ARTIS KLUB MALAM BISA MUNCUL DI SAFARI (ANEKA RIA NUSANTARA SAFARI, TVRI - MINGGU, 15 JANUARI 1989 Pkl: 21.30 WIB)

Richie Ricardo

MESKI (waktu itu) sudah konsep lama, ini kejutan awal tahun 1989, tak ada lagi lagu anak-anak di ARS (Aneka Ria Safari) atau ARN (Aneka Ria Nusantara) – keduanya diputar TVRI, red.

“Sejak semula, kita merencankan memajukan lagu anak-anak, mungkin lewat pelawak atau badut. Tapi, setelah ada Aneka Ria Safari Anak-Anak, yang disiarkan Minggu pagi ke-3 tiap bulan, berarti sudah ada jalan kelaurnya,” kata Eddy Sud yang juga menjadi koordinator ARSA. Ada baiknay. Waktu menonton bagi anak-anak (era itu) memang paling tepat siang hari. Lantas, ARS-ARN?

Banyak yang diceritakna Eddy Sud, termasuk konsep dasar acara murah meriah ini. Syarat sebuah lagu bisa muncul di acara itu cukup banyak. Penyanyinya harus warga negara Indonesia (WNI), punya prestasi, dan lagunya (kala itu) harus benar-benar baru. Belum pernah disiarkan (sampai saat itu) dalam acara apapun di televisi. Liriknya berbahasa Indonesia.

Tapi, bukan berarti terpatok di persyaratan itu. Akhirnya, Eddy Sud yang menyeleksi, juga harus banyak berpikir sisi manusiawi. “Ada penyanyi yang belum berprestasi, tapi pantas ditolong. Mungkin latar belakangnya, misalnya keseharian menjadi penyanyi klub, berpenghasilan pas-pasan, sementara dia harus membantu keluarga.” Meski begitu, dua hal yang sangat ditekankan, nggak bkaal ada penyanyi yang kumpul kebob oleh nyanyi di situ. Atau yang ketahuan terlibat morfin.

Chicha Koeswoyo 

Urut-urutan perjalanan sebuah lagu dalam ARS atau ARN bermula dari produser menyodorkan contoh lagu pada koordinator. Lalu diseleksi awal, mulai dari materi lagu sampai artisnya. “Tapi, saya bukan dewa yang serba tahu. Bisa jadi lagu itu jiplakan dan lolos. Kalau akhirnya ketahuan, ada sanksinya. Mulai dari pencipta sampai penyanyinya kena.”

Dari sini berlanjut ke TVRI, lembaga paling menentuan boleh tidaknya lagu itu disiarkan. Menjadi koordinator sejak 1983, menurut Eddy Sud, cukup banyak menghadirkan pengalaman. 1989, meski harus sibuk menjadi anggota DPR-MPR, dia tak gusar soal Safari. “Saya sodorkan pada yang lain untuk mengelola manajemennya, tapi tak ada yang nekad. Padahal ini sudah jalan, tinggal meneruskan. Akhirnya, saya teurskan dengan segala upaya saya.”

Eddy Sud 

Bahwa kemudian acara itu muncul dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menurut Eddy Sud, hal yang wajar. Sejauh konsep dasar memberi hiburan pada sebagian besar penduduk desa terpenuhi, tak jadi soal. Makanya dia tak gusar kelemahan teknik penggarapan. “Saya selalu minta artisnya mengatasi lewat akting.”

Soal penonton waktu rekaman, Eddy Sud menyebut itu urusan TVRI. Mereka yang punya studio dan mengatur. Tapi yang jelas, setiap rekaman yang berkisar tanggal 25-28 tiap bulan, penonton datang sendiri ke studio VII TVRI Pusat. Bukan berarti sama sekali tak iktu beprikir. Buktinya, Eddy Sud juga beberapa kali mengatur agar kelompok tertentu ikutan nonton.

Macam Dharma Wanita, atau anggota DPR-MPR yang (waktu itu) sedang dirancang. Batasan warna musik yang muncul, menurut Eddy Sud, tak jadi soal. Musik apapun kalau berlandaskan kriteria yang sudah diatur, boleh.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Penyanyi/judul lagu (dalam Aneka Ria Nusantara Safari edisi 15 Januari 1989);

Trio Maduma – Dosa*

Nella Regar – Pisang Tak Berjantung

Nasyida Ria – Manusia Seutuhnya*

Netty Sitompul – Seutuh Bayanganmu

Elanda Yunita – Si Doi

Eddy Silitonga – Kalau Rindu Pulang Sendiri*

Mel Shandy – Ulah Tuan dan Nona

Trio Ambisi – Doli Pargurilla*

Richie Ricardo – Molina

Iis Sugiarti – Kenangan Di Jalan

Chicha Koeswoyo – PR dan Cinta*

Dok. Monitor – No. 115/III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer