BONUS - ACARA UNTUK KELUARGA DI TV JEPANG MENYAJIKAN CARA MEMANCING, SELAIN JUGA UNTUK KELOMPOK JOMPO
DANSA-DANSI. Acara Untuk Keluarga, tayangan TVRI Jakarta,
kendati namanya “untuk keluarga”, secara garis besar, praktis hanya untuk kaum
wanita atau ibu-ibu rumah tangga. Memang, tata rias – macam rias wajah, rambut,
dan tata busana, untuk zaman 80an ini – bukan lagi monopoli kaum hawa. Tapi
kaum pria yang tertarik pada bidang ini, boleh dikata (waktu itu) hanya
segelintir saja.
Begitu juga halnya dengan soal masak-memasak, mengukir buah, merangkai bunga, atau menjahit. Kiranya, jarang ada acara yang khusus diperuntukkan bagi kaum pria. Sesekali memang ada. Misalnya, membuat lemari dapur atau hobi bercocok tanam, dari tanaman berkhasiat sampai menanam dnegan cara hidroponik yang bisa untuk pria maupun wanita.
Di Jepang, NHK, televisi pemerintah, dalam ‘Course on Hobbies
or for Practical Application’ misalnya, untuk keterampilan, menyajikan 3 serial
yang terdiri dari masak-memasak, bercocok tanam atau berkebun, dan keterampilan
kerumahtanggaan. Yang terakhir ini meliputi jahit menjahit, dan keterampilan di
bidang kecantikan.
Serial hobi menyajikan acara yang lebih bervariasi. Tentang memancing, golf, berenang, tenis, dan sebagainya. Ada juga hobi yang berkaitan dengan kesenian, macam kaligrafi, komposisi haiku dan tanka puisi pendek khas Jepang. Ada lagi tentang fotografi, video fotografi, musik pop, dan peljaaran dansa-dansi.
SUAMI-ISTRI. Menurut penelitian yang dilakukan NHK, sekitar
80% orang dewasa (era itu) di Jepang belajar melalui siaran televisi ini. Bisa
dimengerti, pihak NHK lalu memproduksi acara pendidikan seumur hidup ini dengan
sebaik-baiknya dan disajikan secara menarik.
Untuk masak memasak, misalnya. Langkah demi langkah diperlihatkan jelas dengan sudut kamera yang tepat. Ketika pengisi acara menjelaskan sambil memperagakan cara membelah perut ikan, misalnya, disyut dengan ‘close up’. Jadi, jelas terlihat arah celahan dan gerakan tangan.
Dapurnya juga seperti dapur beneran. Dan ibu-ibu yang mengisi acara juga persis seperti memasak benaran. Dandanan ala kadarnya. Rambut tidak disanggul. Tapi tersisir rapi. Kuku tidak bercat menyala. Bibir juga bergincu seadanya, asal tidak tampak pucat di layar TV saja.
Selama masakan dimasak, diselingi dengan acara siaran iklan. Begitu siaran iklan selesai, masakannya sudah matang. Dan si ibu kembali menunjukkan hasil jadinya. Terkadang, masakan itu dicicipi penyiar dan beberapa orang lainnya, entah siapa. Lalu, mereka memberikan komentar tentang masakan itu.
Ada lagi acara yang disebut ‘Programs for the Housewife and
Families in General’ yang disiarkan setiap hari, pukul 08.30 waktu setempat.
Acara ini menyajikan masalah-masalah kerumahtanggaan. Tentang cara merawat
anak, membina hubungan yang baik dan mesra antara anak dan orangtua, hubungan
antara suami-istri.
Untuk kaum jompo (era itu), juga ada acara tersendiri, yang disebut The Sprightly Club, kelompok yang bersemnagat. Siaran pagi yang diulang sore hari ini mengetengahkan keibasaan-kebiasaan kaum jompo (era itu) dalam kehidupannya sehari-hari.
Kaum remaja (era itu) punya acara tersendiri yang disebut You. Dalam acara ini, 100 anak usia belasan sampai 20an (era itu), berkumpul di studio. Berdiskusi dengan orang-orang terkenal tentang musik dan ‘fashion’. Ada lagi acara yang disebut ‘Sunday Art Gallery’, yang disiarkan setiap hari Minggu dari pukul 09.00-10.00. Acara ini khusus membicarkaan seni lukis, klasik maupun modern, dari timur maupun barat.
Dengan demikian, kaum remaja (era itu), selain tahu soal musik dan mode, juga mengerti mengenai aliran-aliran dalam seni lukis. Misalnya, apa yang menonjol dalam satu lukisan, itu dibahas satu per satu.
Kapan TVRI mau menampilkan acara yang beragam seperti ini menurut pembagian usia dalam Acara Untuk Keluarga? Mungkin (perkiraan waktu itu) mulai pola acara siaran terpadu nantinya, yang (kala itu) akan berlaku April 1988? Acara Untuk Keluarga memang benar-benar untuk seluruh keluarga (era itu), dari ibu-bapak, anak-anak (era itu) dan remaja (era itu), sampai kakek-kakek dan nenek-nenek.
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar