VICKY BURKI: "KONTROL DIRI, ITU RESEP BUGARNYA"
ORANGTUANYA memberinya nama Victorine Cherryline Sudarjono Burki. Ibunya, Tanneke Burki, wanita keturunan Belanda yang sejak tahun 1958 mendirikan sekolah balet di Bandung, menempa Vicky menjadi seorang balerina. “Vicky tidak pernah merasa terpaksa mengikuti yang diajarkan mama,” ujar pemandu Prima Raga ANteve (Andalas Televisi), yang menekuni balet klasik sejak berusia 4 tahun.
Vicky pantas bangga. Dalam usia relatif muda, telah melanglangbuana. “Beberapa kali saya mengikuti kegiatan pertukaran pelajar,” kata Vicky, yang pernah menjalani kehidupan seorang diri selama setahun di Australia dan Amerika.
Selepas sekolah lanjutan, Vicky memutuskan untuk mandiri. Bekal ilmu balet dijadikannya modal. Vicky berpikir, di Indonesia balet klasik tak akan mampu membuatnya ‘survive’. Tapi Vicky juga tidak larut dalam gaya tari modern. Vicky mencoba mengkombinasikan keduanya.
Di samping fasih bermain-main dengan gerak dan musik, Vicky punya daya tahan fisik yang hebat. Apa resepnya? “Semuanya karena biasa melakukan saja,” ujar juara I Fitaerobik Asia di Singapura tahun 1988 ini, merendah.
Boleh jadi kita akan terheran-heran. Soalnya, Vicky tidak pernah menasihati orang lain agar makan, minum, dan istirahat secara teratur, apalagi agar tidak merokok. “Tidak selalu nasihat kita cocok untuk setiap orang,” kata wanita yang mengaimbangi kebiasaan merokoknya dengan berolahraga secara rutin.
Usai menjalani dinamika kehidupan di Jakarta, Vicky biasanya kembali ke Bandung. “Kalau sudah kelelahan sekali, ya paling tidur saja di tempat kos,” katanya. Bila punya waktu libur panjang, Vicky terbang ke lain kota. “Bali atau keliling Jawa. Tiga hari melihat pantai di Bali, badan seger lagi,” kata pengagum sastrawan Iwan Simatupang (almarhum).
Setelah 20 tahun menekuni dunia tari, Vicky mulai mencoba dunia sinetron. Vicky memerankan tokoh antagonis bernama Dina dalam sinetron Bunga Sutra yang ditayangkan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). “Vicky nggak tahu, tiba-tiba saja mau,” katanya. Menurut Vicky, dia tak pernah membayangkan main sinetron. Dulu (jauh sebelum 1997-red), dia membayangkan main sinetron sama artinya dengan kelelahan dan waktu yang terkuras tanpa arti.
“Capek! Itu saja. Untungnya, merka mau mengerti jadwal saya,” katanya. Bagi Vicky, main sinetron adalah untuk menambah pengalaman. “Tidak berarti Vicky meninggalkan tari. Tari tetap yang utama. Vicky bersyukur, bisa mengimbangi teman-teman senior,” katanya.
Wanita yang lahir pada 17 Juni 1965 ini, sampai saat itu
belum memilih pasangan hidup. “Biar saja orang mau bilang apa! Apakah pantas
orang-orang itu bicara soal kejelekan atau kebaikan orang lain? Padahal mereka
tidak selama 24 jam bersama kita,” ujar Vicky diplomatis, tentang gosip miring seputar
dirinya. Vicky mengatakan, (waktu itu) sudah berusaha. Bahkan sempat berpacaran
lama dan hampir menikah.
Bila sampai saat itu Vicky masih lebih senang sendiri, bukan lantaran apa-paa. “Vicky merasa belum ada pria yang cocok. Vicky mau pacar Vicky mengenal semua kejelekan Vicky sejak dini, bahwa Vicky bandel, suka jalan, terkadang seenaknya. Vicky pengen dia melihat Vicky apa adanya,” harapnya. “Kalau tiba-tiba ada yang meminang Vicky dan mengajak menikah, ‘wow, what a surprised’!,” teriaknya. “Tapi, apa mungkin, nggak kenal, menikah?,” ujarnya ragu. Ya, kenalan dulu, Vic?
Ditulis oleh: Lukmanoelhakim
Dok. Bintang – Edisi 339/Th. VII/minggu kedua September 1997, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar