BONUS 27 MONITOR - UNYIL (TVRI): "BISA LEBIH BERHASIL, ITU TIDAK MUSTAHIL"

 

PAKDE DIPO. Film seri boneka si Unyil (TVRI), 4 April 1988 (yang saat itu akan) datang genap tujuh tahun. Berarti (sampai saat itu) sudah ada 52 episode X 7 = 364 episode, atau cerita yang ditayangkan tanpa henti. Ini prestasi. Kalau dijumlah penontonnya, barangkali paling banyak dari semua serial yang (sampai saat itu) pernah ada.

Dibandingkan acara lain yang diintrodusir saat pola acara baru tujuh tahun sebelumnya (1981-red), si Unyil tetap paling menonjol. Ia digilai, digandrungi, oleh seluruh lapisan masyarakat. Pernah di saat jayanya daa komik, merek sandal, kaos, buku, tas, baju, makanan, semuanya mendompleng kepopuleran Unyil dengan kawan-kawan dan orang yang (saat itu) sudah tua.

Unyil adalah fenomena keberhasilan. Sebagai karya, sebagai titipan pesan. Fenomena yang berhasil diangkat dari pakde Dipo, nama yang pernah dicantumkan dalam salah satu produksi serial yang lain dari G. Dwijayana, dari belantara gudang di PPFN, dari kemiskinan ide dan keengganan berkarya saat itu.

PPFN memberi jawaban kongkret. Sebuah karya. Dengan sasaran yang tepat di sasaran anak-anak (era itu). Bukan acara musik yang bisa dibisniskan langsung, bukan mengajak artis ayu dan tampan. Tapi, kayu-kayu yang ditiupkan roh ke dalamnya. Bagaimana susahnya, repotnya, tak menghalangi dendang “cis kacang buncis engklek”, setiap Minggu pagi, dan ‘reruns’ Rabu sore.

PAK RADEN. Tujuh tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1981-red), saat kaset video belum mewabah seperti 1988, yang melahirkan Gaban cs, saat antena parabola malu-malu, saat belum ada Dunia Fantasi (Dufan). Tujuh tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor! Berarti, sekurangnya satu generasi sekolah dasar (SD), menyertai dan mengenali, dan menimba dari idiom Unyil, atau sering lewat suara pak Raden.

Tujuh tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1981-red). Perubahan banyak terjadi. Bukan karena harga minyak naik turun, bukan karena matematika bisa berganti, atau menteri atau peraturan, tetapi dunia hiburan sudah berbeda jauh.

Unyil perlu semangat baru. Perlu pendekatan baru. Seperti yang dilakukan oleh BBC yang mendapat suntikan dana baru (wkaut itu) – dan cukup besar untuk acara Children Hour, setelah lima tahun dan dianggap “proporsinya terlalu laus” dan menguatirkan. Rutinitas memang melelahkan dan menghabiskan semangat.

Tapi, acara yang beken seperti The Muppet Show (di Indonesia tayang di TVRI-red), Sesame Street (di Indonesia tayang di RCTI-red), Fraggle Rock (di Indonesia tayang di TVRI-red) pun juga diberi suntikan baru (waktu itu). Yang terakhir ini bukan dana. Karena didukung oleh usaha iklan tertentu, dan produknya dijual ke seluruh dunia.

Jim Henson, (waktu itu) 51 tahun, cikal bakal pencipta Muppet, tak akan berarti banyak tanpa menemukan Frank Oz. Dan (belakangan itu) mendirikan HAI (‘Henson Associates’), yang menampung tenaga-tenaga muda (era itu), ide-ide baru (waktu itu), baik cerita maupun tekniknya.

Hasilnya, produk rutin seperti Muppet, Sesame, Fraggle, terjaga di samping muncul ke dunia layar putih. Tenaga inti untuk urusan ide saja mempekerjakan 150 orang. Yang berarti 50 kali lebih banyak dari pemikir semula, yang hanya Henson, Jane, dan Oz.  

PAKET. Apa yang bisa dihidupkan kembali dari Unyil? Pertama, sejumlah gagasan. Mungkin (perkiraan waktu itu) dimasukkan tokoh baru. Atau kisah Unyil ke Jakarta, atau Yogya, atau mana saja di wilayah republik. Ini (waktu itu) akan mengakibatkan perubahan jumlah boneka, lokasi yang berbeda dan berkembang jauh. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan mengalirnya gagasan dan alur cerita baru.

Kedua, bersamaan dengan itu, dibuatkan semacam paket khusus, misalnya untuk masa siar satu jam. Semacam ‘celebrity’ pada hari khusus seperti hari libur, atau 17 Agustus, atau kalau kebetulan ada tema yang pas.

Bahkan utnuk mendukung gagasan kembali jaya si Unyil dibutuhkan pemikiran, sedikit pun penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) tak ragu. Karena pakde Dipo, lihai mengumpulkan bahkan seniman-seniman yang, biasalah itu, besar ego dan kemauannya. Bahkan untuk mendukung gagasna itu diperlukan juga biaya, penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) juga tak ragu. Bagaimana caranya, penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto0 tak tahu. Perlu masuk APBN?

Kenapa nggak, kalau idiom Unyil sudah bicara, dan kita percaya pendidikan sangat berperan bagi anak-anak?

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer