VISI - PETA KEMISKINAN DI LAYAR KACA












SADAR, SOLUSI. Belakangan (ketika itu) ini wajah media massa cetak diramaikan dua topik hangat (waktu itu): peta kemiskinan yang dibeberkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan peta lapangan golf yang semakin meluas.

Peta kemiskinan yang dimasyarakatkan BPS, dengan serta merta disangkal oleh bupati yang sebagian dari wilayahnya dimasukkan dalam status daerah miskin. Alasannya, peta tersebut dibuat BPS pada tahun 1990, sehingga tidak lagi aktual (waktu itu). BPS sendiri mengakui bahwa mungkin saja, 1993, setelah lewat 3 tahun dari saat pendataan, daerah yang semula miskin itu sudah tumbuh menjadi sebuah desa yang Sejahtera.

Betapapun, BPS telah mengaktualisasikan soal kemiskinan yang semula dianggap “biasa” dan “wajar” karena telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari, menjadi “tidak biasa” dan “tidak wajar” sehingga menyentak kesadaran kita (termasuk bupati) untuk kembali memikirkan sebab-musabab dan solusinya.

Ihwal kemiskinan, kita tahu, sudah lama menjadi persoalan genting bangsa-bangsa di seluruh dunia. Lazimnya pula, diskusi dan debat politik tentang kemiskinan senantiasa terpolarisasi dalam dua kubu. Kubu pertama berpendapat bahwa kemiskinan merupakan masalah struktural. Bahwa kaum miskin sesungguhnya menganut nilai-nilai dan mempunyai aspirasi yang sama dengan bagian masyarakat lain.

Bahwa jika masyarakat (kaya) menunjang kaum miskin dengan sumber-sumber daya yang dibutuhkan, kaum papa itu tentu tak perlu putus harapan dan menderita akibat-akibat patologis yang ditimbulkan kemiskinan. Kubu “stuktural” ini menyimpulkan pula, bahwa satu kebijakan yang mengatur distribusi (waktu itu) akan dapat menghapuskan kemiskinan.










Kubu kedua beranggapan bahwa kemiskinan sesungguhnya merupakan kelemahan orang-orang miskin itu sendiri. Maka suatu perubahan struktural – jika pun memang diperlukan – tidak akan bisa membantu si miskin melepaskan diri dari keadaannya itu.

Dalam pandangan kubu “kultural” ini, orang menjadi miskin semata-mata karena dungu, tidak menganut nilai-nilai sebagaimana yang diikuti oleh masyarakat banyak, tidak punya aspirasi-aspirasi normal, dan memiliki sejumlah “cacat budaya” lainnya. Dengan demikian, untuk mengentaskan si papa dari kemiskinan, kaum melarat itu mesti disosialisasikan kembali, dan diadaptasikan dengan sistem sosial.

Dua kubu pendapat itu, hingga 1993 belum mencapai titik temu. Namun, kita tahu, pemerintah RI telah sejak lama berupaya mengentaskan saudara kita yang masih hidup miskin dengan pelbagai daya dan cara. Bahkan Presiden Suharto pun sudah wanti-wanti agar upaya mengentaskan rakyat yang masih miskin dilakukan secara lebih cepat dan lebih seksama.

Peta kemiskinan yang dibeberkan BPS, hanyalah berupa garis dan angka-angka. Namun, “hanya” garis dan angka-angka itu saja ternyata sudah mampu menggetarkan kesadaran banyak orang. Dan tentunya peta kemiskinan itu akan lebih terasa menyodok atau bahkan mengguncang kesadaran apabila dibeberkan apa adanya – berupa gambar hidup di layar kaca, umpamanya.











Tapi, layar kaca teve kita (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV-red), rupanya lebih suka menghadirkan “jenis” kehidupan yang serba beres dan indah seperti yang sering kita saksikan di iklan-iklan, atau pada hamparan lapangan golf yang hijau, luas dan nyaman. Tapi, kita maklum, kamera teve memang seringkali cuma bisa memandang realita hanya dari satu sisi.

Ditulis oleh: Harry Tjahjono

Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer