BAGAIMANA KABAR PUAN? DI SINI RADIO MARA. BUKAN RTM....




MALAYSIA mempunyai RTM, Indonesia mempunyai TVRI. Dua-duanya milik pemerintah. Dua-duanya mempunyai tempat yang berlainan, dipisahkan darat dan lautan, tapi dua-duanya saling tukar informasi, namanya Titian Muhibah. Begitu pula dengan RRI, terjalin hubungan dengan RTM, dan diberi nama Salam Muhibah. Informasi ini dapat dinikmati masyarakat Indonesia dan Malaysia, meskipun sulit dicari gelombangnya untuk acara ini.


Lain lagi di Bandung, sebuah radio swasta niaga, Mara namanya, menyiarkan acara tentang Malaysia, judulnya Malaysia Selayang Pandang. Penyiarnya pun pelajar-pelajar (era itu) atau mahasiswa Malaysia (era itu) yang belajar di Bandung. “Itu memang program kami, yang bekerjasama dengan radio Mara,” kata Rusli, ketua penyiaran acara itu, yang juga (waktu itu) mahasiswa IKIP Bandung, asal Johor, Malaysia.

Di sini lebih banyak mahasiswa tugas belajar (era itu) dibandingkan dengan pekerja-pekerja Malaysia yang (waktu itu) bekerja di Bandung. Malaysia Selayang Pandang disiarkan setiap Kamis, pukul 18.00-20.00 WIB.

Pelbagai aspek kehidupan Malaysia, baik itu berita-berita hangat tentang Malaysia, musik, kesenian, bahkan pula mengenai resep-resep masakan Malaysia, bisa diikuti. “Paling tidak, dapat mengobati kerinduan tentang Malaysia,” katanya. Bagi masyarakat pendengar radio Mara, mereka dapat mendengarkan sekaligus dua bahasa, bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Ada 7 penyiar dari pelbagai perguruan tinggi di Bandung. Toh, tak sembarang mahasiswa Malaysia (era itu) dapat siaran di sini, kecuali sebagai bintang tamu yang diundang. Misalnya, seorang mahasiwa Malaysia (era itu) yang (waktu itu) baru tiba dan belajar di Bandung.

Untuk informasi tentang Malaysia, mereka mempunayi asrama, di jalan Sulanjana. Di sini inormasi terkumpul, ada berita-berita teleks dari Malaysia, ada koran Malaysia, dan buku-buku mengenai Malaysia. Karenanya, untuk siaran, mereka tidak banyak mengalami kesukaran. Seperti dikatakan Rosid, mahasiswa asal Johor (era itu), yang kuliah di IAIN Bandung, “Meskipun saya tidak ikut siaran, tapi saya tahu acara-acara yang disampaikan rekan saya itu.”

Ditulis oleh: Dharono Trisawego

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer