ZSA ZSA QUAMILLA: "TERBIASA TERGENCET"

 


SETINGGI-TINGGI bangau terbang, hinggapnya di pelimbahan juga. Tapi Zsa Zsa Quamilla Yusaryahya bukanlah bangau. Jadinya, dia tak perlu berlepot lumpur di pelimbahan. Bahwa Zsa Zsa sempat mengecap ilmu di perguruan tinggi di California, AS, namanya Pepperdine University, hingga meraih gelar BA untuk bidang ilmu politik/hubungan internasional, 1980, an di tempat yang sama juga mendapatkan MBA (‘master of business administration’), 1987, itu tak bisa dipungkiri.

Toh, jika (belakangan itu) dia justru memegang posisi manajer hubungan masyarakat di teve swasta RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), orang segera mencari(-cari) hubungan satu sama lainnya. Jangan-jangan, karena dia itu adik Zoraya Perucha, bintang film dan produser yang terkenal itu. Zsa Zsa menyadari kemungkinan itu.

“Itulah susahnya jadi anak tengah,” kilah Zsa Zsa, kelahiran bandung, 12 Maret 1960. Zsa Zsa adalah anak ke-3 dari 6 bersaudara (satu lelaki) keluarga Yusaryahya dan Alda Lang. “Sebagai anak tengah, apalagi kakak-kakak saya, Ucha dan Nadia, jgua sudah punya prestasi lebih dulu – beban saya terasa lebih berat.”

Jabarannya, jika Zsa Zsa ingin menunjukkan prestasi, perjuangan terasa jauh lebih berat dibanding yang ditempuh kakak-kakaknya, yang dulu (70an-red) jgua sama-sama bertarung di gelanggang renang. “Nadia dan Ucha, rasa-rasanya nggak ada beban jika dari awal tak punya prestasi, misalnya.” Kampak persaingan memang sudah jauh hari dicacungkan. Dan masing-masing saudaranya menyadari itu. Itu sebabnya, Zsa Zsa jadi merasa makin diganduli beban.

Pihak orangtua – pak Yusharyahya (belakangan itu) adalah seorang brigadir jenderal (purnawirawan) – senang-senang saja melihat anak-anaknya saling bersaing secara sehat malam itu. Yang membuat heran Zsa Zsa – atau 1990 bahkan terasa sebagai suatu kelucuan – setiap kali latihan, Ucha selalu diunggulinya. “Entahlah, dalam pertarungan, saya selalu kalah melawan dia.”

Tak berarti tak ada prestasi yang digenggamnya di arena lomba renang. Medali perak dan perunggu di arena PON dan Kejuaraan Kelompok umur tingkat Asia Tenggara, pada tahun-tahun 1970-an, sempat dia catatkan dalam sejarah lomba renang gaya kupu-kupu, gaya yang juga dimiliki Ucha-Nadia punay spesialisasi gaya yang lain lagi.

Tetap saja Zsa Zsa merasa harus ‘fight’, terus berjuang dengan lebih keras. “Kalau orang lain kok kayaknya cukup dengan hoki, keberuntungan, gitu.” Terbiasa bersaing dan berjuang dengan keras, akhirnya membentuk kepribadian Zsa Zsa juga keras. “Dalam keluarga, saya terlihat macam itu. Tapi saya ‘enjoy’, menikmat iitu.”

Kecuali itu, Zsa Zsa juga terbiasa untuk selalu terbuka. “Kalau saya nggak suka pada seseorang, kalau saya merasa terganggu, saya nggak akan bisa menyembunyikannya. Pasti akan terlihat sikap saya.” Keterbukaan ini juga dia terpakai di lingkungan keluarga. Tak berarti dia ingin menang sendiri. Dia tahu, keterbukaannya bisa juga menimbuklan problem baru. “Bagaimana, ya? Saya toh harus jujur.”

 

Di rumah, berkumpul dengan suami dan anak, hanya separuh hari. Seleibhnya, di kantor, dia meniti karir di RCTI. 


AKHIRNYA dengan jujur pula Zsa Zsa mengakui bahwa yang pertama kali diincarnya dulu (sebelum 1989-red) adalah TVRI, terutama program English News Service.

Selama kuliah di AS sejak 1975 – setahun sebelumnya dapat beasiswa di Australia – dia juga mengambil tambahan belajar di Banking Institute, California, selain juga mengambil kursus ekstensif di bidang ‘broadcasting’, brodkasting. Di Banking Institute, Zsa Zsa sempat mendapatkan sertifikat di bidang ‘banking operations and lending’, April 1987. Sementara kursus brodkastingnya ditempuh di University California, Los Angeles.

“Saya membayangkan akan bekerja di bank, selain akan menjalani hobi saya di bidang brodkasting tadi.” Tapi jalan menentukan lain. Sepulang dari AS, dia dengar di Indonesia (waktu itu) akan didirikan sebuah stasiun televisi swasta. Zsa Zsa mendaftar, selain juga melamar ke berbagai bank.

RCTI yang (waktu itu) masih menyisakan banyak posisi yang lowong, akhirnya menempatkan Zsa Zsa sebagai manajer humas, sejak 15 Februari 1988. Apalagi sebelumnya dia pun kemudian kembali diberi kesempatan untuk mendalami perihal kehumasan di bidang ‘broadcasting’ selama setahun, di AS lagi.

Artinya, tak ada bayang-bayang nama Ucha atau yang lain di balik kemampuan yang (waktu itu) ingin dan sudah dia tunjukkan. Juga bukan suatu yang terasa. Dan bukan sesuatu yang aneh jika posisi itu dipegang Zsa Zsa. Mendadak jika Zsa Zsa diberi kepercayaan memegang jabatan itu, termasuk juga sebagai penanggung jawab paket acara Kontak Pemirsa di RCTI.













Sebelum bergabung dengan RCTI, juga sambil kuliah di AS, ibu Chintara Diva Tanzil yang mengagumi John F. Kennedy, Indira Gandhi, dan Margaret Thatcher ini pernah menjadi staf ‘research and development department’ di Pertamina, Jakarta, 1981 hingga 1983, selain sebagai asisten manajer utama di PT Fast Marine Service, pengapalan minyak dan gas, Jakarta, 1983-1985; serta selama setahun kerja di Sumitomo Bank of California, di Los Angeles, 1987.

Jadinya, 1990, sibuklah Zsa Zsa pepanjang harinya. Tak terhitung berapa kali telepon berdering menanyakan segala sesuatu perihal RCTI, dekoder yang tak lagi terpakai, program acara, dan tetek bengek lainnya. Belum lagi jika ada undangan makan malam atau menghadiri beberapa pesta. Nyaris tak tersisa waktunya untuk keluarga. “Sabtu adalah hari saya dengan anak saya. Kalau nggak ke toko-toko, ya ke saudara-saudara. Atau ke rumah orangtua. ‘Full’ dengan keluarga hari Minggu.”

Sabtu cuma separuh hari, karena suaminya, Youk Tanzil, Sabtu masih kerja. Biasanya jika bersama keluarganya, Zsa Zsa (waktu itu) akan ke sebuah pulau, menyelam, atau berselancar. 1990, lantaran anaknya (waktu itu) masih kecil – lahir 15 Oktober 1989 – dan (kala itu) mulai butuh bimbingan untuk belajar berjalan, acara ke pulau agak disendatkan.

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer