BAHASA INDONESIA BAGI TITIK HAMZAH, CINTA ITU TUHAN (PEMBINAAN BAHASA INDONESIA, TVRI - SELASA, 12 JANUARI 1988 Pkl: 20.30 WIB)
KETIKA Titik Hamzah berumur 8 tahun, seorang gurunya
berkata, nanti akan ada pujangga. Dan dia adalah Titik Hamzah. Watku itu Titik
sudah menunjukkan bakat di bidan bahasa, mata pelajaran yang paling disukainya.
Selain membaca majalah anak-anak, ia sudah melahap buku-buku sastra macam Siti
Nurbaya.
Bakatnya di bidang bahasa, ditunjang minatnya yang besar terhadap kehidupan di sekelilingnya, ditambah lagi dengan bakat musiknya, membuat Titik asnggup menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar. Dan syairnya tidak asbun, asal bunyi.
Dalam mencipta lirik lagu, Titik menggunakan kata-kata yang tidak lazim atau tidak umum. Tapi tetap ada dalam khazanah bahasa Indonesia. Sebagai contoh, malam terbuka layarmu. Dering hati yang kutunggu. Padahal belum pernah kita menggunakan kata dering untuk hati. Atau di antara jalan licin membentang, mengalir kasih kita, sebagaimana gegas air. Padahal selama itu, kata gegas dipadukan dengan langkah. Langkah yang bergegas.
Titik yang memandang kehidupan ini dengan serius, tapi bisa menikmati hidup, punya alasan tersendiri tentang penggunaan kata-kata ini. “Kalimat tidak harus panjang-panjang. Misalnya, kekasih, engkau adalah jembatan hidupku. Judulnya bisa, “jembatan”. Itu saja. Kayak lagu saya, Kembara Di Tepi Senja. Saya potong jadi kembara. Saya bisa bilang pengembara. Tapi saya mau lain.
Saya ingin orang tidak sekadar, nih pisang, gua kupasin. Makan! Untuk mengenal sesuatu, tidak boleh dari kulitnya saja. Dia harus mendalami.” Titik memang berbakat luar biasa dalam menemukan kata-kata unik.
Dari sepenggal sajak Rendra misalnya bisa diubahnya menjadi sajak lain. Aslinya, “Wahai dik Narti, aku mencintaimu. Aku meujamu. Kelamnya malam di dinding kamar, menjadi hangat oleh cintamu.” Oleh Titik diubah menjadi, “Malam kelam kekasih. Putih dinding kamarku. Warnakan merahnya gairahku. Senyummu yang dambakan cinta, biar kupagut dalam rinduku. Aku memujamu, kekasih.”
Lirik lagunya yang puitis, tapi tidak cengeng, juga terasa hangat dan menggugah. Pun kalau itu ditujukan kepada Tuhan. Seperti lagu Selamat Malam Tuhan, yang dinyanyikan Chicha Koeswoyo. “Bersujud aku ke hadapMu, Tuhan. Bersyukur aku atas rahmat Tuhan. Selamat malam Tuhan. Selamat malam ayah bundaku tersayang.”
Untuk orang tertentu, lagu yang seakan berdialog dengan Tuhan ini bisa jadi semacam doa malam. “Tuhan, hari sudah malam. Saya mau tidur. Syukur atas semua rahmat yang Kau berikan kepadaku.”
Bagi Titik, Tuhan adalah cinta. Dia tidak tampak, tapi terasa. Dia memberikan segalanya dan dengan kasihNya, kita bisa menikmati hidup. “Kalaupun kita bersalah, dia tidak bertindak sebagai polisi menghadapi terdakwa. Tapi sebagai Maha Nabi kepada orang yang tersiksa. Betul, itu preasaan saya yang setulus-tulusnya terhadap Tuhan.” Lalu, cinta itu apa?
Menurut Titik yang awet muda, yang katanya, di siang hari umurnya 39, tapi kalau malam 20, cinta itu bersifat universal. Cinta itu emosi yang berbicara. Cinta itu indah. Tapi buat seniman, sukar memeliharanya. Karena seniman membutuhkan inspirasi. Seniman sukar dengan keterikatan. Kalau jiwa seniman dimiliki, jiwanya mati dan dia tidak bisa berkarya lagi. “Rindu itu khan tidak harus bertemu. Cinta juga tidak harus bersatu. Sekalipun tersiksa, akhirnya kita bisa menikmati dilema.”
Titik yang pandai berbicara, gemar brecanda dan bersikap terbuka, melalui contoh-contoh yang dikemukakan, seakan mau berkata, dalam cinta, kebahagiaan dan penderitaan bersatu. Lebur menjadi kehidupan, dan cinta itulah yang menciptakan kehidupan.
Pengagum syair-syair klasik, antara lain karya Kahlil Gibran ini, selalu berhati-hati dalam memilih kata-kata. Setiap kata harus merupakan satu ekspresi dan memerlukan penyerahan total. Maka, ia bisa mengungkapkan sayang atau patah hati dengan penuh tanggung jawab, seperti syair lagunya. “Pandanglah sekali lagi diriku, sebelum orang lain mengisi hidupmu. Peluklah erat sekali diriku, sebelum orang lain menjadi gantiku.”
Untuk semua ini tak ada kata lain yang tepat, selain salut untuk Titik Hamzah. Dan berbahagialah Titik Hamzah, yang berbahagia, boleh menjadi Titik Hamzah.
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar