ZOOM - UANG SAKU ATLET OLIMPIADE DIRENCANAKAN RP 2 JUTA ALEX KUMARA: "BAGI RCTI TAK ADA UNTUNGNYA!"

 Peter F. Gontha 

RABU, 20 Mei 1992 di Plaza Indonesia, komisaris RCTI, Peter F. Gontha, menyerahkan selembar cek raksasa senilai 45 juta rupiah pada Laksamana Muda (Purn) Basuki yang mewakili KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).

Peristiwa itu hanya salah satu adegan dari sebuah rangkaian kegiatan pekan dana Barcelona Bagi Sang Juara yang diselenggarakan oleh stasiun TV swasta itu dalam upaya “membantu” para atlet yang (waktu itu) bakal berangkat ke Olimpiade Barcelona (25 Juli-9 Agustus 1992).

Dana sebesar itu diperoleh dari hasil lelang raket Susi Susanti dan Ardy B. Wiranata dalam ‘marketing gathering’ RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)-SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), 14 April 1992 lalu di Puri Agung Sahid Jaya Hotel.

Jumlah bulatnya RCTI menargetkan Rp 100 juta. (Sementara sumber di KONI mengungkapkan bahwa dana yang (waktu itu) bakal diterima dari KONI sekitar Rp 130 juta). Karenanya, sejak 12 Mei 1992 hingga 12 Juli 1992, RCTI menyelenggarakan penjualan cinderamata dengan hiburan para artis (gratis-red) dan mengundang atlet yang berlangsung di Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, dan Matahari.

Dari segi dana yang (waktu itu) akan disumbangkan, memang tak seberapa besar jika dibanding biaya total kontingen Indonesia ke Barcelona yang sekitar 2 milyar rupiah, bersumber dari Menpora dan SDSB. Tapi dari sisi gagasan, pekan dana ini memang baru yang pertama kali ada di Indonesia (kala itu). Dan Peter F. Gontha-lah yang disebut-sebut sebagai pencetus idenya.

“Ini ide ramai-ramai, bukan hanya dari saya. Dan yang penting, tujuannya bisa menambah rasa percaya diri atlet,” ujarnya. Menurut Bobby Sael, koordinator humas RCTI, bahwa dalam ‘event’ ini RCTI hanya bermaksud mewadahi, sekaligus mendekatkan antara atlet dan masyarakat, sehingga diharapkan (waktu itu) lewat pekan dana ini kesadaran bersama akan dengan mudah dicapai dan permasalahan yang dihadapi KONI juga merupakan masalah kita bersama.

 

SOAL mengapa RCTI merasa kerkepentingan mengadakan pekan dana itu, Alex Kumara, direktur operasional RCTI, menyatakan bahwa sebenarnya RCTI hanya menjadi perantara. Sedangkan tujuan sebenarnya adalah ingin merangsang atau mengimbau masyarakat untuk ikut partisipasi nyumbang untuk kontingen Indonesia yang akan maju ke olimpiade.

Karena di beberapa negara (maju maupun berkembang, red.) pengumpulan dana untuk atlet yang akan berlaga juga dilakukan dengan cara-cara seperti itu dan berlangsung di ‘department stores’. Kenapa di sini tidak dicoba? Meskipun bagi atlet dan induk organisasi olahraga itu sudah dapat dana dari pemerintah. Tapi terbatas.

Bahkan informasi-informasi dari ketua-ketua cabang olahraga, dana yang diberikan pemerintah sebetulnya (waktu itu) masih kurang. “Karenanya kita kumpulkan dana dan kita serahkan ke KONI dan cabang-cabang olahraga, terserah mau diapakan. Mereka yang lebih tahu. Untuk hal ini, kita tidak mengharapkan apa-apa,” kata Alex.

Hitung-hitungan soal untung-rugi, RCTI tak diuntungkan dengan penyelenggaraan pekan dana ini. “Buat RCTI tak ada untungnya, karena dana yang terkumpul disumbang ke atlet (lewat KONI-red). Buat RCTI ya, ‘image’-lah,” ungkap Alex. Sementara Linda Wahyudi, koordinator pekan dana Barcelona, menyatakan bahwa sebenarnya sumbangan (waktu itu) akan langsung diberikan ke atlet bersangkutan yang bernagkat ke Barcelona.

Tapi tak diperbolehkan dan harus lewat KONI sebagai induk organisasi cabang-cabang olahraga. Tapi Linda berharap, bantuan buat nambah uang saku para atlet – biaya pemberangkatan tim Indonesia berasal dari Menpora dan SDSB – itu direncanakan (wkatu itu) berkisar 1.000 dolar per atlet. “Mudah-mudahan dana yang terkumpul cukup besar, sehingga tiap atlet mendapat 1.000 dolar atau paling tidak 500 dolar,” ungkap Linda.

SOAL distrribusi bantuan, Rudy Hartono, pelatih khusus pria PBSI menyatakan setuju kalau dana itu diserahkan ke masing-masing cabang organisasi olahraga melalui koordinatornya, setelah pihak RCTI memperkirakan berapa besar dana bantuan itu atas dasar berapa jumlah atlet yang (waktu itu) akan berlaga di Barcelona.

Soalnya, kalau melalui KONI dikahwatirkan (waktu itu) akan melalui prosedur yang berbelit-belit dan membutuhkan waktu lama, sedangkan keberangkatannya (kala itu) sudah makin dekat.

Tapi, Rudy juga tak setuju dengan adanya kecenderungan pihak swasta yang memberikan bantuan langsung ke atlet yang berprestasi tanpa melalui koordinator cabang olahraga bersangkutan. “Namun sebagai langkah awal partisipasi pihak swasta, tindakan ini (pekan dana-red) sangat bagus. Dan bisa menambah semangat para atlet yang berlaga ke Barcelona,” ujar mantan juara All England 7 kali berturut-turut ini.

Bisa tidaknya para atlet lebih termotivasi dan lebih berprestais dengan adanya dana bantuan itu, menurut Sumohadi Marsis, pengamat olahraga dan wakil pemimpin redaksi mingguan BOLA, pemberian dana itu bisa meningkatkan prestasi.

“Dan saya kira ya banyak segi positifnya. Karena atlet yang tadinya hanya beruang saku 100 dolar, sekarang (1992-red) menjadi 1.000 dolar. Ada harapan untuk termotivasi dan lebih berprestasi. “Kalau mereka banyak uang khan mungkin lebih bersemangat karena nggak ada beban pikiran lagi, habis bertanding terus ‘shopping’,” ujar Sumohadi.

Untuk lebih mengefektifkan pengumpulan dana bagi para atlet, ketua bidang organisasi KONI Pusat Laksda (Purn) Basuki menyarnakan agar dicari kreasi-kreasi lain yang mungkin lebih efektif dan bervariasi. “Saya mendukung usaha RCTI yang positif ini. Tapi sebetulnya saya juga mengharpakan pada para konglomerat yang memiliki perusahaan-perusahaan besar agar mau mengelola salah satu cabang olahraga tetentu, sehingga cabang olahraga itu bisa berkembang dan lebih berprestasi.

Ini memang salah satu manifestasi bantuan swasta, sehingga tidak memberatkan pemerintah. Dan sekarang (1992-red) memang telah ada perusahaan besar yang telah memotori cabang-cabang olahraga tertentu, tapi baru sebagian kecil dari 39 cabang olahraga yang ada di bawah naungan KONI,” ujar Basuki (waktu itu).

Dan menurut Suweno, ketua harian KONI Pusat, pihaknya (kala itu) tengah menjajaki beberapa kemungkinan agar ada perusahaan yang bisa membantu cabang olahraga tertentu, sehingga itu bisa lebih berkembang. Dan ketika disinggung soal pengumpulan dana yang dilakukan RCTI dan bukan KONI, Suweno menyatakan, “Ya, siapa saja boleh membuat pekan dana itu. Itu khan bantuan orang yang mau berpartisipasi, kenapa harus ditolak?,” ungkapnya.

Ditulis oleh: Sigit Wahyana bersama Abdul Halim Hasan, Benny N. Yuwono, dan Erika Paula

Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer