BONUS - ADAKAH CINTA ABADI? BILA MALAM BERTAMBAH MALAM MENJADI BUKTI (SEPEKAN SINETRON, BILA MALAM BERTAMBAH MALAM/TVRI - SELASA, 30 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 AKTIF. Dalam perlataran teater Jakarta, nama Fira Panji Anom (waktu itu) bukanlah pendatang baru. Beberapa tahun sebelumnya, ia aktif dalam kegiatan teater remaja

SASTRAWAN yang sekaligus dramawan Putu Wijaya, menulis novel Bila Malam Bertambah Malam (BMBM) sekitar tahun 1964, ketika umur 20an. Ia lahir di Puri Anom-Tabanan, Bali, 11 April 1944. Putu dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah novel lahir, dan berpuluh-puluh cerita pendek terus mencuat tak ada hentinya. Serta setumpuk naskah panggung, bahkan beberapa skenario film. Dua di antaranya: Perawan Desa plus Kembang Kertas menggondol Citra pada FFI 1980 dan 1985.

Teramat panjang jika dibeberkan prestasi kreatif yang dijalankan Putu. Ia pun mantan wartawan, juga (waktu itu) masih memegang kemudi Teater Mandiri, Jakrata – kelompok teater yang tangguh and berulang kali manggung.

Beberapa waktu sebelumnya, kurang lebih 3 tahun, ia tinggal di Amerika Serikat, jadi dosen tamu pada dua universitas di sana. Tapi, dalam pengembaraannya itu, ia berhasil pula menembus gedung La Mama, Off-Broadway, New York, menyutradarai lakonnya. Langkah Putu ibarat meteor. Melejit mengarungi jagad raya ini. Sebelum kayak 1988, ia kerap tampil di layar gelas.

Kendati tak rutin, namun M. (Monitor) masih ingat pneampilannya di sinetron Kasak Kusuk (1973), dan terakhir (kala itu) main dalam BMBM (1983) memerankan sosok Wayan. Akhir bulan Agustus 1988 ini, BMBM ditayangkan kembali.

Setidaknya, pemutaran ulang ini pun adalah jawaban kerinduan terhadap dia plus Teater Mandiri yang cukup lama vakum pentas. TVRI tepat memilih sinetron ini. Karena masih dalam bulan Agustusan, soalnya BMBM juga menyinggung sisi kepahlawanan dan gambaran kemunafikan perjuangan.

Sebenarnya, TVRI (sampai saat itu) sudah dua kali membuat BMBM. Waktu itu disajikan dalam paket hitam putih dengan masa putar 45 menit. Jadi, merupakan tontonan yang ala kadarnya. Dan BMBM yang syutingnya dilakukan di studio, diketengahkan secara penggalan belaka. Produksi BMBM yang kedua, panjangnya 95 menit. Jelas bertata warna.

Syutingnya juga di studio 2 (Senayan, Jakarta-red) dan kelihatan wah. Dibangun rumah Bali model tahun 1950an, lengkap dengan gapura, kurungan ayam serta pohon kelapa. Dedi Setiadi yang bertindak sebagai pengarah acara, serius sekali mengemas paket BMBM ini. Studio 2 yang disulap demikian rupa memang membuat keawlahan Dedi untuk menempatkan kamera.

Ini risiko sendiri. Maka diperoleh akal, yakni dipakailah 3 kamera. 2 kamera ditaruh di sudut-sudut tertentu, sedangkan 1 kamera bergerak leluasa. Maka terasa kerja kamera cekatan, dan Dedi berani menampilkan bingkai semi ‘close up’ maupun ‘long shoot’. Dari sudut teknis, BMBM prima. Kisah BMBM itu sendiri terasa konvensional dibanding dengan karya Putu periode saat 1988 ini.

Jauh perbedaannya. BMBM lakon sederhana, tapi memiliki acuan dramatik yang kuat. Karena itu, BMBM diangkat dalam bentuk sinetron terasa sesuai. Sebagai tontonan keluarga, jelas tidak melenceng. Pemirsa dapat menelaah sisi baik buruknya Gusti Biang, seorang janda yang hidup dalam impian masa lalunya, yang mati-matian mempertahankan martabat kebangsawanannya.

Janda Gusti Biang mempunyai putra yang sekolah di Jawa, namanya Ngurah. Karena Ngurah anak satu-satunya, tentu harapan orangtua terletak pada pundaknya. Gusti Biang mengharapkan Ngurah berhasil. Siapa sangka kuliah Ngurah macet. Pemuda ini lalu balik ke Bali.

Setiba di tanah kelahiran, Ngurah malah ingin menikah dnegan Nyoman. Sang ibu menolak. Alasannya, Nyoman berkastra sudra. Alternatif lain, Ngurah hanya boleh mengawini Nyoman sebagai selir. Dan di balik itu, rupanya Ngurah sudah dijodohkan sejak kecil dengan Sagung Rai. Ada lagi sosok Wayan. Yakni seorang pelayan setia yang meredam cinta kepada Gusti Biang. Sebetulnya sosok Wayan adalah kunci BMBM. Dia tidak sekadar pelayan, tapi “suami”.

“Kami saling mencintai sejak kecil, sampai pun tua bangka. Hanya kesombongan terhadap martabat kebangsawanan menyebabkan Gusti Biang menolakku. Gusti Biang kawin dengan seorang bangsawan, cuma karena kasta. Memang tidak bisa ditinggalkan, sedangkan cinta itu semakin lama semakin mendalam,” rengek Wyaan.

Itulah yang disebut cinta abadi? Wayan pasti membenarkan. Pelayan ini akhirnya membongkar rahasia lama yang menyelimuti diri Gusti Biang. Dan mengungkapkan siapa sesungguhnya suami Gusti Biang dan siapa Ngurah. “Suami Gusti Biang seorang penjilat. Musuh gerilya, dan dia bukan seorang lelaki jantan. Dia seorang ‘wangdu’.

Dia memiliki 15 orang istri, tapi itu hanya untuk menutupi kalau dia seorang ‘wangdu’. Kalau dia harus melakukan tugasnya sebagai seorang suami, ‘tiyang’-lah yang melakukan. Sampai kau lahir, Ngurah,” rintih Wayan. Nafas Bali memang tertampung. Bukan lantaran musiknya yang langsung ditangani I Gusti Kompiang Raka dan penata artistiknya Putu Wijaya dan Susthanto.

BMBM menghembuskan suasana pulau Dewata. Kerjasama Dedi-Putu terasa kompak. Keutuhan semacam itu patut dijaga. Permainan Renny Jayusman, Fria Panji Anom, Edi Djunaedy, termasuk Putu, merupakan bukti nyata. BMBM akhirnya menjadi tontonan yang terkemas rapi.

Putu, 1988, sudah tak berada di negeri orang. Maka tak ada salahnya kerjasama seperti itu layak dibina kembali. Toh, bagaimana juga TVRI harus menggaetnya. Dan gerakan semacam ini seharusnya tak usah mesti menunggu orang lain yang mendorongnya. Bukankah TVRI ingin berminat memproduksi sinetron-sinetron jempolan?

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

Gusti Biang – Renny Djayusman

Sagung Merah Nyoman – Pria Panji Anom

Ngurah – Edi Djunaedy

Wayan – Putu Wijaya

Pengarah acara: Dedi Setiadi

Pendukung laku: Teater Mandiri plus Teater Adinda

Penata musik: I Gusti Kompiang Raka

Penata artistik: Putu Wijaya/Susthanto

Batas usia: 17 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer