AGAR ANGKER, YAN BASTIAN MENGANDALKAN MATANYA (IRAMA MELAYU DELI, TVRI - SELASA, 7 JUNI 1988 Pkl: 18.20 WIB)

LUKA. Yan setelah ditelan ombak Pelabuhan Ratu mengalami enam luka-luka

ADA yang tetap disesali Yan Bastian, (waktu itu) 43 tahun, sampai hari itu. Yakni, setelah 100 hari ayahnya meninggal, ibunya kemudian menyusul pula ke alam baka – di Padang. Padahal, ada banyak hal dari ibunya yang diabaikan Yan. Yan ingin menebusnya. Yan terbang meninggalkan Jakarta, tempat ia mengadu nasib sebagai artis.

Sayang, cuaca sangat buruk di Padang. Pesawatnya tak bisa mendarat. “Itulah kehidupan saya yang paling berat, waktu itu saya ingin meloncat dari pesawat.” Penyesalan tak pernah terjadi sebelum kejadian, memang. Selalu. Yan Bastian dikenal sebagai penyanyi dan aktor film eksyen. Profesi ini masih ada hubungannya dengan masa remajanya yang suka menyanyi dan bertengkar di pinggir pesisir. Tapi katanya, profesi menyanyi dan aktor itu setali tiga uang.

Untuk menjadi artis, ia mengorbankan kuliahnya di Universitas Andalas, Padang. “Saya sedih kalau mengingat kuliah yang saya tinggalkan itu,” ujar penyanyi kelahiran Padang, 9 Mei 1945. Tanpa pikir panjang, ia meninggalkan Padang menuju Jakarta, tahun 1967.

Sampai-sampai bundanya menyusul ke Jakrata untuk merajuk agar ia kuliah kembali di kampungnya. Bujukan bundanya tidak mempan untuk melunakkan hatinya. Ini lebih, karena ia takut diejek kawannya sebagai banci. Kalau saja ia menuruti nasihat bundanya, ia tidak akan mengalami hidup yang terpental-pental di Jakarta. “Ketika saya menyadari kebenaran pikiran bunda, sudah terlambat.”

ROMA, KOMA. Maka, dengan segala cara, ia ingin membuktikan pada orangtuanya, ia bisa menghidupi dirinya dan adik-adik yang berjumlah tujuh itu. Tapi perjuangannya sangat berat dicapai, walaupun ia sudah menjadi artis. Ia pernah jalan kaki dari Tanjung Priok ke Menteng, dan tidak makan nasi seharian. “Pokoknya, kehidupan saya hampir titik koma. Tapi ternyata ada saja jalan untuk menuju Roma.”

Ia pun mengorbankan diri untuk melangsungkan perkawinannya dahulu. “Pertimbangan keluarga dan kebebasan yang membuat saya terlambat kawin.” Perkawinannya pada tahun 1980 itu pun tidak direncanakannya. Ketika ia numpang ikut nonton sepakbola di TVRI, ia ketemu Rini Widaningsih. “Saya tertarik. Setelah sebulan lamanya, ia saya ajak kawin.”

Tapi perkawinannya yang (sampai saat itu) sudah berlangsung 8 tahun, (hingga saat itu) masih bleum membuahkan anak. Setelah periksa ke dokter, ternyata rahim istrinya ada kerusakan. “Tapi kata dokter, masih banyak kemungkinan untuk bisa melahirkan.” Toh ia tidak pernah punya pikiran untuk menceraikan istrinya. “Saya tidak tega.” Ia pun tidak mau menanam bibit turunannya kepada wanita lain. “Saya tidak mau tanam sana sini masalah keturunan.”

IRONIS, ARTIS. Yan yang dilahirkan dari pasangan Batir dan Nurbaiti, merasa prihatin terhadap orang film karena terpecah-pecah. “Sekarang (1988-red), di dunia film terbagi beberapa kelas. Ada artis kelas satu, dua, tiga. Sedang kriterianya tidak jelas. Jika artis itu dipakai oleh produser keren, ia akan disebut artis kelas satu.”

Ia sangat senang memerankan tokoh berwatak keras, karena di situ ia menemukan kenikmatan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika nginap di hotel, ia pernah didatangi seorang untuk diobrgol. “Saya dikira ‘tekek’.” Ternyata pengaruh peran di film sebagai tokoh berwatak keras telah merasuki dirinya. Maka, ia pun (belakangan itu) agak memilih lagu yang dibawakannya, karena lagu yang cengeng ia merasa kesulitan mengalunkannya.

Dunia film dan musik saling mengisi kehidupannya. Karenanya, ia harus pandai membagi jadwal. “Saya memang lebih banyak menyibukkan di dunia film,” tutur pengagum bung Karno (Presiden Sukarno-red) ini. Dari dunia musik ia bisa keliling Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, yang disponsori Yayasan Bunda. Malah ia pernah tidur di Grand Hotel Finlandia, yang pernah ditempati Presiden AS Reagan.

Namun, setelah keliling dunia, ia pulang di gubuk kontrakannya kembali. “Ironis kehidupan saya ini.” Walaupun sudah menjadi artis sejak tahun 1968, ia masih belum mampu beli rumah sendiri. “Saya sendiri tidak mengerti.” Padahal, kehidupan dirinya tidak mewah. Ke mana-mana ia naik bis. Kalau lapar tidak segan ia masuk warteg. “Kalau sudah kehendak Tuhan, saya harus begini.”

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

Dok. Monitor – No. 83/II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer