BERKAS TEMPO DULU: "GARA-GARA BONGKAR KUBURAN, BELANDA DISERBU" (BERKAS TEMPO DULU, FILM CERITA AKHIR PEKAN/TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 17 MARET 1990 Pkl: 22.30 WIB)

ARAH JARUM: Salmah, Opsir Blume, Sakri, dan Siti 

KARENA kehabisan sinetron, TVRI menyiarkan sinetron ulangan Berkas Tempo Dulu. Sinetron ini diproduksi pada tahun 1982. Alasan bapersi drama bisa diterima, karena pada minggu kedua ini, sebetulnya jatah Direktorat Film. “Seperti biasanya, kalau film nasional tidak ada. Kita inilah yang nalangi,” jelas Ananto Widodo.

Berkas Tempo Dulu menceritakan perjuangan rakyat Indonesia yang berada di Betaiw, dalam melawan penjajah Belanda. Seorang tokoh pejuang bernama Bakri, dibunuh oleh bek Hasan. Tentu saja, pembunuhan Bakri oleh bek Hasan ini atas perintah Belanda. Sebab Bakri serin gmerongrong kekuasaan Belanda.

Keberanian Bakri ini takut dicontoh penduduk lainnya. Maka Belanda harus bikin mampus Bakri, sebelum semangat melawan Belanda ditiru lainnya. Kematian Bakri membuat penduduk kehilangan tokoh yang berani.

Setelah kematian Bakri, maka Belanda akan leluasa mengerjai penduduk yang sudah tidak berdaya itu. Tak heran, bila opsir Blume memerintahkan bek Hasan, mengerjakan penduduk di perkebunan. Tapi bek Hasan menolak perintah opsir Blume itu. “Saya ini hanya tukang berkelahi. Kalau menyuruh penduduk bekerja di perkebunan, saya tidak bisa,” jelas bek Hasan.

Opsir Blume merasa bingung dengan sikap bek Hasan ini. Walaupun dibujuk begini-begitu, bek Hasan tetap pada pendiriannya. Maka, bek Hasan pun cuci tangan, dnegan rencana Belanda itu. Tapi opsir Blume tidak patah semangat. Ia mencari tokoh yang lebih berpengaruh daripada bek Hasan, untuk mengajak penduduk bekerja di perkebunan. Sasaran opsir Blume berbelok kepada kyai Abdullah.

Penduduk merasa ketakutan bila kyai Abdullah akan dijebak, seperti Bakri. Tapi, kyai Abdullah dengan halus, menolak permintaan opsir Blume itu. Dengan penolakan kyai Abdullah itu penduduk merasa ketakutan bila Belanda melakukan kekerasan. Tapi untungnya, dalam keresahan penduduk terhadap kekejaman Belanda itu, muncul Rausin dan Sakri. Sakri adalah kakak kandung Basri.

Maka, sebelum Belanda dan antek-anteknya melkaukan kekerasan terhadap penduduk, Sakri menyamar sebagai arwahnya Bakri. Karena wajah Bakri dan Sakri seperti pinang dbielah dua. Awal praktek ide penyamaran arwah ini dicobakan pada bek Hasan.

Bek Hasan merasa ketakutan melihat tampang Bakri. Bek Hasan pasrah seandainya Bakri membunuhnya. Tapi di luar dugaan, kedatangan Bakri tidak untuk balas dendam. Tapi Bakri berpesan, supaya bek Hasan membela penduduk yang sengsara. Bek Hasan senang sekali dengan sikap Bakri itu.

Maka menyebarlah pada seluruh penduduk Betaiw, bahwa arwah Bakri gentayangan lagi, untuk membalas dendam pada Belanda. Antek-antek Belanda tidak berani berbuat lebih jauh terhadap penduduk. Penduduk pun semakin berani melawan Belanda.

Tentu saja kasus arwah Bakri membua jengkel opsir Blume. Opsir Blume tidak percaya, bila orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Maka ia memerintahkan anak buahnya untuk membongkar kuburan Bakri. Perbuatan Belanda ini dinilai penduduk sangat kejam sekali. Maka penduduk secara emosional memboenrtak pada Bleanda.

Bek Hasan, yang pernah mendapat pesan dari “Bakri”, berbalik membela penduduk. Maka penduduk pun bersemangat melawan Belanda. Tentu saja, yang paling kebingungan, bila kuburan Bakri akan dibongkar adalah Rausin dan Sakri. Sebab, kedoknya Sakri akan ketahuan Belanda. Maka Sakri dan Rausin harus menggagalkan rencana Belanda.

Sinetron perjuangan semacam Bekras Tempo Dulu ini diwarnai dengan dialek Betawi. Tentu harapan kita, tidak sampai terjebak pada gaya lenong. Walaupun dalam skenario hanya beberapa persen saja muncul banyolan ala Betawi.

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

BERKAS TEMPO DULU

Kyai Abdullah – Nazar Amir

Sakri – Eddy Riwanto

Bek Hasan – Amin Fauzi

Thalib – Amin Affandi

Opsir Blume – Piet Pagau

Salmah – Wieke Widowati

Siti – Yulinar Firdaus

Penulis skenario: Herman Safantha

Pengarah acara: Afyudin

Produksi: TVRI Stasiun Pusat

Dok. Monitor – No. 193/IV/Minggu, 18 Maret 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer