ZOOM - MENYAMBUT INDONESIA EMAS DAN HUT TELEVISI SEKALIGUS
Waktu yang bukan dipas-paskan, tapi memang benar-benar bertepatan, perayaan Indonesia emas (50 tahun Indonesia Merdeka) berdekatan dengan HUT televisi. Maka, selain sibuk membuat paket-paket perayaan Indonesia emas, ternyata pihak televisi macam TVRI, RCTI, dan SCTV sibuk pula menyiapkan paket perayaan HUT mereka.
Oeroeg Mega Sinetron RCTI
YANG benar-benar siap khusus untuk Indonesia emas justru stasiun televisi bungsu, Indosiar. Maka itulah, khusus untuk Indonesia emas, Indosiar menyiapkan tak cuma materi acara, tapi juga menambah jam tayang, sejak tanggal 13 Agustus 1995 siaran 24 jam nonstop, selama 7 hari. Sajian-sajiannya telah dirancang (baca juga halaman I-II, Bonus Citra No. 280/VI/7-13 Agustus 1995).
Satrio Hutomo, humas Indosiar, menyebut sebagian acaranya kesenian tradisional. Sebab, memang yang ditayangkan adalah seputar wayang.
Selain acara-acara kesenian tradisional ini, Indosiar pun menayangkan sajian khusus. Misalnya saja hari Jumat (18/8/95), tayangan yang bertajuk Bintang Berbintang, merupakan tayangan sajian khusus para purnawirawan. Menurut Satrio Hutomo, tayangan ini sepenuhnya (waktu itu) akan diisi oleh para purnawirawan. Jenis tayangannya ‘variety show’. “Ini merupakan wujud terima kasih kami kepada para pejuang.”
Begitu juga untuk tayangan Pesta, hari Minggu (13/8/95). Tayangan ‘variety-show’ yang selalu disesuaikan dengan temanya ini (waktu itu) akan menampilkan tema Pesta Merdeka. Tyanagna ini sepenuhnya bernuansa pesta merayakan kemerdekaan.
Semua tayangan ini sebenarnya bukan sengaja diproduksi untuk Indosiar. Namun, menurut Satrio Hutomo, Indosiar memanfaatkan ‘event’ yang memang berlangsung. Misalnya saja, pertunjukan wayang Ki Manteb, juga Ki Timbul, yang memang berlangsung di Surakarta (Solo) sengaja diambil oleh Indosiar.
Begitu juga pertunjukan Lenong Betawi Setia Warga, Wayang Bali, Ketoprak Siswo Budoyo, Ludruk RRI, maupun Wayang Banyumasan, bukan sengaja diproduksi untuk Indosiar, tapi Indosiar sengaja mengambil tayangan yang memang sudah ada. Mengenai jenis tayangan tradisional ini, Satrio Hutomo mengingatkan bahwa (saat itu) sudah banyak penonton yang tahu dan menggemari wayang. Apalagi untuk wayang, di daerah-daerah tertentu, memiliki penggemar fanatik.
The Kiss of The Spider Woman ‘rerun’ selewat tengah malam
Mas Bejo sepekan sinetron TVRI
DARI seluruh pertunjukan yang sengaja diambil oleh Indosiar ini, Satrio Hutomo menyatakan (waktu itu) belum merinci berapa besar biaya produksi untuk acara tradisional.
“Yang jelas kami berikan insentif atau sekadar biaya produksi untuk masing-masing acara. Hingga saat ini (1995-red), beberapa materi tayangan tersebut telah selesai diproduksi. Mungkin sebelum hari H sudah selesai semua,“ ungkapnya. Menurutnya, tayangan tersebut (waktu itu) masih harus diedit lagi untuk memberikan hasil yang lebih baik.
Sementara itu, Indosiar yang (sebelum 12 Agustus 1995-red) belum pernah mengudara di pagi hari, selama 7 hari (13 s/d 19 Agustus 1995-red) ini pula, pemirsa bisa menyaksikan tayangan pagi Indosiar.
Banyak di antaranya merupakan tayangan ‘features’, sebagian lagi merupakan tayangan untuk anak (era itu). Sementara film-film selewat tengah malam merupakan ‘rerun’ dari film-film yang (sebelum Agustus 1995-red) pernah ditayangkan Indosiar, sebut saja misalnya Kiss of The Spider Woman, They Live, maupun Speedy.
Stasiun satunya, SCTV pun menyiapkan beberapa mata acara untuk menyambut 50 tahun Indonesia Merdeka, misalnya dengan acara siaran langsung pergelaran Pesta Rakyat dari Parkir Timur Senayan, Jakarta, 12 Agustus 1995.
Yang ini adalah kerjasama SCTV dengan pantiia pelaksana Pesta Rakyat. Selain itu, ada pula Nuansa Indonesia Emas, Renungan Perjuangan ’45, serta pemutaran beberapa film nasional yang bernafaskan perjuangan. Di samping itu, SCTV juga menyiapkan paket Indonesia Berbisik garapan maestro sinema Indonesia, Teguh Karya.
Teguh Karya bikin Indonesia Berbisik di SCTV
Menurut Budi Darmawan, humas SCTV, selain untuk perayaan 50 tahun Indonesia merdeka, SCTV juga hendak merayakan HUT-nya yang ke-5, yang tepatnya jatuh pada tanggal 24 Agustus 1995 (tapi puncak perayaannya disiarkan langsung 27 Agustus 1995-red). “Kami ingin berterima kasih juga pada seluruh kalangan yang telah banyak membantu kami sehingga dalam perjalanan 5 tahun SCTV telah melangkah dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti,” tutur Budi Darmawan pula.
Itulah sebabnya, dalam salah satu segmen (waktu itu) akan diungkap secara jelas kilas balik SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), “Serta tarian ritual yang digelar Bimbo bersama Franky Raden yang menggambarkan syukur atas kemerdekaan emas Indonesia,” tambahnya.
RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) sendiri tak punya paket yang spesial. Kalaupun ada hanaylah penayangan film layar lebar Oeroeg yang dibuah menjadi slot Mega Sinetron 4 episode, ditayangkan setiap Minggu pukul 19.30.
Menurut Ichsan, humas RCTI, untuk HUT RI (ke-50, red) – saat itu – sudah ada acara yang mesti ditayangkan (oleh semua stasiun televisi di Indonesia-red) secara sentral dari TVRI (pidato Presiden Suharto, upacara penaikan bendera, upacara penurunan bendera-red).
Meski demikian, dalam kaitannya dengan HUT RCTI (ke-6, red) pada tanggal 25 Agustus 1995, (waktu itu) telah pula disiapkan tayangan ‘live’ dari Candi Prambanan, Jawa Tengah. Selebihnya, RCTI (waktu itu) hanya akan memutar film-film layar lebar bertema kebangsaan, seperti Ksatria Perwira, Pasukan Berani Mati, dan lain-lain.
LANTAS, bagaimana pula dengan stasiun tertua, TVRI? Selain sibuk dengan rekaman paket Semarak Dangdut di eks sirkuit Ancol, 5 Agustus 1995 lalu (direncanakan – ketika itu – ditayangkan 3 bagian), ternyata juga mereka menyiapkan sepekan sinetron. “Kami menyajikan sepekan sinetron, sekaligus dimaksudkan untuk 2 momen: 50 tahun Indonesia Merdeka dan HUT TVRI (ke-33, red),” kata D.J. Nawi, kepala seksi perencana siaran drama TVRI.
Masih menurut Nawi, ada 7 sinetron yang (saat itu) sedang digarap, Lukisan Senja (sutradara Suratman Absa), Patung (sutradara, Deddy Lazuardhi), Lagu Yang Terpotong (sutradara Agus WIjoyono), Senja (sutradara, Muslim Suhitman), Ode (Nyanyian) Mbok Anjar (sutradara, Husein Kusuma), dan satu lagi garapan Bambang Rochyadi.
“Rata-rata masih dalam penggarapan, tapi punya saya sudah 80%. Punya saya paling panjang, sekitar 105 menit sementara yang lain 70 sampai 75 menit,” tutur Suratman Absa, salah seorang sutradara yang terlibat dalam sepekan sinetron ini.
Selain itu, pihak TVRI juga diam-diam menyiapkan satu paket khusus untuk perayaan HUT-nya. Paketnya seperti biasa mereka sajikan tiap tanggal 24 Agustus 1995. Ada upacara sakral, penyerahan piala Gatra Kencana, untuk lomba paket antar stasiun daerah punya TVRI, kemudian hiburan untuk ditayangkan pada pemirsa. “Hiburannya dengan sistem ‘minus one’ dan ‘playback’,” tutur Hoediono Drajat, kepala seksi perencana musik dan hiburan TVRI.
Ditulis oleh: Erika Paula, Ferry “Pey” Ferdinand, Aris Muda Irawan, Benny N. Joewono, Remy Soetansyah, Hans Miller Banureah
Dok. Citra – No. 280/VI/7-13 Agustus 1995, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar