ASRUL ZULMI: "KAWIN SPONTAN" (APA YANG KAU CARI ADINDA, SEPEKAN SINETRON/TVRI - JUMAT, 26 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)
ASRUL Zulmi, kelahiran Medan, 25 September 1954, (perkiraan waktu itu) mungkin bakal digambarkan sebagai tipikal seniman ketika ia memtuskan untuk menikah – “secara spontantias”. Toh, justru itulah ia tertolong dari “lembah” bermabok-mabokan. “’Awak’ sangat kagum dengan istri ‘awak’.”
Dan ia bahagia (belakangan itu), itu akunya. Yang jadi pertanyaan, apa istrinya juga bahagia? “Istri ‘awak’ bukan tipikal penuntut.” Apapun jawabnya, akhirnya, lembaga rumah tangga tetap punya arti bagi siapapun. Sama akan jadi tidak berartinya – karena alasan tertentu – ketika seseorang harus membinanya, dengan kalangan apapun. (Gagal jadi polisi, di hal. 7 Monitor – No. 95/Tahun II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988).
KARENA MEMBACA IKLAN, ASRUL ZULMI GAGAL MENJADI POLISI
PERAN, KORAN. Banyak yang mengatakan permainan Asrul Zulmi
dan Deddy Mizwar tidak jauh berbeda. Tapi Asrul – tentu membantah. Menurutnya
cara menafsirkan tokoh dalam film Nagabonar saja berbeda. “Kalau ‘awak’ tidak
begitu. ‘Awak’ khan lebih tahu orang Batak?”
Latar belakang yang berbeda itu saja sudah menjadi tanda jalan pikiran seseorang. Marlon Brando dan Robert De Niro yang sama-sama belajar akting pada Lee Strasberg saja, cara menafsirkan Don Carleon dalam film Godfather juga lain. Apalagi Asrul lebih dikenal sebagai aktor film.
“’Awak’ tidak suka dengan rumusan persamaan itu. Akting bukan matematika,” jelas pendukung sejumlah sinetron (di TVRI-red), antara lain Apa Yang Kau Cari Adinda, Orang Asing, Ranjang Bayi, dan Bung Thamrin dan pendukung film (layar lebar-red) Kadarwati, Amalia SH, dan Bunga Bangsa.
Konon, ia lebih puas main di teve. Di teve, katanya,
peranannya sangat leluasa. “Di film, perannya dari itu ke situ saja. Kurang
banyak tantangan.” 1988, ia mengidamkan peran tokoh sejarah semacam bung Karno,
bung Hatta, atau Chairil Anwar. Katanya, memerankan tokoh sejarha itu ada
kecenderungan yang lain daripada yang lain. “Sebab, peran tidak umum. Kalau
memerankan wartawan itu umum,” ujar pengagum bung Karno ini.
Kebiasaan wartawan, mencopet, polisi, dan pengacara, setiap aktor boleh menafsirkan sendiri-sendiri. Tapi kalau memerankan Gandhi, Napoleon dan Pu Yi, itu berbeda sekali. Karenanya, ia sangat kagum pada permainan Ben Kingsley dalam film Gandhi, karena kecenderungan kehidupan Gandhi tertangkap, termasuk fisiknya yang makin lama makin kurus.
Sebetulnya, Asrul datang ke Jakarta, hanya singgah sebentar. Ia akan melanjutkan perjalanannya ke Pontianak untuk menjadi polisi. Tapi ia terseret oleh kawan-kawan sekampungnya dan tenggelam di Jakarta. “Di samping itu ‘awak’ tidak pantas terus-terusan pakaai pakaian polisi,” jelas anak pasangan Tajoel Arifin dan Umi Kalsum ini. Selama 2 tahun luntang-lantung dengan kawan-kawannya, ia mabok-mabokan.
Setelah membaca iklan koran, yang mencari aktor-aktris, ia mendaftarkan diri. “Melalui tes, ‘awak’ bisa diterima,” kata aktor yang hobi mancing ini. Dari film November 1828 yang pertama diikuti, ia dibayar 300 ribu rupiah. “’Awak’ amat senang sekali bisa main film.”
Langkahnya di dunia film tersendat-sendat. Adik aktor Nizar Zulmi ini pun loncat ke teve. Kedua media itu digeluti bersama, walaupun kenyataannya teve yang mengangkat dirinya ke permukaan sebagai aktor. Tapi, kelakuannya masih nol. Ia belum bisa meninggalkan dunia mabok-mabokannya. “Mulai pagi sampai sore, ‘awak’ mabuk terus.”
SADAR, KADAR. Akhirnya, ia pun sadar atas kelakuan yang
tidak benar itu. “Seorang aktor bukanlah harus mabok-mabokan supaya dianggap
sebagai aktor.”
Kelakuan semacam itu, katanya, menunjukkan kadarnya sebagai bintang yang mengandalkan tampang dan sensasi murahan. Sebagai aktor, katanya, harus banyak membaca dan mengamati gejala kehidupan masyarakat. Tapi, untuk menjadi seorang aktor yang doyan buku dan hidup disiplin tidak gampang. “’Awak’ harus kawin!”
Maka, pada tahun 1984, ia melangsungkan perkawinannya dengan
Wijayanti, tanpa rencana. Setelah melangsungkan perkawinan, kehidupannya mulai
berubah secara pelan-pelan. Yang biasanya pulang larut malam, ia mulai pulang
sekitar jam 9 malam. Apalagi setelah anak pertamanya, Rindu Zulmi, lahir. Maka
anak ke-7 dari 12 saudara ini, semakin betah tinggal di rumah. Ia memang kurang
suka dengan segala rumusan tetek bengek. “Menurut ‘awak’, berjalanlah hidup
seperti air mengalir.”
Dalam kehidupannya, tidak ada yang dipaksa dan memaksa. Ia menghargai hak setiap orang. Maka ketika istrinya berhenti kerja, karena tidak tega meninggalkan anaknya, ia tidak melarang. Ia senang sekali jika melihat orang yang sadar karena menyadari sendiri, tanpa dipaksa seorang, seperti halnya dirinya yang merasa tidak pernah dipaksa dan dinasihati istrinya untuk berhenti melakukan kebodohannya. Tapi, ia menyadari lingkungan yang diciptakan istrinya.
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
Alamat Asrul Zulmi (waktu itu):
Jln. Lasem 6-A
Menteng, Jakarta Pusat
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar