VIDEO MUSIK INDONESIA: "MENGAJAK PEMIRSA BERTAMASYA" (RCTI - SABTU, 31 MEI 1997 Pk: 13.00 WIB)
KREATIVITAS memang kunci berhasilnya sebuah program teve.
Apalagi bagi program musik, yang notabene coraknya sudah menjadi paritas
(seragam). Seragam dalam artian ‘content’-nya melulu mengandalkan video klip.
Dituntut kepintaran tersendiri agar program musik tidak membuat pemirsa jenuh. Bayangkan, bila pemirsa dijejali tayangan video klip, padahal di luar paket acara, video klip sudah berseliweran di layar teve dalam bentuk selingan promo atau ‘bumper’. Bukankah kalau begitu kejenuhan yang didapat pemirsa?
Pelaksana produksi VMI (Video Musik Indonesia, diputar RCTI-red) sadar akan hal ini. Mereka bekerja keras untuk lebih kreatif. Paling tidak, ini terlihat dari kesanggupan menampilkan program yang tematik. Pada edisi 31 Mei 1997 ini, pemirsa bisa membuktikan sejauh apa mereka mampu berkreasi, di tengah tuntutan jadwal produksi yang mepet dan mendadak. Mendadak? Begitulah. Menurut Febby Wabah, staf produksi PT CUT Indonesia, VMI episode ini tak ada di jadwal produksi.
“Begitu hari tayang acara ini diubah menjadi hari Sabtu, kita harus membuat episode minggu kelima. Padahal, kalau masih tetap di hari Minggu, tidak ada episode minggu kelima. Hari Minggu di bulan Mei khan cuma empat kali. Karena itu, dengan segera kita membuat satu tema baru untuk tayangan minggu ini (minggu kelima Mei 1997-red),” cerita Febby (waktu itu).
Akhirnya, konsep video luar ruang (‘outdoor’) dipilih menjadi tema episode minggu terakhir bulan Mei 1997. Meski dikerjakan mendadak, VMI episode ini tetap menampilkan konsep ‘infotainment’ yang menjadi pembeda acara ini dengan acara sejenis.
Seperti yang sudah-sudah, VMI menyuguhkan banyak hal yang informatif dan apresiatif. Kabar seputar produksi video hingga perkembangan trend dan berbagai persoalan penyiaran video musik, menjadi bahan yang tak habis-habisnya dihidangkan kepada pemirsa.
40 video yang dibuat dengan konsep ‘outdoor’, 5 di antaranya ditampilkan secra utuh, menjadi bhaan tontonan VMI kali ini. Yang menjadi subyek bahasan adalah eksplorasi ‘setting’. Dengan memperlihatkan beberapa tempat yang biasa sebagai ‘setting’, seperti Pantai (Parangtritis), pegunungan (Bromo) candi (Borobudur, Boko), pulau (Bali, Kepulaauan Seribu) dan ‘setting’ luar negeri (Singapura, New Zealand, Amerika), sepertinya pemirsa (waktu itu) sedang diajak tamasya.
Video Burung Gereja (Nugie), Yogyakarta (KLA Project), Borobudur (Maribeth), Negeri Di Awan (Katon Bagaskara), Kuta Bali (Andre Hehanusa) diputar untuk menunjukkan betapa alam Indonesia berpotensi untuk dijadikan ‘setting ‘video musik, yang tak kalah menariknya dibanding lansekap luar negeri seperti Amerika yang diperlihatkan lewat video Duka (Evie Tamala) dan Kuingin Bersamamu (Nia Zulkarnaen).
Atau beberapa daerah lain, seperti Australia dan New Zealand yang ditunjukkan lewat videonya Yana Julio, Coboy, Bucek Depp, dan Five Minutes.
Di akhir tayangan, tampil Franky Sahilatua yang selalu memakai lokasi luar ruang (‘outdoor’) sebagai ‘setting’ video musik yang disutradarainya. Menurut Franky, lansekap di luar studio membuat penyutradaraan lebih eksploratif. Dan nampaknya apa yang dikatakn Franky banyak benarnya. Paling tidak, ia pernah membuktikan hal itu, saat menyutradarai video Catur Paramitha (Leo Kristi).
Ditulis oleh: Erwin Arnada
Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar