ZOOM - 50 TAHUN PROKLAMASI DI LAYAR TELEVISI, RCTI KOMPLET, SCTV MULAI MARET 1995, ANTEVE DISIBUKI MENARA, TPI “BERTERIMA KASIH,” INDOSIAR TERLALU BESAR, SKENARIO TVRI MALAH BELUM JADI
‘Special event’ alias peristiwa khusus bisa dijadikan
bingkai sejumlah stasiun televisi untuk menggeber rancangan acaranya. Selalu
begitu – dari dulu (jauh sebelum 1995-red). Tahun 1995 bukan saja berarti tahun
babi menurut hitungan tarikh tertentu, tetapi juga bisa berarti tahun yang
ke-50 bagi usia republik Indonesia. Tahun emas, jika merujuk pada terminologi
perkawinan.
DAN nyatanya, layar kaca televisi kita, belakangan itu di salah satu sudutnya begitu penuh dengan pemasangan logo stasiun yang tak sebagaimana biasanya.
Selain pencantuman logo masing-masing stasiun di sudut kiri atau kanan atas, ada tersertakan pula logo 50 Tahun Indonesia Raya, atau 50 Tahun Proklamasi, atau ada juga yang menuliskan 50 Tahun Ulang Tahun RI. Inti maknanya sama: memperingati (untuk tak bilang “menunggangi”) usia proklamasi kemerdekaan Indonesia yang memasuki tahun ke-50.
Tak ada yang salah. Wajar-wajar saja. Toh (pada Januari 1995-red) belum semua stasiun memancangkan logo-logo “50 tahun” itu. SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) rasa-rasanya (kala itu) belum juga memajang logo itu.
TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) malah sibuk mencantumkan logo angka “4 tahun.” Itu lantaran ‘broadcast’ televisi yang penuh muatan pendidikannya pada siaran pagi hingga siangnya itu (waktu itu) sedang memauski hari jadinya yang ke-4 pada 23 Januari 1995 ini. Hanya TVRI dan RCTI-lah yang memulainya sejak 1 Januari 1995, pas pukul 00.00 WIB.
ANteve (Andalas Televisi)? Pemasangan logo itu ada. Bahkan ANteve memiliki dua logo. Logo pertama digeber sejak 6 Januari 1995 (“Kalau nggak salah, lho,” kata Tuning Sukobagyo, humas ANteve). Logo kedua diperkenalkan – kayaknya sebagai pengganti logo lama (era itu) – sejak Rabu, 18 Januari 1995.
Sementara IVM alias Indosiar Visual Mandiri, stasiun televisi terbungsu (waktu itu), itu juga menggantikan logo lama pada hari dan tanggal yang sama dengan ANteve. Bedanya, jika logo ANteve memang berbeda antara yang pertama dengan yang kedua, logo Indosiar tak berbeda – kecuali sebatas formatnya yang lebih kecil. “Logo pertama kebesaran, malah mengganggu layar,” kata pemirsa yang juga sama-sama diakui oleh “orang dalam” IVM.
TENTU, menggeber acara – dmei kepuasan pemirsa – bukan semata lewat penampilan logo semata, kendati ada kesan memang hanya itu yang dilakukan oleh sebagian stasiun televisi. Apalah artinya logo yang tiap saat ditongolkan jika muatan tayangannya sama sekali taka da kaitannya dengan “pesta emas” itu? Apa artinya tayangan rutin dan sudah kadung jadi tradisi jika yang berbeda hanyalah sekadar logonya?
Untuk isi tayangan, rasa-rasanya RCTI tampil lebih dulu, yakni lewat tayangan langsung (‘live’) pada Selasa, 17 Januari 1995 lampau, dengan tajuk program spesial: Merah Putih.
Tayangan langsung dari studio 1 (Kebon Jeruk, Jakarta-red) yang naskahnya antara lain ditulis Benny N. Joewono, wartawan tabloid Citra, - (waktu itu) menampilkan para musikus Yockie Suryoprayogo, Ully Sigar Rusady, Kahitna, Inisisri, dan lain-lain (yang dikoordinasi Remy Soetansyah, juga wartawan Citra) – termasuk visualisasi pembacaan sajak oleh seniman garda depan Putu Wijaya, selain perbincangan dengan para pejuang yang “kruang tercatat dalam sejarah resmi.”
Tayangan ‘live’ model beginian (waktu itu) bakal muncul tiap tanggal 17 tiap bulannya (sejak Januari s/d Juli 1995-red) hingga pada 17 Agustus 1995 sebagai puncaknya. Dan di antara delapan episode paket Merah Putih ini, RCTI juga sekali-sekali menyelipkan ‘filler’ perihal komentar para pejuang perihal pengalaman mereka dulu-dulu.
“Sengaja kami mulai bulan Januari (1995-red), karena 50 tahun ini adalah tahun emas. Boleh dibilang tahun yang istimewa,” ucap Duto Sulistadi, yang bertindak sebagai produser acara Merah Putih.
Putu Wijaya
KALAU mau disimpul-simpulkan, RCTI (Rajawali Citra Televisi
Indonesia) memang melangkah lebih duluan. Toh kesimpulan ini dibantah pihak
SCTV, saudara mudanya. “kami sudah mulai sejak bulan November 1994,” ucap Budi
Dharmawan, ‘officer’ humas SCTV di Jakarta.
Jabarannya, menurutnya penayangan sinetron miniseri Suro Buldog garapan Slamet Rahardjo yang dimaksudkan untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 1994 sekaligus dianggap sebagai cikal bakal peringatan 50 tahun proklamasi itu. “Nantinya bahkan akan dilanjutkan dengan sinetron ibu Sinder dan Kadarwati, yang akan ditayangkan pada Juni, Juli, Agustus 1995!,” tegas Budi (waktu itu) menepis “ketigngalan” yang dilontarkan Citra.
Tidak hanya itu, masih menurut Budi, SCTV juga (waktu itu) telah menyiapkan liputan langsung. Perihal bentuk acara yang (saat itu) sedang digodok itu, staf PR SCTV ini tak bersedia merincinya. “Bentuk acaranya akan lebih dari itu.” Maksudnya: lebih dibandingkan acara RCTI. Rencananya (waktu itu), acara itu (ketika itu) akan ditayangkan Maret 1995. “Kelebihan” SCTV dibanding RCTI adalah: SCTV tak berlogo-logo.
Sebetapapun SCTV menjanjikan acaranya yang “lebih” itu, RCTI ternyata tak hanya menggebrak lewat siaran langsung tiap tanggal 17 (sampai Agustus 1995-red) itu. Muljati Abdullah, manajer operasi program, menyatakan (waktu itu) telah mempersiapkan pula kuis dan sinetron.
“Akan ada acara pendukung lainnya yang baru dimulai konsentrasinya setelah Lebaran (1995-red). Ada sinetron yang lumayan panjang, kuis yang mendukung tema tiap bulannya, dan ‘filler-filler’ berupa kilas balik perjuangan tahun-tahun lalu (sebelum 1995-red). Emuanya mendukung suasana Indonesia Raya,” kata Mul (waktu itu).
BAGAIMANA dengan ANteve? Tuning Sukobagyo – yang ayahandanya menjadi salah seorang pengerek bendera merah putih di Gedung Pola pada 17 Agustus 1945 – menyatakan bahwa saat itu ANteve sedang sibuk membangun menara.
“Kami sedang mempersiapkan ‘tower’. Percuma khan kalau acaranya nggak bisa tertangkap sama penonton. Padahal, acara itu khan untuk mereka. ‘Alon-alon asal kelakon’ deh, pelan-pelan sajalah. Walau merayap,bagian program kami tetap mempersiapkan diri. Pokoknya, kami terus berjuanglah!”
ANteve (waktu itu) perlu membangun ’tower’ lantaran ‘tower’ yang (waktu itu) lama berdekatan dengan ‘tower’ milik Indosiar. Terjemahannya: gambar ANteve jadi buram dan kalah tajam. Kalau sang menara sudah beres, “Sekitar akhir Februari (1995-red), akan ada program-program lokal yang menarik. Percaya deh, setelah ’tower’ beres, akan ada acara-acara yang menarik,” tambah Tuning (waktu itu) tanpa memperinci.
Ya, kita (waktu itu) tunggu saja janji-janji sajian dari stasiun yang pernah memproklamasikan diri sebagai stasiun televisi untuk remaja dan ‘sport’ – namun ‘sport’ remaja macam NBA malah gampang dijumpai di SCTV dan RCTI – itu.
Sementara Indosiar, seperti dikatakan Tommy…, humasnya: “Kami sudah mempersiapkan acara ‘live’ dalam rangka mengenang kembali, semacam nostalgialah. Rasanya, harus ya…. Menampilkan yang rada serius dalam memperingati 50 tahun RI.”
Lalu, bagaimana dengan TPI yang hendak “’basic to’ desa-desa” itu? “Kami belum mempersiapkan acara-acara memperingati 50 tahun Indonesia Merdeka,” aku Tria, humas TPI (waktu itu). “Tapi dalam rangka ulang tahun 23 Januari 1995, secara tidak langsung sekaligus juga dapat memperingati 50 tahun Indonesia Merdeka, karena tema yang kami ambil adalah Terima Kasih Indonesiaku.” Rasa Syukur dan terima kasih ini diwujudkan dengan menampilkan 80% tayangan lokal.
LHA, TVRI nan milik pemerintah itu – apa program 50 tahun proklamasinya selain berlogo-logo ria dengan grafik bendera yang berkelebat-kelebat? Rata-rata “orang dalam” hanya menggeleng dan senyum kecut. “Setidaknya, kita memasang logo!,” katanya.
Selebihnya? Dengar-dengar, pekan kedua Januari 1995 TVRI mengumpulkan sejumlah penulis skenario. “Mereka kita minta bikin skenario sinetron untuk sepekan sinetron perjuangan dan sepekan sinetron HUT TVRI. Jadi, Agustus 1995 nanti akan ada dua sepekan sinetron,” kata sang narasumber yang memilih menyembunyikan namanya (waktu itu).
Yang sinetron perjuangan itu macam apa? “Ya, lihat saja nanti! ‘Wong’ skenarionya saja belum dibikin! Sinopsis yang diajukan pun kayaknya belum dibaca! Jadi belum ada tanda ‘acc’ untuk segera ditulis skenarionya!,” tambah sang sumber “gelap” ini (waktu itu). Jadi, lain ladang, lain cara memperingati. Lain cara memperingati, lain pula kiatnya – karena juga lainlah anggaran belanjanya…
Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana & Utami Sri Rahayu
Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar