ANASTASIA ASTUTIE: "TRAH" (TVRI - KAMIS, 21 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 
BAGI Anastasia Astutie, (saat itu) 33 tahun, sinetron Trah punya kesan tersendiri dibandingkan dengan sejumlah sinetron lain yang pernah ia libati. Pertama, beberapa pemainnya sempat bertengkar dalam kadar yang agak tinggi – dan ini nyaris mengakibatkan kelangsungan rekaman terhenti. Kedua, kecuali jangka waktu syutingnya terulur-ulur, penyiarannya pun tersendat-sendat – bahkan setelah berkali-kali dirancangkan untuk ditayangkan.

“Jangan-jangan harus slametan dulu, ya?” Yang ngomong dengan nada yang sama macam demikian adalah T. Afyudin dan Ananto Widodo. Satunya pengarah acara Trah, satunya lagi dari bapersi drama. Selamatan perlu diadakan, konon mengingat salah satu setnya mempergunakan sebingkai foto-foto Mangkunagoro II sampai VII. Foto itu koleksi Astutie, pemeran Hayati, yang aslinya memang keturunan keempat Mangkunagoro II.

“Percaya nggak percaya, ya? Namanya saja ‘wong’ Jawa,” ujar Astutie yang dipilih main karena alasan agar tertampil wajah asli ningrat. Pengalaman mistis tak sebatas pada foto berbingkai. Syuting akhir di rumah Anny Kusuma, di bilangan Cipete Selatan, Jakarta, juga nyaris batla gara-gara hujan turun dengan deras. Mendadak lagi. Karena hujan, banyak pemain main gaple. Lain dengan Astutie. Ia minta celana dalam Nany yang sudah kepakai.

Dan – hupp! – dilemparnya ke atas genting. Hujan mendadak reda. Jadinya: tersendat karena keningratan, beres pun setelah salah satu ningrat turun tangan. Toh, kalau Kamis pekan ketiga (21/1/88) ini Trah disiarkan, itu bukan karena (waktu itu) selamatan sudah dilangsungkan.

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer