BLANTIKA MUSIK MEDAN MEMBUKTIKAN BUKAN SEBAGAI PAKET IKLAN. TV MALAYSIA DAN THAILAND SEBAGAI SAINGAN

JEMPOL. Banyak pemirsa mengakui, dalam urusan hiburan, musik khususnya, TVRI Stasiun Medan pantas diberi acungan jempol, termasuk paket Wajah Baru

INI MEDAN, BUNG! Orang Medan selayaknya bangga dnegan pengarah acara Albert T. You Min, orang di balik layar. Begitu Anda melihat paket Blantika Musik yang ditayangkan setiap Minggu ketiga, paket 22.30 WIB, seusai Berita Terakhir, kita seper tak percaya bahwa You Min yang membesutnya.

BM adalah salah satu paket musik yang tergolong memiliki nilai lebih jika dibanding dengan paket musik lainnya. Ini memang bukan pernyataan mengada-ada. Tapi begitulah faktanya, bahwa BM mampu menandingi paket musik dari siaran televiis negara tetangga – terutama TV3 Malaysia, bahkan Thailand.

Dalam hal produksi, TVRI Medan bisa dikata produktif menghasilkan acara musik plus hiburan. Kalau dihitung jumlahnya, ada 10 paket, mulai dari paket Wajah Baru yang ditayangkan setiap seminggu sekali sampai acara Irama Jazz yang jatahnya 3 bulan sekali. Toh, bagaimanapun, You Min, lewat BM, telah memberikan suatu kesegaran. Kesegaran itulah yang diinginkan pemirsa Medan, sehingga tak segan-segan lagi menoleh kepada produksi sendiri.

“Sejelek-jeleknya TVRI Medan, ya seharusnya kita mesti menontonnya, kok. Terus terang, siaran dari negeri tetangga itu saingan. Makanya saya mencoba berusaha untuk lebih baik, meskipun sekarang (1988-red) ini saya sebetulnya sudah bosan menggarap BM. Sekian tahun saya menangani paket itu, dan kini (1988-red) rasanya saya ingin sesuatu yang baru.

Untunglah ada beberapa rekan yang menggantikan saya. Saya mesti menciptakan kader-kader, orang-orang yang kreatif. Untuk musik sudah saya ciptakan, tapi untuk televisi, tampaknya belum,” ujar You Min bersemangat (waktu itu).

 

DAMBA. You Min mendambakan suasana baru, karena (saat itu) sudah dihinggapi rasa bosan 

INI MUSIK POP, BUNG! Masuk sebagai karyawan TVRI Medan tahun 1975, You Min langsung terjun di bidang musik. Sebenarnya, dunia musik tak asing lagi baginya. Ia adalah musikus. Jadi, klop. Lumrah sekali kalau dalam menangani paket musik ia bekerja seserius mungkin. Dalam pengertian yang lebih jauh, You Min tidak sekadar merekam penyanyi yang bergoyang atau berlenggak-lenggok. Tapi mengurusi hal-hal kecil, bahkan sampai soal dekor.

“Sengaja saya ciptakan dialog. Tentu masalah keterbukaan serta kejujuran kami pegang. Itu kuncinya. Kerjasama antar kru kami jaga. Oleh atasan, saya diberi kebebasan. Sebaliknya, saya memberi kebebasan pula kepada rekan-rekan.”

Kebebasan, keterbukaan serta kejujuran yang menjadi kunci utama You Min. Untuk itu, paket BM sepenuhnya berada di tangannya. You Min-lah yang menentuka nlagu-lagu apa saja yang harus dihidangkan, juga memilih siapa-siapa yang tampil.

Tentu masalah tersebut bukan berarti tidak ada dampratan, justru sebaliknya. Kritik-kritik pedas atau caci-maki sudah tidak terhitung berapa kali ia tanggung. “Saya selalu dituding bahwa Blantika Musik itu paket iklan. Sponsor. Itu tuduhan yang keliru. Demikian juga orang-orang cepat memberikan vonis orang-orang cepat memberikan vonis bahwa penyanyi yang tmamapil pun yang itu-itu juga. Semua dakwaan itu nggak tepat.”

You Min mengaku, dalam memilih lagu, tak asal comot saja. Ia mencari informasi sebanyak mungkin. Dari membaca surat kabar yang memuat tangga lagu-lagu, mendnegarkan radio, masuk toko kaset, nonton acara televisi (TVRI-red) Aneka Ria Safari.

“Ya, macam-macamlah. Saya nggak seenaknya memilih. Bagi saya, banyak patokan yang saya pakai. Kalau ada lagu baru seperti Antara Anyer dan Jakarta (karya Oddie Agam-red) masak nggak saya ketengahkan? Nah, kalau mengetengahkan lagu-lagu lama, ya itu ada paketnya sendiri, khan?”

Lantas, mengenai penyanyi, You Min memberikan alasan, “Berapa banyak sih penyanyi Medan ini? Penyanyi di sini bisa dihitung dengan jari.” Dn You Min pun nggak mengelak bahwa penyanyi Medan sangat potensial. “Buktinya, banyak penyanyi nasional yang top berasal dari Medan.”

Beberapa paket BM, memang memperlihatkan kalau penyanyi Medan memiliki kekuatan. Nah, demikian juga mutu sajian BM. Aduh, mak, sangat pantas diberi acungan jempol. Yang muncul dalam BM tidak cuma rentetan gambar penyanyi tarik suara lalu disambung-sambung, namun ada nuansa.

Nuansa ini bisa diartikan bahwa You Min menerjemahkan sebuah lagu tidak secara harafiah. Sebaliknya, ia mewujudkannya dalam bentuk visual yang kongkret. “Lagu-lagu yang saya munculkan, liriknya saya pelajari betul-betul. Begitu saya sanggup meresapi, menghayati, baru saya bikin perencanaan dengan berbagai rekan. Begini dekor yang saya kehendaki. Nah, orang ‘art’ itulah yang terus bekerja.”

Dan jangan heran kalau – (harapan waktu itu) mudah-mudahan pemirsa Jakarta suatu ketika bisa menyaksikan – ada burung kakaktua nyelonong ke studio mendampingi penyanyi mendendnagkan lagunya. Atau ikan asin yang bergelantungan sebagai dekor. Dan itu begitu artistik.

INI IMITASI, BUNG! Dengan suguhan semacam itu jelas dibutuhkan kerja ekstra. Perinciannya memerlukan waktu 2 minggu. Sebagai contoh, paket ke-56 ini, mulai syuting tanggal 9 Desember 1987 di suatu diskotek di danau Toba, selama seminggu. Ditambah lagi syuting di dalam studio 3 hari untuk 3 penyanyi. Praktis waktu 10 hari itu untuk syuting saja, sedang untuk isi suara, ‘editing’, dalam kerja maraton membutuhkan waktu 7 hari.

“Saya tak bisa kerja cepat. Untuk paket Blantika Musik ini minimum 16 hari. Itulah untuk saat ini (1988-red) saya cuma pegang satu paket itu saja. Kalau dulu (sebelum 1988-red) saya bisa pegang beberapa paket musik sekaligus. Saya sudah penat. Saya telah menghadapi titik jenuh. Saya ingin hal yang baru.”

Dan mungkin karena ia merasa jenuh, maka untuk paket BM ke-56 ia cuma mengerjakan tiga lagu – itu pun di studio. “Yang syuting di luar, itu digarap Maniur Simatupang. Hasilnya juga bagus.” Lantas, ketika ditanyai kesannya selama You Min menggarap BM, ia mengangkat bahu. “Sebenarnya ini paket imitasi. Bayangkan mereka itu, para penyanyi, menyanyikan lagu milik penyanyi lain.

Jadi kalau penyanyi menyuarakan lagunya Vina (Panduwinata-red), tentu saja suaranya harus kayak Vina juga. Meski ada pula yang saya coba ketengahkan dengan aransemen yang berbeda. Terus terang, saya ingin menampilkan penyanyi aslinya. Tapi apa boleh buat, untuk mendatangkan artis dari Jakarta butuh biaya tidak sedikit.” Yang penting, harus dicari lagi “You Min baru”, biar ia tidak sendirian. Ini Medan, bung!

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi (dari Medan)

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer