ZOOM - BEREBUT PEMIRSA ABG DI HARI PETANG, “MBOK JANGAN TERUS-TERUSAN MENCURIGAI ANAK MUDA”
“SEJAK awal, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) sudah menetapkan sasaran pemirsanya, yaitu memuaskan semua kalangan, yang kalau mau dicakup cukup dengan kalimat: untuk keluarga!,” begitu tegasnya. Menyimak “saudara mudanya”, SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), pun demikian halnya. Kendati SCTV terasa (saat itu) paling memanjakan pemirsa wanita (baca: ibu-ibu muda – era itu) lewat serangkaian panjang telenovelanya.
Namun, di awal-awal 95 ini, ANteve mencoba menggeliat, mencoba beda dari yang lain. Dengan gebrakan teknologi digital dan pemancangan pemancar tertinggi di Indonesia, Agung Laksono, presiden direktur ANteve, berjanji (waktu itu) bakal mengibarkan ANteve, sebagai televisinya ‘new generation’, (usia waktu itu) 15-40, kendati – memang – tak mengharamkan tayangannya untuk dinikmati mereka yang (waktu itu) tak termasuk usia muda (Citra No. 259, Advertorial).
Dengan “gong” ini, di saat stasiun TV lain (TPI, Indosiar,
RCTI, SCTV-red) saling bertempur di pasar keluarga, maka ANteve jadi bisa
“bermain sendiri.” Dan ini sebuah strategi yang menarik dalam menghadapi
“tantangan jaman.”
Sebab, seperti diungkakan Widyantoro, asisten ‘general
manager marketing’ ANteve. “Ya, kita khan kalah duluan memangsa kue segmen
keluarga dibanding TV swasta yang muncul duluan (RCTI, SCTV, TPI-red). Kalau
kami harus juga bertahan di segmen keluarga, kami hanya akan berstatus sebagai
‘follower’.”
Maka (di)lahir(kan)lah tayangan-tayangan lokal yang “meng-ABG (anak baru gede)”, dikemas dalam gaya khas anak muda (era itu), urakan, nakal tapi cerdas, ‘young and trendy’. Ambil contoh Hari Harry Mau, Spesial Pake Telor, Acara Tanpa Nama, Friday Nite Live, Intermezzo, dan Pondok Indah.
Ini langsung mendapat sambutan. Artis tarik suara dan sinetron, Dewi Gita, jadi bisa membedakan ANteve dengan stasiun TV lain. ANteve di matanya pas banget jadi TV-nya anak muda. Rebecca Tumewu (Becky Tumewu-red) bertutur, “Format tayangan ANteve sesuai dengan keberadaan anak muda.” Tapi apakah dengan demikian, ANteve betul-betul melenggang sendiri, seperti yang dikatakan Agung Laksono?
Rasanya tidak. ANteve tetap tidak (dibiarkan) melenggang
sendiri, dan karenanya tetap harus bertempur untuk mendapatkan “kue” segmen
remaja. Dan itu terasa di jam-jam tayang petang hari, menjelang pergantian
siang dan malam.
Alasan terjadinya “perang” perebutan kue segmen remaja di
petang hari (16.00-18.00) pun cukup masuk akal. Menurut Budi Darmawan, staf
humas SCTV (waktu itu), “Di petang hari remaja mulai masuk ke rumah dan
mengurangi aktivitasnya di luar rumah, di saat itulah pemegang keputusan
menonton tayangan TV ada di tangan kalangan ABG, kaum muda.”
Kenapa tidak di malam hari? “Oh, di malam hari, pemegang keputusan menonton tayangan teramat banyak, mulai dari anak kecil, ibu si anak muda itu, ayahnya, bahkan mungkin nenek dan kakeknya,” tutur Budi sambil tertawa.
PADA kenyataannya, rata-rata tayangan untuk ‘new generation’
yang (saat itu) belum masuk “tingkat” ‘baby boomers’ ini memang ada di petan
ghari. Selain tayangan impor Beverly Hills 90210 (Minggu, 17.00-18.00 WIB),
RCTI juga menayangkan paket lokal untuk usia muda – era itu – (yang menurut SRI
– generasi yang usianya waktu itu – 15-24 tahun), seperti Sahabat pilihan
(Kamis, 17.30), Kuis Dari Hati Ke Hati (Kamis, 18.00), dan yang terbaru Aksi
(yang ini Sabtu, 11.00),” papar Anita.
SCTV selain menayangkan tayangan impor Ocean Girl, juga menohok kaum muda (era itu) lewat paket lokal Zimfoni (Jumat, 17.00), Bias Close Up (Minggu, 18.00), dan mulai Mei 1995 nantinya, “Ditambah dengan serial Emosi garapan Adisurya Abdi,” timpal Budi.
Teve swasta termuda (era itu), Indosiar, juga (waktu itu) mulai “gatal” membuat tayangan lokal untuk kaum muda (era itu). Dan syutingnya (saat itu) sudah mulai mereka lakukan Rabu dan Kamis (5 dan 6 April 1995) lalu. Yakni, kuis Waku Waku. Bagaimana dengan TPI (Televisi Pendidikan Indonesia)? Jangan ditanya lagi. Menurut Tria Utama, humas TPI, “Saat ini (1995-red) ada 8 mata acara yang disiapkan TPI khusus untuk pemirsa remaja.”
Beberapa di antaranya adalah Bokis, Bursa Obrolan Kreatif dan Sensasi (Rabu dan Sabtu, 17.30), AIR, Agama Islam dan Remaja (Rabu dan Sabtu, 18.00), TV Boy (Kamis, 16.00), Jendela Anak Muda (Senin, Rabu, Sabtu, 16.00), di samping ABG (Aneka Bakat dan Gaya) (Minggu, 08.30), dan Bahana Suara Pelajar (13.00).
TVRI, sebagai satu-satunya TV milik negara ini dan tertua, sebenarnya juga punya acara khusus untuk remaja, dan (sampai saat itu) sudah berumur cukup lama. Yakni Temu Remaja yang sayangnya tak berkembang sama sekali. Melihat semua ini terasa betapa remaja (era itu) dijadikan sasran maha empuk teramat banyak tayangan. Belum terhitung tayangan untuk usia dewasa (era itu) – non remaja – yang juga dicandui kaum ABG (era itu) ini.
KALAU demikian, “kue” segmen remaja ini tetap jadi kecil karena – pada akhirnya – toh diperebutkan semua stasiun TV? Bukan cuma ANteve yang menjadikan ‘new generation’ sebagai pangsa utamanya. Kesimpulan prematur ini tidak menggentarkan para pengelola stasiun TV. “Remaja itu pangsa potensial!,” tegas Budi Darmawan.
Iklan-iklan yang bisa direbut yang memang menjadikan remaja (era itu) sebagai sasaran pembelinya juga tak sedikit. Ambil contoh, 1 ‘item’ saja, bisa sedemikian banyak labelnya: jins! Bisa Lea, Levi’s, TIRA, dan masih banyak merek lain, lokal, impor, ataupun cuma labelnya yang impor, tapi dibuatnya di negeri ini.
Belum lagi, papar Budi, “Produk-produk massal yang mampu dijangkau oleh anak muda yang punya uang saku terbatas.” Ya, ambil contoh coklat, permen, juga sampo dan sejenisnya. Termasuk restoran-restorannya anak muda (era itu). Ini bisa makin melebar, jika yang jadi ukurannya adalah uang saku anak muda metropolitan Jakarta (era itu). Pokoknya, singkat Tria, “Remaja adalah penonton potensial.” Dan kalau potensial, bisa ditebak, iklan yang bisa direbut pun potensial!
FENOMENA berebut pangsa remaja, anak muda, ABG, atau apapun istilahnya untuk menyebut mereka yang berada di rentang pancaroba adalah hal yang sah-sah saja, tidak haram. Sungguh. Pertanyaan besarnya (waktu itu) adalah bagaimana isi tayangan-tayangan remaja itu? Banyak kritik terlontar.
Ada yang dituding melecehkan kaum wanita macam Kuis Dari Hati Ke Hati, cenderung jelek, rating tak bagus tapi dipaksa bertahan karena masih ada iklannya seperti Zimfoni, Bias Close Up, dan Project P, tanpa konsep kayak Acara Tanpa Nama, komedi ‘slapstick’ yang bukannya bikin ketawa malah membuat orang pingin marah seperti Spesial Pake Telor, jiplakan seperti Pondok Indah yang mirip-mirip Beverly Hills, bahkan melechekan kaum pria seperti yang ditampilkan TV Boy.
Dan yang paling umum, tayangan-tayangan remaja itu dicap: terlalu ringan! Untuk yang terakhir ini, ditanggapi ringan oleh Duto Sulistaidi, penanggung jawab Kuis Dari Hati Ke Hati, “Memang sengaja dibikin ringan!”
Tapi soal jeleknya tayangan-tayangan ini, khususnya Kuis Dari Hati Ke Hati, tidak diterima begitu saja oleh Duto. Kuisnya, misalnya, tetap punya sisi positif. “Lewat paket ini, remaja bisa mengenal potensi wisata di berbagai daerah di Indonesia. Dan yang terutama, lewat acara ini juga, dapat diketahui cara berpikir dan apa yang diinginkan remaja.”
Singkat kata, maunya para pengelola, ‘mbok’ ya jangan cuma lihat kemasannya. Segala yang berkesan nakal, ringan, dan urakan belum tentu tak berisi, tak (men)cerdas(kan). Toh, seperti yang pernah dicanangkan pihak ANteve, ada paket-paket yang sekali lagi – “Urakan, nakal, tapi cerdas, ‘young and trendy’.”
Apalagi, (waktu itu) masih ada – dan tak sedikit – paket untuk remaja (era itu) yang “penuh harapan,” digarap oke banget macam Intermezzo-nya Rizal Manthovani (BDI). Atau yang punya muatan moral macam AIR. Jadi, sekali lagi, ya mbok jangan terus-teursan mencurigai anak muda (era itu), kalaupun ada yang patut dicurigai, ya… mereka-mereka yang memperkuda anak muda (era itu), memanfaatkan anak muda (era itu) untuk semata-mata gepokan lembar-lembar Sudirman.
Ditulis oleh: Maman Suherman, Utami Sri Rahayu, Erika Paula
Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan






.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar