ANNY KUSUMA: "9 DARI 10, MENGELUH..." (SINETRON: TRAH, TVRI - KAMIS, 21 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 
ADA keterbukaan dari Anny Kusuma, (saat itu) 34 tahun, ketika menceritakan kehidupan rumah tangga. Ia sempat “dilompati” adik-adiknya kawin duluan. Ia justru ogah melangkah.

“Dari yang 10 kawin, 9 mengeluh. Ada yang bilang, suaminya main perempuan, atau gampang menggampar. Jauh berbeda dengan masa pacaran.” Toh, ia menikah juga dengan pemain bola, yang diperagakan, dan melahirkan putri. Apa yang kamu sadari, Anny? “Lelaki lebih mungkin melirik wanita-wanita, sedangkan wanita tak merasa bangga memiliki banyak lelaki.”

Lho, berarti menreima kenyataan kalau-kalau…. “Ya, kita siap disakiti. Kodratnya, lelaki itu produsen. Ia harus produktif. Wanita menerima produksinya.” Ada ketegasan – dan kecantasan – dalam berbicara. “Kalau suami saya mulai memberikan atensi, memberikan hatinya kepada wanita lain, saya akan kongres, akan sidang: pilih dia atau saya.” Mungkin, ada yang susah menerima terhadap yang diungkapkannya. Itu juga wajar.

Tetapi, ada yang mulai menjebol rasa sungkan – itu menarik. Justru karena masalah rumah tangga, yang peka, bisa membara lama, dan dor… tahu-tahu meledak. Membicarkaan ini, sekurangnya membuka katup yang menyumbat.

‘So’, jangan cepat mengumpat. Mari sama-sama kita lihat, apa yang terjadi dengan diri kita sendiri – keluarga kita. Agar bisa menjaga keutuhan, seperti tekad Anny Kusuma. Ada yang berharga, ketika dialog mulai dibuka. *Apalagi di hal. 6 (Monitor – No. 64/Tahun II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988)?

KECUALI PUNYA ANAK ANGKAT, KELUARGA ANNY KUSUMA JUGA PUNYA ADIK-ADIK ANGKAT

INGAT. Sehari senam, sehari berlatih silat, agar suami akan tetap mengingat-ingat 

PRESTASI, PERISAI. Ketemu sosok Prasetiyani “Anny” Kusuma, kelahiran Sumenep, 15 Oktober 1953, tinggi berat (waktu itu) 170-62, nomor celana (waktu itu) 31, sepatu (kala itu) 38, dan bra (waktu itu ) 36, mungkin lebih menarik mendengarkan pendapat-pendapatnya mengenai keluarga dan kehidupan ketimbang mengorek-ngorek perjalanan karirnya atau kemungkinan isu mengenai dirinya.

“Tak ada yang menarik dari saya,” ungkapnya dengan logat jawa Timur yang lumayan kental. Maklum, Anny – anak ketiga dari 9 bersaudara, 4 lelaki – adalah putri dari Raden Panji Prastho Kusumo yang berdarah Madura dan Yosephine Hendrik yang berasal dari Kawanua.

“Aku ini nggak istimewa. Prestasi biasa-biasa saja. Karenanya, aku pun nggak bisa bilang bangga atau bagaimana. Lha ‘wong’ biasa-biasa juga kok prestasiku.” Namun, bukan itu masalah yang sesungguhnya. Akhir-akhir itu, ia selalu berusaha menghindar dari incaran wartawan. “Aku selalu menghindar-hindar. Aku janjiin melulu – dan tak pernah kutepati.”

Ada problem dengan mereka? Ratu Kebaya Jawa Timur 1974 ini tak menjawab langsung. Ia lebih nampak merendah-rendah agar tak diekspose. Toh, kenyataan membuktikan, ia pernah punya konflik dengan salah seorang wartawan. Pasalnya, fotonya – kendati di bagian matanya ditutup garis hitam – dipasang sebagai ilustrasi tulisan mengenai perjalnaan hidup seorang wanita tunasusila dari Palembang.

Anny memang mendatangi wartawan bersangkutan. Tapi, ia tak menggampar atau menganiayanya, kendati Anny adalah jago silat. Sejak kanak-kanak, ia memang sudah melatih dan memperkaya dirinya dengan jurus-jurus PD Mayangkara pimpinan pak Dirdjo – yang kemudian berkembang menjadi Perisai Diri.

 

MILIK. Rokok di tangan kanan, pandangan dilempar ke kiri. Suami di rumah mutlak harus digenggam, suami di luar menjadi milik pribadinya sendiri

DEKAT, CEPAT. Di satu sisi Anny terlihat rendah diri. Di sisi yang lain, orang melihatnya sebagai perempuan yang tak pernah mempertimbangkan perasaan orang lain. Atau lebih gawat lagi, ada yang menyangka ia gampang dibaw-abawa.

Di sinetron Trah (TVRI), sebagai Rukmini ia dicurigai sebagai germo. Sikapnya sendiri, cuek. “Mereka khan belum tahu siapa sesungguhnya aku. Mereka belum dekat saja.”

Kalau sudah dekat, kitab kala tahu bahwa selain ia sudah dikarunaii satu putri – Syasya, namanya – berumur (saat itu) 4 tahun, ia juga punya seorang anak angkat dan beberapa adik angkat. Soal anak dan adik angkat ini ada perbedaannya. Yang anak angkat identik dengan anak adopsian, sementara adik-adik angkat itu terbatas numpang alamt rumahnya. Artinya, di mana pun mereka tinggal di Jakarta, KTP adik-adik ini mempergunakan alamat Anny. “Mereka khan perantauan?”

Bukan hanya itu. Sebagian besar adik-adik angkat ini adalah pemain sepakbola – di antaranya Ashari Rangkuti – yang kebeutlan kenal dekat dengan suami Anny- Dafrian Jones – yang pernah menjadi kiper UMS. Toh, ia tak menolak untuk dibawa-bawa. “Asal bersama dengan suami,” sahutnya cepat-cepat.

 

IMAN. Anny di Madura-Manado, Datrian di Ambon-Jerman, ketemu di Jakarta – dalam persamaan iman

Dafrian – ah, bagai kisah novel pop – secara kebetulan ketemu Anny. Waktu itu, seorang jejaka sedang mencari saudaranya yang indekos di tempat Anny. Anny kemudian dikenalkan dengan jejaka (era itu) blasteran Ambon-Jerman ini. Jejaka (era itu) ini banyak cerita tentan gpenderitaannya ditinggal orangtuanya.

Tak ada reaksi Istimewa dari Anny. Hanya saja, setelah Dafrian mendekatinya dengan penuh kesabaran dan keuletan, pendiri grup musik Dara Puspita dan penabuh drum The Beach Girl ini mulai pikir-pikir panjang. Apalagi orangtuanya justru sering mendesak-desaknya untuk segera menentukan pilihan.

Artinya, memang tak ada problem dari pihak orangtua. “Asal seiman, asal bukan suami orang lain,” pemain utama serial Metro 77 (juga diputar TVRI-red) ini mengulang alasan ayahnya almarhum. Dan Dafrian memang kerap mengingatkan Anny untuk puasa. Saat makan sahur, Dafrian menelepon.

SANGKUT, SUNTUK. 1988, setelah menginjak usia 7 perkawinan – pasnya 9 Februari 1988 – Anny termasuk satu di antara 10 orang yang tak menyesali perkawinan. Darah boleh blasteran antara Manado dan Madura, toh Anny berkecenderungan menerapkan gaya barat untuk urusan rumah tanga. Bukan segi negatifnya, tentu. “Tapi, lebih pada rasionalitasnya.”

Jabarannya, jika seorang suami atau seorang istri merasa bosan terhadap pasangannya, sebaiknyalah bilang terus terang, daripada memendam penyakit. Dari bilang jujur-jujuran itu, ada  akibat yang hraus dihadapi. Yang pertama, pasangan bersangkutan akan memperbaiki diri. Kedua, jika tak mungkin memperbaiki diri, ya apalagi lah kalau bukan pisah?

Dengan cara ini, Anny merasa langgeng mempertahankan perkawinan. Dan Anny tetap bisa main drama, main film, atau diundang menyanyi – di Jakarta ataupun di luar kota. Dan Dafrian sendiri bisa suntuk kerja di PT Tata Wisata, ‘onshore/offshore catering and supplies agroindustries’.

“Di rumah, suami mutlak milikku. Di luaran, ia milik entahlah. Sepanjang si entahlah itu tak dibawa ke rumah, aku bisa toleran. Kalau ia sudah terang-terangan, ya apa boleh buat. Aku tak setuju poligami. Cerailah jalan keluarnya, kendati ini amat kutakutkan. Tapi aku percaya, suamiku takut imannya.” Alhamdulillah…

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Alamat Anny Kusuma (waktu itu):

Jln. Melati 36

Cipete Selatan

Jakarta Selatan

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer