ZOOM - PERLU SISTEM BARU PAKET MUSIK DI TVRI, TAK BAKAL LAGI DIKELOLA PERORANGAN
Banyak orang yang menyalak pada tahun 1994 alias tahun
anjing. Keras dan tegas. Begitu prakiraan sebagian orang yang perduli dengan
shio. Untuk paket musik, sudah ada salakan yang berasal dari pojok Slipi,
Jakarta Barat, tempat Ais Said, ketua bidang seni dan budaya DPP Golkar.
Gebyar Musik (TVRI), paket yang lahir pada usai Pemilu 1992 dari Golkar, tak lagi dikelola perorangan. Diambil alih DPP untuk kemudian diolah sesuai rancangan. Safari yang cukup lama dikelola Eddy Sud, rencananya (waktu itu) dipindahtangankan ke Asosiasi Industri Rekaman Indonesia alias ASIRI. Apakah salakan ini (waktu itu) bakal melahirkan sesuatu yang baur dan lebih baik serta lebih menarik dari sebelumnya? Ini patut diuji.
PEKAN pertama Februari 1994 lalu, Ais yang ditemui Cit di ruang kerjanya menyebutkan, tugas utama bidang seni dan budaya Golkar tak cuma mengurusi musik, tapi seni budaya secara menyeluruh. “Seni dan budaya Golkar tak cuma identik dengan paket Safari TVRI!,” tegasnya.
“Tapi, bagaimanapun paket yang selama ini disebut sebagai paket Golkar harus dibenahi, harus dibuat rancangan yang lebih baik dan lebih pas,” tambahnya. Apakah paket televisi yang disebut tadi memang mengalami pergeseran makna alias melencengkan idealisme yang ada?
“Kita cuma ingin memperbaiki, baik itu sistem maupun materi, agar paket itu lebih menarik,” kata Ais, putra Ali Said itu. Gebyar Musik yang selama itu dikelola secara perorangan, menurutnya tidak pas. Setidaknya, Ais menerima laporan kemelencengan pengelolaan. Meski dengan arif dia bilang, “Kita cuma memperbaiki beberapa sisi.” Jelasnya, sistem yang dikelola perorangan itu (waktu itu) akan dihapus. “Untuk kepentingan organisasi, berarti harus dikelola organisasi.”
Paket yang dari sisi penampilannya mengalami penurunan drastis ini, awalnya adalah sebuah paket yang dibuat untuk pesta hiburan usai kampanye. Jika hiburan itu bentuknya intern, berarti tak semua masyarakat Indonesia menikmatinya. Maka dibuatlah paket yang pola siarannya ‘live’. Lewat layar kaca, sudah bisa dibayangkan jutaan pasang mata (waktu itu) akan menikmatinya.
Paket itu berkembang menjadi acara bulanan. Sehingga
bobotnya makin menurun. Persoalna yang hadir adalah seputar pemilihan artis dan
penyandang dana. Maklum, untuk pemilihan artis, TVRI (waktu itu) masih
mengandalkan sistem kekelaurgaan, ketibmang sistem manajemen ‘entertainment’
yang baik. Artinya, artis yang hendak mengisi paket itu cukup ditelepon atau
dihubungi langsung. Jika bersedia, lantas dicatat.
Jika kemudian berhalangan, meski sudah mengiyakan sebelumnya, tak ada sanksi. Karena memang tak mungkin memberi sanksi lewat sistem seperti itu. Lalu soal penyandang dana, di TVRI yang (waktu itu) mengharamkan advertensi legal, memang harus mengalmai hambatan. Setidaknya, pola berpromosi bagi produk yang mendanai cukup terbatas. Ini bisa membuat orang enggan menanam duit di paket itu.
“MAKANYA, kita akan bikin aturan main yang baru. Kita sudah bicara dengan pak Aziz (Husein, Direktur Teleivsi-pen), bahwa paket ini akan kita kelola sendiri,” tutur Ais lagi (waktu itu). Sistem yang didapat kelihatannya langsung menentukan bentuk acara, sekaligus menentukan materi pengisi acara, terus melakukan dialog dengan pihak TVRI. Lalu diprdouksi. Pengelola (waktu itu) akan mencari penyandang dana. TVRI mendapat ‘broadcasting fee’ sebesar 30 juta perak.
Sistem satu ini, kelihatannya cukup klop. Apalagi Ais kemudian sudah punya bayangan rancangan. Selain menampilkan artis yang memang pantas untuk pola siaran ‘live’, dia juga ingin membuat paket ini menjadi idola. Misalnya, lewat keinginan menampilkan figur idola sebagai pembawa acara.
Cuma, kalau kita masuk pada pembicaraan Safari, ini menjadi lebih menarik. Safari adalah paket yang dibagi dua bentuk menjadi Aneka Ria Safari (ARS) dan Aneka Ria Nusantara Safari (ARNS). Mulanya, ARS adalah sebuah paket berisikan bermacam lagu. Sementara ARNS adalah paket yang berisikan lagu dangdut dan lagu daerah.
Tapi belakangan, isi dua paket ini sama saja. Bahkan ada kecenderungan menganakemaskan dangdut, sehingga identiklah paket ini sebagai paket dangdut. Soal ini, Eddy Sud pernah bercerita, “setelah saya evaluasi, penggemra musik dangdut di televisi ternyata lebih banyak dari pendengar musik lain.”
Pernah pula direkam di panggung umum yang penontonnya adalah anggota ABRI – sewaktu menjalankan AMD (ABRI Masuk Desa). Tapi akhirnya kembali ke pola lama, rekaman di studio yang dilengkapi dengan penonton.
EDDY SUD merasa Safari (waktu itu) sudah saatnya melebarkan sayap. Maka lahirlah sebuah paket bernama Talaraga (TVRI Bandung) sebagai perpanjangan tangan Safari di Bandung, yang dikoordinir Tetty Kadi, koordinator artis Safari Jawa Barat.
Safari adalah paket yang konsumen masyarakatnya menengah ke bawah. Ini pun pernah diakui Eddy Sud. Bahkan Sofyan Arnold Siregar, pengarah acara, yang cukup lama menangani paket ini sangat bangga. Ketika dia berkunjung ke sebuah daerah di Kalimantan, Sofyan Arnold merasakan hal itu. “Pada saat Safari disiarkan, orang nongkrong beramai-ramai di depan layar televisi.” Jelas terjadi sebelum televisi swasta berjamur.
Eddy Sud sebagai otak Safari nampaknya cukup ‘enjoy’ menangani paket ini. Setidaknya baginya ini adalah wujud dari perjuangan yang dilakukan untuk dunia musik. Bahkan ketika nama Eddy Sud sudah copot dari anggota DPR dia bersyukur. “Saya bisa konsentrasi lagi pada pekerjaan saya sebagai koordinator artis Safari. Tempat perjuangan itu ditempatkan pada porsi kita,” tuturnya.
1994, memang Ais mengisyaratkan lain. Safari yang menurtunya berhubungan erat dnegan bidang yang dikomandoinya haru sdiolah lagi. Bahkan dia sudah menyebut-nyebut ASIRI sebagai pengelola baru. Artinya (waktu itu) akn dicopot dari tangan Eddy Sud. Alasannya cukup sederhana: ASIRI adalah organisasi yang mengurusi bisnis kaset dan tentu sangat tahu tentang pengolahan paket yang juga berisi lagu-lagu kaset baru (ketika itu) ini.
APAKAH ini (waktu itu) bakal menjadi langkah yang gemilang dan membuat Safari menjadi lebih baik? Sebelum sebuah keputusan diambil, ada baiknya kita juga melihat langkah ASIRI ke belakang. Sebelum ini, organisasi perusahaan rekaman itu menangani sebuah paket bertajuk Selekta Pop. Paket ini menjadi paket tertenar (waktu itu) yang sangat banyak wajahnya dibentuk oleh DJ Nawi, pengarah acara (belakangan itu kepala seksi perencana siaran drama TVRI Stasiun Pusat Jakarta).
Ketika paket musik (komersial) semakin marak di televisi, Selekta Pop harus pula mengalami penurunan. Adalah pihak TVRI mengusir paket itu karena (alasan) belum beresnya administrasi. Pihak ASIRI (waktu itu) belum membayar dana yang seharusnya dibayarkan ke TVRI sampai ratusan juta perak.
Sejak itu langkahnya mulai terseok-seok, bahkan terpuruk hingga tak punya gigi lagi. Akhirnya mati segan hidup tak mampu. Smapai tahun 1993 lalu, sesekali Selekta Pop muncul, tapi sesungguhnya itu cuma paket “terpaksa”. Setidaknya pihak produser yang ingin mempromosikan kaset mereka sudah lebih percaya memilih paket lain (di TVRI juga-red) yang semakin kuat, semisal Musik Kita, Video Musik Indonesia, dan yang lainnya.
Ringkasnya, ASIRI tak bisa menunjukkan kemampuannya mengelola sebuah paket, kandas dan tak bisa digerakkan lagi.
“KALAU menangani Selekta Pop saja sudah tak bisa, bagaiman abisa menangani paket lain?,” kata seorang produser. Tapi prdouser lain malah punya pendapat yang lain, “Mungkin setelah pergantian ketua, boleh juga ini menjadi bahan pemikiran.” Pergantian pengurus ASIRi biasanya berlangsung pada bulan Februari.
Ais juga (waktu itu) masih sebatas membicarkaan dengan ASIRI. Meski dengan segala alasan yagngdikemukakan bahwa organisasi inilah yang palign pantas menangani Safari, sebagian orang (waktu itu) masih punya pendapat bahwa sejauh itu Safari berjalan baik-baik saja. Meski pada tahun 1993 lalu, paket ini sempat tergoncang “badai”, dengan isu persoalan yang mendekati kasus Selekta Pop. Namun, Eddy Sud sebagai koordinator masih mampu menyelesaikan masalah itu secara tuntas.
Jelas semuanya harus dibereskan, maka ada baiknya (waktu itu) pihak Ais memusyawarahkannya dengan Eddy Sud. Tak bisa disangkal kalau Eddy Sud adalah figur yang begitu berjasa untuk perkembangan paket tersebut.
Tapi lepas dari semua itu pemirsa televisi cuma punya satu keinginan yang sama: menyaksikan paket televisi (TVRI) yang menarik buat dipirsa. Urusan apa dan bagaimana paket itu diproses, terserahlah. Pihak TVRI yang berkompeten sepertinya tak ingin berkomentar soal ini. Cuma satu kalimat, “Kita tunggu saja, mudah-mudahan akan lebih baik dan bagus.”
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar