TUTUR JENAKA (TVRI): "TUTUR MENCOBA-COBA, JENIS KOMEDI MEMANG TAK CUMA SATU ATAU DUA"

 RABA. Salah satu bentuk Tutur Jenaka dari TVRI Yogya yang “gagal” ditayangkan secara nasional. Persoalannya, rumusan tentang acara tersebut (waktu itu) masih diraba-raba 


TIAP RABU KEDUA DAN KEEMPAT, MESTINYA. Butet Kartaredjasa pernah menulis tentang pengalamannya ketika diminta menangani acara baru (waktu itu), Tutur Jenaka, oleh TVRI. Ia mengaku agak gamang, karena ia “tidak biasa mencanangkan target kelucuan” pada keseniannya, dan juga “bukan manusia jenis Arwah Setiawan atau Mahbub Djunaidi yang tulisannya bisa memancing geli.”

Tapi, sebagai warga seni yang baik, ia tidak lari. Dirampugnkannya juga satu paket Tutur Jenaka. Hasilnya, Butet tidak jadi ditaayangkan TVRI. Tapi sialnya, penulis bacaan ini adalah manusia jenis Arwah Setiawan sampai tulang sungsum, komplit dengan capnya sebagai tukang mancing geli di tulisan.

Seandainya penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) “ditantang” TVRI untuk menangani Tutur Jenaka (TJ) dan penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) menolaknya, itu namanya menghindari kewajiban profesional. Dan penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) ditantang TVRI. Dan penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) “berani.”

Penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) awali keberanian penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) itu dengan bingung terlebih dulu. Apa yang dimaksudkan dengan TJ oleh TVRI itu; apa konsepnya? Ternyata konsep belum terkonsep.

“Kita juga sama-sama masih meraba-raba,” jawabnya. Meraba-raba terlalu lama, adalah tidak sehat, dan segera saja penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) tarik kesimpulan bahwa Tutur Jenaka harus berarti kejenakaan yang dituturkan. Kelucuan dalam kata-kata, bukan dalam semburan ludah dan cukuran model “Makhluk.” Jadi, “humor verbal”. Jelas yang penting naskah. Jadi penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) putuskan, bikin acara baca lelucon.

Bahasa sabrangnya: ‘joke-reading’. Ini sekadar tidak mau kalah dengan ‘poerty reading’ pada puisi. Bukan “deklamasi,” yang padanannya adalah “lawak monolog” yang sarat improvisasi.

Tahun 1980an, Lembaga Humor Indonesia (LHI) pernah memproklamasikan “pembacaan humor” dengan memnetaskannya dalam pergelaran yang dilimpahi pengunjung sampai tumpah-ruah. Dan beberapa bulan sesudah itu malah dijadikan acara khusus, Lomba Baca Humor, yang juga dijejali peserta dan penikmat.

Dengan kepopuleran, yang sudah terbukti di pentas itu, masuk akal kalau penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) ingin mencobakannya di TV. Lagipula, bentuk baca lelucon juga pernah dicobkan di TV, sebagai pelengkap ketika beberapa bulan sebelum bacaan ini dimuat Monitor, penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) diwawancarai mengenai humor dalam bahasa.

Penilaian penulis bacaan ini (Arwah Setiawan), lelucon-lelucon yang dipantulkan oleh kaca TV lewat vokal Chareul Umam dan Ikranagara itu hasilnya cukup “laik gelak.” Didorong beberapa pengalaman itu, pihak penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) tetapkan membuat TJ paket pertama dalam bentuk baca humor.

Penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) ‘gresek-gresek’ menyuruki puluhan buku humor, menjumputi serat-serat kelucuan daam ingatan, menjalinnya dalam suatu kesatuan tematis, mempas-paskannya buat dibaca. Dan meminta dua orang pelawak “junior” (era itu) untuk membawakannya – Jimmy dari grup Gideon dan Jamal dari grup Abunawas.

Plus gitaris-penyanyi, Wanda Chaplin sebagai pengisi jeda. TJ perdana berhasil ditayangkan Rabu, 25 Mei 1988, tapi tidak berhasil menggebrak penonton. Seorang pembaca M. (Monitor) malah menggerutu dalam suratnya: “Kok… Cuma begitu, ya? Datar. Kayak masih belajar membaca.” Kalimatnya yang terakhir itu memperkuat teori penulis bacaan ini (Arwah Setiawan), seni baca humor ini berdiri dengan dua kaki di atas dua macam bumi yang tidak mesti sama.

Kaki yang satu pada seni humor/lawak, kaki lainnya pad seni baca. Yang mana yang lebih kokoh, itulah yang kita harus cari. Satu surat pembaca tentu bukan dasar untuk merevisi. Tetapi penilaain pribadi penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) sendiri yang juga kurang puas dengan hasil TJ perdana itu membuat penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) berstraetgi lain ketika diminta bikin TJ kedua.

Kalau untuk TJ I, penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) minta dua pelawak atau yagn berpengalamna dalam seni humor, maka untuk TJ II, penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) minta dua orang pemain drama, yang diperkirakan menguasai seni baca, yaitu Rita Matu, Mona, dan Idris Pulungan, dari Teater Koma, Jakarta.

Hasilnya? Tidak ditayangkan, sebab, menurut pihak TVRI, “Terlalu seperti drama, bentuknya kurang pas. Dan sampai ini ditulis, belum ada “pesanan” lagi untuk membuat TJ III. Pihak TVRI yang menangani TJ adalah seksi pengolahan kelayakan produksi. Jadi, TJ (waktu itu) masih eksperimental – “proyek percontohan”.

Dan ini adalah langkah terpuji dari TVRI – berusaha menampilkan acara humor yang berbeda. Yang lain dari acara humor konvensional seperti lawak tanpa juntrungan biasanya. TVRI sudah berusaha menampilkan komedi alternatif – bukan sekadar lawak yang cuma cengengesan dan aneh-anehan belaka.

Tidak soal siapa yang diajak serta memikirkannya, tapi penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) sungguh-sungguh berharap agar TVRI jangan sampai kendor dalam eksperimentasinya itu. Meskipun memang, komedi alternatif itu bukan hanya Tutur Jenaka saja. Penulis bacaan ini (Arwah Setiawan) juga punya beberapa ide lain, tapi itu (pikiran penulis bacaan ini, Arwah Setiawan, waktu itu) nanti saja.

Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan 


Komentar

Postingan Populer