BARUNA TAK JELAS DITAYANGKAN ATAU TIDAK. KAPTEN PONCO MINTA CUTI 2 BULAN (TVRI - RABU, 27 JULI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
SERIAL kelima Ibunda Tercinta, seri Baruna, kali ini tidak
jelas (waktu itu) akan jadi ditayangkan atau tidak. Ada isu seri ini (waktu
itu) akan ditarik dari peredaran. Konon, TVRI sendiri sudah risih untuk terus
memutarnya. Sampai orang dalam TVRI menyebut Baruna sebagai “lebih jelek dari
fragmen produksi TVRI.”
Entah karena apa, kisah khusus kapten Ponco ini masih saja berlanjut diputar. Padahal, yang paling kuat berperan dalam drama seri ini, selain sang kapten, juga sponsor yang muncul tanpa malu-malu – tanpa ada kesinambungan dengan alur dunia kapal ferry Merak-Bakauheni. Atau sponsor ini yang kuat? Jawabnya, ada di TVRI.
Yang jelas, kemungkinan besar (perkiraan waktu itu) drama sinetron Ceria Bunga Bangsa, yang mestinya ditayangkan Sabtu, 23 Juli 1988, (waktu itu) bakal menggantikannya. Waktu yang mepet untuk syuting dan penyelesaian, penyebab dari segala-galanya.
Konon, beberapa teknisi juga pesimis Ceria bisa ditayangkan pada tanggal 27 Juli 1988 nantinya. Penuhnya materi di ruang ‘editing’ dan (waktu itu) belum siapnya musik ilustrasi, bisa jadi (perkiraan waktu itu) membuat Ceria tertunda lagi. Padahal ini drama yang khusus dibuat untuk menyambut Hari Anak-Anak Nasional.
Maka kemungkinan lain yang bisa terjadi (perkiraan waktu itu) adalah Ceria mulur lagi dan muncul sebagai film akhir pekan, 30 Juli 1988 (yang saat itu akan) datang, dan Baruna yang sudah jadi stok, nongol sesuai dengan jadwal. Kalau betul dmeikian akhirnya, maka begini ceritanya.
KELUAR, BUYAR. Kapten Ponco semakin “bernafsu” bertemu dengan ibu tercinta. Ia sudah tidak betah mondar-mandir di tengah kapal menunggu manusia lain lagi yang datang. Ia sekarang mau mendatangi ibunya. Ia minta cuti dua bulan! Pasti, hal ini jadi persoalan. Mana ada kapten kapal model beginian? Tapi, dasar cinta, Ponco tidak perduli lagi. Malah saling nekadnya, ia mau keluar dari jabatan kapten kapal.
Ia benar-benar keluar dari kapalnya. Berburu ibunya. Ketemu rumah kosnya. Tapi sang ibu sudah tidak ada, sudah pulang ke pulau Bangka. Ponco semakin percaya bahwa inilah ibu aslinya. Ia tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya berasal dari Bangka dan Solo.
Ke sana ia pergi, dan ketemu. Dialah ibu penjual salak yang sering berjualan di kapal Baruna. Yang setiap hari ketemu dengan kapten Ponco. Ponco memeluk ibunya yang sakit keras. Tapi sang ibu akhirnya menolak Ponco. Dia tak dianggap anak lantaran Ponco, anak kandungnya, ternyata dibesarkan oleh Belanda yang membunuh suaminya dan memperkosa adiknya, Warsih.
Apa yang dilakukan Ponco? Minggu depannya masih ada lanjutannya. Stok serial Ibunda Tercinta (waktu itu) sudah jadi semua. Cuma tinggal kebijaksanaan TVRI untuk meneruskannya, atau tidak. Apa masih harus banyak berpikir-pikir terus?
Ditulis oleh: Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar