ZOOM - HARMONI RASIAL FILM-FILM TELEVISI AMERIKA ANTARA REKAYASA DAN REALITA

 Miami Vice dan In The Heat of The Night, adalah contoh harmoni rasial film TV

DALAM film-film televisi yang diimpor dari Amerika – sebaigan besar (belakangan itu) diputar di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)-SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) – banyak menampilkan aktor dan aktris kulit hitam dan kulit putih. Sebagai contoh sebut saja In The Heat of The Night, Miami Vice, Mission Impossible, D.E.A, Dark Justice, Street Justice, S.W.A.T, Major Dad, Superforce, Law and Order, dan masih banyak lagi (keterangan: D.E.A. diputar di TVRI Programa 2-red).

Film-film yang berepisode panjang itu menggambarkan hubungan yang harmonis antar dua ras yang berbeda dalam mengatasi sebuah masalah. Atau tokoh-tokoh yang berbeda warna kulit itu bisa bekerjasama dengan baik, tanpa friksi dan tanpa memandang lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Kecuali karena jabatan. Benarkah dalam realita hubungan sosial antar mereka semesra dan seharmonis yang digambarkan dan kita lihat dalam film-film itu?



















































































Jawabnya bisa ya atau sebaliknya. Tapi peristiwa Los Angeles (Rabu, 29 April 1992 lalu-red) dan insiden New York atau kerusuhan ‘hispanic’ (Senin, 6 Juli 1992 lalu-red) cukup menunjukkan bahwa ternyata hubungan antar ras di Amerika Serikat memiliki potensi untuk saling berbenturan yang akhirnya memunculkan kerusuhan. Bahkan dalam sejarah perjalanan Amerika Serikat pun menunjukkan bahwa soal rasial merupakan masalah krusial yang selalu muncul.

Memang, Amerika sering menyebut dirinya sebagai ‘melting pot’, sebagai sebuah bejana yang di dalamnya cair dari berbagai bangsa. Dan sulitnya, tiap-tiap ras atau kelompok memeprtahankan karakteristiknya masing-masing, hingga terciptanya sebuah harmoni ras dalam hubungan sosial tak mudah.

Tapi Jenderal Colin Powell (kepala staf gabungan angkatan bersenjata dan orang tertinggi keturunan Afrika-Amerika di angkatan darat AS, 4 Mei 1992 lalu – sesuai peristiwa Los Angeles – di depan mahasiswa – era itu – menyatakan bahwa Amerika merupakan satu-satunya negara di dunia yang berusaha terus-menerus untuk merealisasikan Amerika yang sesungguhnya.

“Situasi Los Angeles dan lusinan kota, minggu lalu menyatakan pada kita dengan sesungguhnya bahwa perjalanan kita masih panjang, sebelum Impian itu menjadi kenyataan,” ujarnya (waktu itu).





















NAH, (belakangan itu) apakah ditampilkannya tokoh-tokoh kulit hitam dan putih dalam film-film tersebut memang disengaja untuk sebuah upaya rekayasa harmonisasi hubungan antar ras yang ada? Paulus Wirutomo, ketua jurusan sosiologi UI yang pernah tinggal di Amerika dalam menempuh studinya di ‘State University of New York’ tak menyangkal adanya misi itu. Menurutnya, orang-orang Amerika menyadari bahwa masalah rasial (waktu itu) masih menjadi problem yang krusial, sensitif.

Karenanya, berbagai cara dilakukan untuk mengurangi ancaman kerusuhan. Media televisi atau film yang memiliki efek kuat dan misi pendidikan dipilih sebagai media untuk mensosialisasikan pesan harmoni itu. Jadi tampilnya tokoh kulit hitam dan putih dalam banyak film itu, disengaja. Karena cepat atau lambat, dapat menjadi stimuli (perangsang) yang baik dalam hubungan kulit hitam dan putih.

 














































































Bahkan (belakangan itu) dalam beberapa film orang kulit hitam sering dijadikan tokoh utama atau pahlawan, meskipun harus diakui (waktu itu) masih tetap saja ada orang kulit putih yang memandang lebih rendah pada orang kulit hitam. “Tapi dengan sering ditampilkannya orang-orang kulit hitam sejajar dengan orang kulit putih, dampaknya makin lama akan main baik, artinya, hal tersebut dapat mendorong adanya harmonisasi rasial di antara mereka,” ujarnya.

Masmimar Mangiang, staf pengajar FISIP-UI hanya menduga, bukan berpendapat – bahwa banyak ditampilkannya tokoh kulit hitam dan putih di film itu memang sebagai usaha rekayasa harmonisasi rasial. “Kalau kita mau bicara soa lini, kita mesti tahu betul konstalasi politik dan budaya di Amerika Serikat. Tapi yang jelas, mereka ingin menampilkan sesuatu yang ideal bagi masyarakatnya,” ujar Mangiang.

Sebaliknya, Direktur Televisi Drs. Ishadi SK, M. Sc., yang juga pernah tinggal beberapa tahun di Amerika, tak sependapat kalau tampilnya bintang kulit hitam dan putih dalam film-film televisi Amerika itu sebagai upaya rekayas auntuk harmoni antar ras. “Memang seperti itulah adanya!,” ujarnya.

Ishadi memberi 2 alasan, pertama, berkaitan dengan pertimbangan pasar. Dengan menampilkan dua sosok hitam-putih yang bekerjasama, mengesankan netral. Tidak berpihak. “Jadi, memang tak ada niatan untuk meredam isu rasialisme,” tambahnya. Kedua, berkaitan dengan realita. Dalam kenyataan warga kulit hitam pun banyak yang menduduki jabatan-jabatan penting dan profesi yang sejajar dengan warga kulit putih.

DR. Salim Said, pengamat film, yang jgua pernah tinggal di Amerika, sependapat dengan Ishadi bahwa tampilnya bintang-bintang kulit hitam dan putih di banyak film itu bukan karena rekayasa dalam mengharmonisasikan hubungan antar ras. Tapi lebih merupakan karena orang-orang kulit hitam makin maju dan berkembang dalam bidang ‘entertainment’ atau hiburan.

Pada tahun 1950-an dalam banyak film orang-orang kulit hitam biasanya hanya berperan sebagai pelayan. Tapi lama kelamaan bisa menjadi tokoh yang lebih berperan bahkan tokoh-tokoh utama. Di samping itu adanya persepsi orang-orang Amerika secara keseluruhan terhadap orang kulit hitam makin baik dan positif.

EDUARD DEPARI, manajer litbang RCTI dan staf pengajar FISIP-UI jruusan komunikasi yang juga lebih dari 6 tahun tinggal di AS, menyatakan bahwa tampilnya tokoh kulit hitam dan putih dalam film-film televisi memang ada maksud untuk mengharmonisasikan hubungan antar ras. Itu hanya salah satu misi pendidikan tayangan-tayangan televisi.

Misi pendidikannya terletak pada bagaimana mereka mensosialisasikan nilai-nilai kehidupan harmonis yang tidak harus selalu dengan kata-kata. Tapi dengan menggambarkan perilaku orang kulit hitam dan kulit putih dalam tayangan mereka, sehingga tayangan demikian itu dapat sebagai model peran atau ‘role model’.

Dan diharapkan masyarakat akan bercermin pada apa yang mereka lihat di televisi, dan dalam kehidupan aktualnya mereka akan mencoba menghargai adanya perbedaan-perbedaan ras serta melihat perbedaan itu bukan sebagai hambatan untuk berhubungan secara harmonis. Untuk hal ini dalam banyak film dicontohkan.

Misalnya, di In The Heat of The Night, di sana digambarkan seorang komisaris polisi yang kulit putih dengan atasan atau supervisi yang justru orang kulit hitam. Di sini ingin menggambarkan kenyataan. Inilah situasi ideal. Di mana orang kulit hitam bekerjasama dengan orang kulit putih dan harmoni rasial bisa terselenggara tanpa ada prasangka-prasangka. Kenapa film In The Heat of The Night dan semacamnya diproduksi?

Menurut Eduard, karena relaitas sosialnya (waktu itu) belum menggambarkan kodnisi yang ideal. Mereka melihat bahwa harmoni sosial merupakan suatu misi yang harus diperjuangkan realisasinya.

Oleh karena itu, tayangan televisi punya kontribusi, punya sumbangan dan misi untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi harmoni rasial. Di samping harmoni rasial itu bisa dibentuk dan dikembangkan secara alamiah, jika ada keterubkaan dan mau menerima perbedaan-perbedaan ras yang ada dan melihat kepentingan bangas lebih penting daripada perbedaan-perbedaan yang bisa memisahkan.

 











Upaya pengharmonisasian antar ras tidak hanya ditempuh dengan menampilkan tokoh-tokoh film kulit hitam dan putih secara terus-menerus, tapi juga dengan cara memutarbalik ‘stereotype’ dalam masyarakat Amerika Serikat. Eduard menunjuk Bill Cosby Show (di Indonesia diputar TVRI-red).

Dalam serial itu realitas dicoba dijungkirbalikkan, kedua tokoh suami-istri (kulit hitam-red) memegang posisi dan memiliki profesi sebagai dokter bedah dan pengacara yang selama itu didominasi oleh orang-orang kulit putih. Dan dalam The Jefferson Family (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red) hubungan yang harmonis antara kulit putih dan hitam digambarkan secara jelas.

Di serial ini, dua keluarga saling berbesan, yang satu berasal dari keluarga kulit hitam, satunya lagi berasal dari keluarga kulit putih. Tapi telah beristri dengan orang kulit hitam. Hal ini sebenarnya mencoba menghilangkan ‘stereotype’ tentang ras. Sanggukah media televisi mengemban misi untuk mengharmonisasikan hubungan ras yang ada di Amerika yang menyebut dirinya ‘melting pot’ itu? Tak mudah, tapi Amerika punya semboyan ‘E Pluribus Unum’ yang berarti bhinneka tunggal ika.

Ditulis oleh: Sigit Wahyana bersama Tubagus Udhi Mashudi

ROBERT SCHIDT: “DUA DUNIA BERBEDA”

MENURUT Robert C. Schmidt, direktur Pusat Kebudayaan Amerika di Indonesia, tampil tidaknya tokoh kulit hitam atau kulit putih dalam film-film Amerika tergantung misi pembuat film. Soalnya, di Amerika Serikat dalam proses pembuatan film tidak ada campur tangan dari pihak pemerintah.

“Saya tidak tahu pasti tujuan dalam membuat sebuah film. Tapi yang jelas tujuan mereka adalah bagaimana meraih untung sebesar-besarnya. Karenanya, dalam memproduksi sebuah film, seorang pembuat lebih dipengaruhi faktor untung-rugi.

Kalaupun kemudian muncul tokoh-tokoh kulit hitam dan putih dalam banyak film yang juga menggambarkan harmonisasi hubungan antar mereka, saya pikir memang hal itulah yang tengah laku di Amerika. Tapi apakah itu sebagai salah satu upaya dalam mengharmonisasikan antar ras? Saya tidak tahu!,” ujarnya. Soal ras, Robert Schmidt mengunggkapkan bahwa di Amerika ada banyak ras dan etnis yang hidup bercampur-baur, sehingga Amerika disebut ‘melting pot’.

Tapi ada sebagian orang Amerika yang berpikir dan mengakui bahwa di Amerika memang (waktu itu) masih ada masalah rasial. “Tapi soal persamaan hak dan ras ini, sekarang (1992-red) sudah banyak mencapai kemajuan. Buktinya, banyak orang kulit hitam yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Dan di dunia ‘entertainment’ pun orang-orang kulit hitam banyak mencapai kemajuan.”

Bicara ihwal film Amerika di televisi, harus dibedakan jadi dua. Pertama, dunia nyata. Kedua, dunia televisi. Dunia televisi dikendalikan oleh faktor komersial yang sangat memperhitungkan untung-rugi.

Kecuali stasiun televisi PBS (‘Public Broadcasting System’) yang hidupnya dari dukungan publik, sehingga dalam banyak program acaranya sering mengesampingkan faktor-faktor komersial. Sedangkan dunia nyata, Amerika merupakan dunia yang kompleks. Dan masalah rasial merupakn masalah penting. Karena Amerika merupakan multiras, multietnis. “Jadi, gambaran dua dunia itu adalah dunia yang amat berbeda.”

Ditulis oleh: Sigit Wahyana

Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer