A. AZIZ HUSEIN

Drs. Aziz Husein sempat bercanda dengan Wahyu Sihombing, waktu menengok syuting Matahari Di Bulan Maret

TURBA. Kalau seorang kepsta bersikeras melakukan turba alias turun ke bawah, mentongkrongi sebuah produksi TVRI, pertanda apakah ini? Yang bersangkutan, Drs. A. Aziz Husein, kepsta TVRI Jakarta, telah siap dengan jaaban. “Saya sekadar mewujudkan tekad pimpinan Deppen, RTF, dan Direktorat. Karena sekarang (1988-red) lah saatnya, semua produksi harus ditangani serius, supaya ada perbaikan.”

Dan khusus untuk syuting sinetron Matahari Di Bulan Maret, yang dirasanya sebaai sebuah momentum besar, Aziz menyempatkan diri menjenguk. Walaupun Jumat malam, 4 Maret 1988 lalu, lokasi yang diambil di kawasan Depok lama, sekitar 30 km Selatan Jakarta itu diguyur hujan.

“Saya memang mencoba merangkul teman-teman di televisi untuk kembali jadi tim yang kuat,” tambah pria necis bertinggi berat-badan (waktu itu) 165-78, ayah 6 anak, yang (waktu itu) baru saja lepas dari stres selama 3 bulan masa transisi dari Surabaya (selama 4 tahun 4 bulan ia jadi kepsta di sana) ke Jakarta.

Di stasiun pusat (Senayan, Jakarta-red) ia (sampai Maret 1988-red) telah beberapa kali bertandang ke studio-studio, menjenguk rekaman gambar. Namun, peninjauan ke lokasi luar, baru kali inilah yang dilakukannya. Rencannaya, semua produksi mau dikunjungi? “Kalau bisa.” Artinya, Aziz mencoba memberi pemerataan ke segala jenis, terutama hiburan.

Agak cocok dengan kesenangannya di tahun 1956 dulu, di Ujungpandang, sebagai putra tunggal seorang pamong praja. Main drama atau terlibat dengan dunia teater. Bersamaan dengan awal karirnya di RRI, sembari kuliah, masuk ke TVRI tahun 1975, bertugas selama 8 tahun 3 bulan di stasiun Ujungpandang, hingga saat 1988 di usia 49.

Bekal ilmu pergaulan selama 15 tahun jadi orang lapangan, dianggapnya cukup. Tak urung, keadaan di stasiun pusat (Jakarta-red) mendesaknya untuk segera ‘cnacut taliwanda’. “Begitu masuk, nggak ada lagi waktu buat siap-siap, saya sudah harus jalan dengan versneling 4,” katanya kalem.

Makanya, saat-saat 1988, hampir tak ada waktu kosong buat Aziz. Kebiasan main bulutangkis, untuk sementara dihentikan. Kalaupun berolahraga ringan, paling-paling jalan kaki selama setengah jam di pagi hari, selepas sholat subuh. Itu saja.

Ditulis oleh: Slamet Riyadi

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer