, pelayan yang akrab dengan Kiki, sampai dengan dititipkannya Kiki di rumah mertua Adinda.

Asrul Sani lihai dalam menampilkan permasalahan lewat kata-kata. Tapi, juga sekaligus kelemahannya karena gambar menjadi kurang dominan. Perhatian tersebut oleh kalimat-kalimat: “Karena begitu kau terjun ke dalam masyarakat, masyarakat yang mengatur waktumu.” Atau: “Bagaimanapun majunya kita, kita tak boleh melupakan kodrat kita sebagai wanita.” Tapi bisa pula: “Aku hanya ibu rumah tangga biasa.”

 

CEREWET. Kemesraan seorang ibu terhadap anaknya. Tapi, Adinda akhirnya terseret terlalu ajuh, dan ia bagaikan ibu yang cerewet 

Yang dalam bentuk ekstrem, dialihkan ke dalam bentuk suara hati Adinda yang dieko lewat buku harian. Karya ini menarik, karena meninggalkan sejumlah pertanyaan. Siapakah Adinda sebenarnya? Ibu yang dikatakan cerewet oleh anaknya? Yang dipuja kaumnya? Yang demikian laus pandangannya tapi tersenggol cemburunya melihat sahabatnya menggoreng telur di dapurnya?

 

AKRAB. Bi Supi sangat akrab dengan Kiki. Maklum, sang Adinda waktunya selalu tersita dengan kerjanya yang menumpuk 

Dan pertanyaan yang mengakar lagi: wanita tak perlu mencari dirinya, karena tak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Wanita menerima sebagai bentuk jawaban dan bukan bentuk pertanyaan. Sisa renungan yang ditinggalkan oleh Adinda inilah yang bergema lama setelah sajian itu selesai, setelah siaran ulangan. Sesuatu yang tak banyak, kalau tidak mau dibilang tak ada, dari drama televisi selama itu.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

APA YANG KAU CARI ADINDA

Adinda – Mutiara Sani

Purnomo – Asrul Zulmi

Kiki – Jehan Amir

Bi Supi – Bi Supi

Pengarah acara: Irwinsyah

Penulis skenario: Asrul Sani

Lokasi syuting: Semarang

Produksi: TVRI Stasiun Pusat Jakarta

Batas usia: 17 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer