AWAS, BANYAK IKLAN DAN LEMPARAN DI PANGGUNG GEMBIRA (PANGGUNG GEMBIRA, RRI/TVRI - JUMAT, 29 JULI 1988 Pkl: 21.00 WIB)
SEPERTI biasa, Panggung Gembira tak digarap di studio,
melainkan di panggung terbuka dan pindah-pindah kota. Kali ini, Cirebon yang
kebagian. Tanggal 22 Juli 1988, malam Sabtu, Gedung Olahraga Sunyaragi di Jalan
By Pass dijejali lebih 6.000 penonton. Maklum, gratis. Meski saking penuhnya,
ada pula yang coba menarik bayaran.
Ada yang menarik, yaitu usaha memboyong beberapa artis kenamaan ibukota yang berkampung halaman Cirebon. “Ini salah satu rintisan baru. Kalau kita bikin Panggung di satu daerah, kita siapkan pengisinya harus ada yang berasal dari daerah setempat,” tutur Wiermeyn, produser acara kerjasama RRI dan TVRI ini.
Kali ini ada 3 nama yang tak bisa lepas dari nama Cirebon: Grace Simon, Nani Sugianto, dan Dewi Yull. Ditambah lagi artis lokal, pakar tarling, Abdul Adjib dan grupnya. Lantas nama lain ikutan, Yusnia, Harry Mukti, Bangkit Sanjaya, grup Cantora Paramitha, Rudy Anand, dan Family Group dari Bumiayu. Sedangkan pengiringnya, Jimmie Manoppo Band.
Kalau saja ‘soundsystem’ yang digunakan dalam kondisi memadai, Panggung kali ini cukup apik. Corak lagu dari mulai pop, rock, hingga dangdut ada. Bahkan Harry Mukti yang terkenal sebagai penyanyi rock menyempatkan diri menjadi pasangan Nani Sugianto menyanyikan Hati Yang Luka (karya Obbie Messakh-red).
Dan tentu saja sebagai lagu penutup disesuaikan dengan lagu yang akrab dengan penonton Cirebon, rame-rame menyanyikan Warung Pojok. Justru ketika bawa lagu ini, para artis benar-benar serius. Tiga vokalis, Grace, Nani, dan Dewi Yull menyanyikan lagu itu dengan corak suara yang sesungguhnya. Cengkok yang pas dan lengkingan memadai.
Apalagi Cantora Paramitha serta Kharisma alias Geronimo XV pimpinan Anton Issoedibyo mampu mengubah vokal latar ke arah pop dengan pembagian suara yang matang.
BAGI, BATIK. Jangankan cuma kehadiran artis. Munculnya Sri
Maryati sebagai pembawa acara juga membikin penonton bertepuk riuh. Paling tidak,
mereka bisa melihat langsung pembawa acara Safari yang sebelumnya hanya mereka
lihat di laya kaca.
Ini memang kerja yang melelahkan bagi kru TV. Acara yang hampir 3 jam itu harus dibagi lagi, diedit untuk paket berdurasi di bawah 1 jam. Dengan materi, lagu, dan lawakan dari Batik Grup. Tukang banyol yang terdiri dari Bauski, Timbul, dan kadir ini, juga harus beprikir banyak ketika mau naik ke pentas. Selain menghibur penonton di tempat, juga harus berpikir penampilan di depan kamera. Soalnya semua serba ‘live’.
Panggung Gembira adalah satu-satunya acara TVRI yang juga selalu disiarkan langsung RRI. Tapi, penggarapan lebih banyak ditangani pihak TV. Dan 1988, Wiermeyn jadi penjaga gawang. Kalau selama itu dia bertindak sebagai pengarah acara, 1988 lain. Posisinya yang (waktu itu) baru adalah kepala sub seksi perencana acara pertunjukan dan hiburan TVRI Jakarta.
“Saya malah punya keinginan tak cuma Panggung Gembira yang dibikin jadi paket. Banyak pergelaran musik panggung yagn bisa diambil. Kita tinggal menyeleksi. Misalnya acara-acara musik di Balai Sidang, baik yang diisi pemusik lokal maupun luar. Atau materinya kita ambil dari ‘pub’. Tentu mencari yang terapik dan terpantas disajikan di layar kaca.”
Yudhi DH yang bertindak sebagai pengarah acara, tak berkomentar banyak. Lelaki bertubuh tegap – yang tahun 1978 meninggalkan seksi musik, terdampar di subdit pemberitaan, kemudian kembali lagi – hanya melontarkan ketidakpuasannya pada ‘sound system’. Menurutnya, usaha perbaikan (waktu itu) akan dilakukan di meja ‘mixing’. Jika toh tak teratasi, masih bisa diakali ketika mengedit.
Wiermeyn menjanjikan, lagu maupun materi penyanyi untuk Panggung Gembira tidak akan kacangan. Paling tidak, lagu-lagu yang tampil adalah yang (waktu itu) tengah digemari masyarakat. “Soalnya, ini khan acara panggung. Ada penonton. Kalau kita sajikan seenaknya bisa dilempari,” komentar Wiermeyn.
Cuma saja, acara ke daerah begini juga penuh tantangan. Selain dari penonton, beberapa perusahaan yang ingin mengiklankan produknya juga main kucing-kucingan. Pasti pertimbangannya adalah muncul di TV. Seperti di Cirebon, kru terpaksa ekstra hati-hati karena seluruh gedung ditempeli spanduk dan poster-poster sebuah perusahaan rokok. (Harapan waktu itu) semoga saja tak tergiur. Atau yang seperti ini bisa lebih diatur?
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar