BALKI MEMENTINGKAN KARIR. ITU SEBABNYA MIKIR, KALAU MAU KENCAN SERIUS (PERFECT STRANGERS, TVRI - SETIAP SENIN Pkl: 20.00 WIB)

 
BALKI berasal dari desa Mypos. Ia mengadu nasib ke Amerika: “Negeri impian, rumah para pendusta.” Di Chicago, ia satu kamar dengan saudara jauh, Larry, di atas toko di mana mereka berdua nyambi bekerja. Cita-cita Larry jadi wartawan foto, tapi selalu gagal. Balki tak kuatir. “Saya profesional, tak sulit menemukan pekerjaan. Kemampuan saya diakui.” Pekerjaan apa? “Penggembala domba.”

Gerr, tergali dari sumbernya, kalau dibayangkan siapa yang membutuhkan gembala dan memelihara di kota bandit kelas satu? Bronson Pichot, pas memerankan itu. Aksen suaranya yang kampungan dan tidak Inggris, terlihat dalam film yang sukses Beverly Hills Cop yang dibintangi Eddy Murphy. Ia cuma kebagian 20 kalimat, tapi aksen yang aneh di telinga pendengar mulai menarik perhatian. Di antaranya Pauline Kael, seorang kritikus film kesohor.

Kael menuliskan, bahwa untuk adegan kecil itu, sebagai “mampu menimbulkan irama yang berbeda dengan yang diperlihatkan Murphy. Bahkan untuk adegan sekecil itu, perhatian kita tercuri olehnya.” Itu nasib baik. Tom Miller, produser yang lagi mencari peran langsung melayangkan surat. Jadilah ia dalam seri Perfect Strangers (di Indonesia diputar TVRI-red), berpasangan dengan Mark Linn-Baker, yang telah punya nama sebagai komedian.

Apa komentar Bronson, tentang perubahan nasib ini? “Sekarang (1988-red), kalau saya turun dari apartemen, selalu ada yang menemui, mengikuti, minta tanda tangan, dan memotret.” Sebelumnya, ia tak begitu dikenal, meskipun telah tampil dalam seri Saga, cuma pelengkap bersama tiga pemeran yang lain. “Di sana saya tak boleh melucu, takut menyaingi bintang yang ada.”


BUJANG. Bronson yang lahir 20 Mei 1959, (aii, waktu itu – masih muda), sampai 1988 masih membujang. “Dulu (jauh sebelum 1988-red), saya kalau pacaran bisa setahun. Sekarang (1988-red) paling lama tiga minggu. Terus terang, saya mengikuti karir. Dan pacar saya, kalau bisa dikatakan begitu, tak bisa mengerti.” Berarti harus sesama artis yang bisa mengerti dunianya?

“Susah. Dulu (jauh sebelum 1988-red) saya menginginkan artis tenar, tapi mereka ogah karena saya tak tenar. Sekarang (1988-red) saya juga ogah sama artis yang masih merangkak.” Ada sombongnya dikit, tapi jujur. Ini pula pribadinya sehari-hari. Ia tak malu mengakui bahwa gaya itu ditiru dari Latka, yang diperankan Andy Kauffman dalam Taxi (di Indonesia kemudian diputar RCTI-red).

Meskipun ia punya alasan lain. “Ada penata rias dari Israel. Ia cantik, menarik, tapi bahasa Inggrisnya kacau. Saya menirukan. Dan akhirnya keterusan. Saya memang pintar menirukan aksen tertentu.” Kepolosan ini yang antar alain membuat seri ini diteruskan. Ketika sedang dibuat, sebagai contoh memang hanya 6 episode. Saat rekaman terakhir (kala itu), Mark kembali ke New York. Bronson menangis. “Kenapa tidak diteruskan?”

Produser jadi kaget. Apa anak ini tidak mengerti? “Akan diteruskan kalau nanti dimaui penonton.”

“Apa disukai?”

“Di Amerika ini banyak orang yang ngomongnya seperti saya. Draipada biayanya banyak, sekarang (1988-red) bisa langsung dibuat 7 episode lagi.” Ini berarti 13 episode, yang berarti sudah berani bertarung melawan semua seri baru (era itu) yang ditayangkan mulai September – saat itu, dua tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1986-red).

Entah kenapa, Brandon Stoddart, pimpinan bagian hiburan dari ABC, mengangguk. “Asal bisa dikebut pembuatannya.” Nyatanya bisa. Dan usul jujur, tampak konyol, tak bisa dibedakan datang dari Balki atau dari Bronson. Sudah sejiwa rupanya.

 

BABYLON. Bronson Pinchot dan Mark Linn-Baker 

BULAT. Bronson Alcott Pinchot, punya latar belakang bahasa “rusak”. Ayahnya berasal dari Rusia, ibunya dari Italia. Ia memilih jurusan teater di Pasadena, tempat Mark juga studi. Cuma mereka tak pernah ketemu di situ. Lalu menjajal nasib di New York, terkatung-katung, sampai kemudian dapat jatah 20 kalimat dalam film, dan dilirik oleh kritikus. Nasib baik?

Bisa jadi. Tapi itu tak banyak mengubah hidupnya. Duitnya dihabiskan sebagian untuk kamar tidurnya yang bulat bergaya Skandinavia, seperti juga kursi dan perabot lain. Sebagai remaja kaya (era itu), ia jauh dari pesta, jauh dari hura-hura, tempat kampungan untuk ukuran sana. Bahkan mejanya sangat besar. “Cukup untuk 10 orang. Saya rencanakan kalau punya anak tak lebih dari 8. Hingga semuanya tertampung.” Humor khas dan tawa yang khas, yang ‘ridiculous’.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

PERFECT STRANGERS

Pemeran tetap:

Bronson Pichot… Balki Bartokomous

Mark Linn-Baker… Larry Appleton

Ernie Sabella… Mr. Twincaketti, pemilik toko

Lise Cutter…. Susan, perawat merangkap pacar Larry, tinggal di apartemen yang sama

Thomas Miller

Robert L. Boyett

Dale Mc Raven…. Kreator cerita dan produser pelaksana

‘The song’: Nothing’s Gonna Stop Me Now, ciptaan Jesse Frederick dan Bennett Salvay, dinyanyikan David Pomeranz.

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer