ADA LOSMEN KILAT, ADA LOSMEN ORDER (LOSMEN, TVRI - KAMIS, 14 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
SYUTING Losmen (TVRI) kali ini terlambat. Juga tersendat-sendat.
Hari pertama skedul rekaman, batal. Set belum siap. Tertunda pembuatannya
karena jadwal Pondokan yang menggunakan studio yang sama, juga mundur
penyelesaiannya. Dua hari libur di akhir tahun 1987 bisa juga dijadikan
penyebab. Lalu dua hari rekaman sepertinya berjalan normal. Ternyata gagal
lagi. Hasil rekaman rusak. Siapa yang salah? Alat perekaman itu memang tidak
bisa berdalih.
Kali ini tidak ada omelan Wahyu Sihombing. “Sudah biasa, normal.” Baru hari keempat, Losmen seri Hari-Hari Yang Menegangkan Bagi Bu Broto, berjalan normal. “Setidaknya, sampai tulisan ini dibuat, syuting yang masih berjalan, tidak atau belum mengalami gangguan lagi.
Yang jelas, penyelesaiannya pasti mepet sekali. Dihitung masa rekaman cukup lima hari, tanggal 12 Januari 1988, Losmen baru selesai rekaman. Dengan sisa dua hari sebelum ditayangkan, kru harus ngebut dengan ‘editing’, ‘title’, dan musik. Hebat!
Kerja kilat tanpa pernah terucap kata darurat, memang sudah jadi hobi karena kebiasaan. Semua pengarah acara, termasuk T. Afyudin yang kali ini terlibat di Losmen, tahu luar kepala bagaimana jadwal kerja yang menurut aturan. Toh, mereka juga lebih sadar akan situasi dan kondisi studio, peralatan serta jadwal produksi yang bertumpuk.
Maka kalau seorang PA kadang bersikap profesional, mencoba memberi arti lebih buat hasil kerjana, bisa jadi omongan sinis menimpa dirinya. Itulah persoalan yang belum terselesaikan sampai Januari 1988. Entah besoknya atau lusanya.
Minggu pertama Januari 1988 lalu, direktur baru (waktu itu) mengumpulkan seluruh kru dari drama. Semuanya dipersilakan mengutarakan uneg-unegnya. Lepas dari soal kru TVRI, pemain Losmen sendiri sudah belajar selama bulan Desember 1987, bagaimana namanya kerja kilat.
Sampai-sampai Wahyu Sihombing berani “menjual” Losmen versi Senayan atau Taman Mini. “Kita siap terima order pentas Losmen seminggu sebelumnya. Sudah terbukti order dua hari sebelumnya, dapat kami pentaskan dengan baik.”
KEREPOTAN. Losmen kilat di luar TVRI yang cukup merambah tebalnya dompet para pelakunya – honor beberapa kali lipat honor TVRI – Losmen kilat versi TVRI kali ini sesuai dengan versi Hari Ibu di Balai Sidang dengan perombakan di sana-sini.
Tokoh Cipluk hilang. Malah bu Karim yang centil, butuh perhatian sang suami, lalu bermain api dengan Partono, dimunculkan dan adegan percumbuannya dengan Partono, divisualkan. Kalau dalam versi Balai Sidang, pak Karim diperankan Joseph Ginting yang meledak-ledak, kali ini Piet Pagau menggantikannya. Kalem dan tidak terlalu seram.
Tatiek Maliyati sang penulis naskah juga tampak merevisi sedikit kesempurnaan fokus utama cerita ini, bu Broto (Mieke Wijaya). Bisa mengatasi beberapa problem yang terjadi di Losmennya, toh penghargaan dari beberapa teman Tarjo mengundang bu Broto dalam seminar satu hari, tidak begitu saja mulus terlaksana. Bu Broto harus membuat makalah dan membacakannya di hadapan mahasiswa (era itu) tentang pengalamannya sebagai wiraswasta yang sukses.
Kegembiraannya menerima penghargaan ini akhirnya jadi tidak sebanding dengan kerepotannya membuat makalah itu sendiri. Apalagi pak Atmo berniat pulang ke Jawa karena anaknya, Retno, lulus dan akan diwisuda menjadi sarjana pertanian.
Lalu, Sri (Dewi Yull) yang ribut terus dengan suaminya. Juga Pur (Ida Leman) yang mendapat telepon dari orang iseng. Dan masih ditambah dengan rencana akan menginapnya sepuluh turis dari Jepang. Sampai-sampai Tarjo (Mathias Muchus) jadi kena sasaran kerepotannya, untuk menyempurnakan makalahnya.
Bu Broto ingin melihat contoh makalah yang sudah pernah dibuat. Ia tidak perduli lagi apakah itu buatan profesor atau dokter. Ia malu membuat makalah asal jadi. Berhasilkah bu Broto? Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab kalau Anda kenal betul siapa dia.
Ditulis oleh: Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar