ACARA SAMBUNG RASA MENJADI AJANG DISKUSI PARA PETANI. MESTINYA, PEMBAWA ACARA TAK PERLU JADI PETINGGI (TVRI - MINGGU Pkl: 20.30 WIB)

PETINGGI. Selain petani, para pejabat juga ikutan diskusi. Tapi pembawa acara suka jadi petinggi. Sayang juga.

SEJAK 14 Desember 1987, 20.30 WIB, Minggu malam, mata acara Sebaiknya Anda Tahu mesti berselang-seling dengan mata acara baru (waktu itu): Sambung Rasa.

Seperti halnya mata acara Asah Terampil dalam paket siaran Ragam Desa, acara baru (ketika itu) itu masuk dalam program Siaran Pedesaan. Lalu melibatkan kelompemcanpir: kelompok pendengar (radio) pembaca (surat kabar) dan pirsawan (televisi) – yang menurut Prof. DR. Bintoro Tjokroamidjojo, pakar ilmu administrasi, sebagai “terminal alih teknologi pertanian dan pedesaan yang boleh dibanggakan.”

Sasaran acara baru (kala itu) yang digarap berdaarkan instruksi Menteri Penerangan Harmoko itu pun sama dengan sasaran acara Ragam Desa: pemirsa di daerah pedesaan, yang tak semuanya petani. Karenanya, tema dan topik yang diusung juga berbagai. Kadang soal hama, kadang soal KB, bisa juga soal siskamling.

“Yang dibahas aneka topik,” jelas Zulkifli Bahar, kasie reportase dan penerangan TVRI, yang membawahi acara itu. Topik yang diangkat, ya yang (waktu itu) sedang aktual, tentu. Pola penyajian acara ini, mengandaikan bentuk sarasehan antar kelompencapir dan antara kelompencapir dengan petugas dari instansi pemerintah yang berkompeten di bidang yang sesuai. Mereka para pengisi acara itu, memang diminta berdiskusi.

Kemudian memperoleh kesimpulan tertentu. Itulah bedanya dengan Asah Terampil yang cuma ingin mengungkap cerdas cermat anggota kelompencapir. Dengan berdiskusi begitu, kata Zulkifli, sikap tanggap kelompencapir ingin diketengahkan. Biar bisa membantu pemerintah, memberi masukan, untuk mengatasi permasalahan yang mereka bahas.

 

DISKUSI. Acara Sambung Rasa memang buat diskusi para petani. Yang ini diskusi tentang koperasi di desa Tamanrejo, Kendal. 

MODEL, JUBEL. Tiga produksi sudah ditayangkan, sampai 10 Januari 1988 lalu. Masing-masing produksi TVRI Stasiun Surabaya, Yogya, dan Bandung. Masing-masing membahas soal hama padi, penyakit tanaman, dan KB. Kesemuanya (waktu itu) tampak masih mencari model penyajian.

Produksi Surabaya menggunakan Kwartet S, kelompok lawak asal Malang, untuk mengusung acara. Mereka juga yang berperan sebagai moderator dan pembangun suasana acara. Yogya memanfaatkan kelompok Srimulat (antara lain, Subur). Hanya Bandung yang tak melihatkan pelawak atau seniman.

Kehadiran pelawak dalam acara itu menyegarkan. Membuat acara jadi cukup layak ditonton. Tak cuma dijubeli pendapat dan informasi. Bisa menghiburlah, selain memberi informasi. Karenanya produk Surabaya dan Yogya, lebih segar dan lebih hidup. Bahkan, produksi Surabaya sungguh-sungguh menampilkan kesan sambung rasa. Cuma produksi TVRI Sta. Bandung yang (waktu itu) terkesan kaku.

Tapi, “Kita tidak terpaku pada satu model penyajian. Misalnya, lawak-lawak saja. Bisa juga dengan narasi. Karena yang terpenting, memang bagaimana mengungkapkan permasalahan yang dibahas kelompencapir itu,” jelas Zulkifli. Jadi, berbagai bentuk penyajian bisa dijadikan model. Asal tidak membosankan. Yang penting, format tetap. Karena itu, bisa saja, kali ini lawak – lain kali berbeda.

Namun begitu, dari yang (waktu itu) sudah disiarkan, produksi Bandung yang terlampau didominasi penyiar pembawa acara, Djoko. Terasa membosankan, terlampau kuat narasinya, bak seminar para petinggi.

Walaupun, memang, acara ini dilakukan bekerjasama dengan isntansi pemerintah seperti Kanwil Deppen, Kanwil Pertanian, dan lainnya. Termasuk dengan pemerintah daerah setempat. Terutama untuk menghadirkan kelompencapir peserta acara, serta narasumber yang berkaitan dengan topik dan tema yang didisikusikan.

LARAS, LINTAS. Sarasehan yang selama itu telah menjadi tradisi masyarakat pedesaan, memang baik dipergunakan sebagai model penyajian. Tanpa membasut atau memancarkan informasi, sambung rasa akan kehilangan makna. Apalagi bila narasi malah mengurangi dialognya. Banyaknya informasi yang dimunculkan kelompmencapir, bisa bermanfaat. Setidkanya, untuk pertimbangan dalam menyelesaikan permasalahan. Sperti dikehendaki acara itu.

Karenanya, tak berlebihan, pengelolaan dan penyajian acara Sambung Rasa ini mestinya menempatkan kelompencapir sebagai subjek. Bukan objek, seperti dibilang HSA Jusacc, kepala biro pemda Jabar.

Dengan begitu, dialog yang setara bisa berlangsung, dengan basutan informasi yang banyak. Ini sekaligus bermakna, moderator tetap berpegang pada fungsinya sebagai penyelaras. Bukan justru sebagai narasumber. Gaya yang dipergunakan Kwartet 5, tepat adanya, karena mengatur lalu lintas dialog.

Penayangan acara ini, (waktu itu) belum memiliki jadwal tetap. Masih sementara (kala itu). Dua kali sebulan, berganti-ganti dengan acara Sebaiknya Anda Tahu. “Belum masuk dalam pola siaran 1988 yang sedang disusun,” kata Zulkifli (waktu itu). Acara ini diinstruksikan menjelang pola siaran 1987 habis masa berlakunya. Zulkifli setengah berjanji mengatakan, (perkiraan waktu itu) mungkin mulai April 1988, sudah bisa menjadi acara tetap, dengan jadwal yang tetap saja.

Dari daerah ada harapan untuk menggarap acara ini dengan lebih matang. “Nggak mudah mempersiapkan acara seperti ini. Terutama, menyangkut koordinasi antar instansi yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas. Termasuk mempersiapkan kelompencapir,” jelas Yusacc. Bagaimanapun juga, pemirsa (waktu itu) punya harapan dari acara baru (era itu) ini.

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer