TUJUH KISAH RIZAL MANTOVANI: "GUE MALAS BERTEMAN ORANG YANG NGGAK BENAR..."
SUDAH 3 minggu lebih (sampai bacaan ini dimuat Citra-red)
berlalu peristiwa kematian Rifardi Sukarnoputra, atau Aldi, di rumah mantan
kekasihnya yang artis, Ria Irawan, atau Chandra Ariati Dewi, di kawasan Lebak
Bulus, Jakarta Selatan, 12 Januari 1994 lalu. Yang terguncang lantaran kasus
itu bukan hanya keluarga Aldi, Ria, atau keluarga Ria, melainkan juga Rizal
Mantovani, atau Rizal dan keluarganya.
Rizal, kekasih mutakhir (untuk ukuran kala itu) Ria, mejadi saksi dalam penyidikan kasus kematian tersebut, karena termasuk orang-orang terakhir yang bertemu dan berbicara dengan Aldi menjelang “kepergian”-nya.
Bahkan sampai saat itu, seperti aku Rizal kepada Cit, ia masih merasa belum tenteram betul, walaupun keluarga, teman dan kenalannya mengatakan ia sudah “bersih” dari dugaan terlibat kasus yang penyidikannya berkembang ke penyidikan penyalahgunaan dan jaringan jual-beli narkotika itu.
“Penyidikannya belum selesai dan hasilnya belum ada,” jelasnya ketika menelepon dari Broadcast Design Indonesia (BDI) di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, sebelum berkisah panjang lebar di kediamannya, di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Tapi akhirnya ia membuka diri lagi terhadap pers, teman, dan kenalan.
“Kata oom gue (Kadjat Adrai, yang sebelumnya menjadi semacam juru bicara keluarga Rizal), sementara orang bertanya-tanya karena penyidikan kasus itu nggak selesai-selesai dan nuduh yang macam-macam, kenapa gue nggak ngejelasin, ngebantah. Kalau ada pertanyaan yang sensitif, khan gue bisa bilang ‘no comment’. Itu khan risiko yang harus gue hadapi.
Ada kejadian, orang kepengen tahu,” papar sang mahasiswa jurusan arsitektur (spesialisasi arsitektur bangunan) Universitas Trisakti, Jakarta (waktu itu), yang (kala itu) sudah punya beberapa konsep kasar tugas akhir dan berniat cuti, tapi (sampai saat itu) belum sempat mengurus izin cuti. Kepada Cit, pada 3 Februari 1994 malam, bujang (era itu) kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1967, ini menyampaikan 7 kisahnya bagi pembaca Cit (dan sederet kisah lagi yang – maaf – amat pribadi).
Ditulis oleh: Ati Kamil
Kisah tentang pekerjaannya yang sempat jadi terbengkalai:
“BANYAK yang tertunda. Syuting iklan ‘in-house’ ANteve (Andalas Televisi), yang harusnya gue kerjain pada 12 Januari (1994-red) itu. ‘Editing’ klip video lagu Waiting-nya Andy Atis. Akhirnya teman lain yang edit. Tapi, karena ada yang belum pas dengan apa yang gue mau, mau gue edit lagi, besok. (Klip video Waiting – waktu itu – bakal ditayangkan Video Musik Indonesia, TVRI, 14 Februari 1994, 21.30).
Juga syuting klip video lagu Before U Go-nya Broery Pesolima. Kemarin gue sudah mulai syuting, tapi nggak sampai selesai. Soalnya, pas syuting, Broery dapat kabar ibunya meninggal. Untuk syuting lagi, gue nunggu sampai Broery bisa. Gantian. Sebelumnya, Broery yang nunggu sampai gue bisa.”
Kisah tentang pengalaman membuka diri lagi:
“SEJAK hari pertama peristiwa itu diberitakan, sudah banyak teman yang telepon. Tapi gue nggak di rumah. Gue di Polsek. Waktu pulang, gue cuma terima ‘list’ (daftar) yang telepon. Keluarga gue yang nyatet. Setelah gue mulai keluar rumah, sejak 3-4 hari lalu, dan ketemu mereka (teman-temannya), mereka bilang ikut prihatin, nyalamin gue, terus becanda, “Ah lu tuh, bener-bener deh, bikin orang pusing.”
Yang aneh malah publik. Waktu gue ke Golden Truly (toko serba ada dekat kediamannya), orang-orang ngeliatin gue. Terus waktu gue masuk restoran kecil, karena diajak makan sama teman gue, padahal gue masih nggak ‘mood’, orang-orang yang lagi ngobrol dan becanda, langsung diam, ngelihatin gue dan mulai bisik-bisik ngomongin gue.
Terus waktu tadi gue beli hamburger, salah satu pelayannya bilang ke gua, “Mas, mas, boleh annya nggak? Mas khan Rizal Mantovani, ya?” Langsung saja gue potong, “Mas, semuanya harganya jadi berapa?,” buru-buru bayar dan pergi. Ternyata mereka ngenalin gue. Padahal khan gue cuma nongol di beberapa majalah dan koran.
Tadinya gue pikir karena topi gue yang ada inisial NY (New York)-nya. Tapi pas gue lepas, sama saja. Memang, gue merasa agak risih, biasanya nggak dilihatin, sekarang (1994-red) dilihatin. Tapi itu nggak sampai mengganggu gue kok. Waktu syuting Broery, asisten Broery ngejabat tangan gue keras-keras dan bilang: “Selamat, selamat!” Maksudnya, selamat karena gue “bersih” dari keterlibatan dengan kasus itu.
Gue sih terima kasih saja, sementara karena belum tahu gue, dia cuma salaman untuk kenalan sama gue, terus ninggalin gue. Pas syuting selesai, gue pamit duluan. Gue bilang: “’Ok’ Broery, ‘take care’ (baik-baik saja’, ya.” Eh, dia bales bilang: “’U also take care’ ya.” Kayaknya dia baru dibilangin asistennya tentang gue.”
Kisah tentang pergaulan kanak-kanak dan remajanya:
“DULU (jauh sebelum 90an-red) gue nggak pernah punya pergaulan yang tetap. 1967 akhir-1970 gue di Yugoslavia. 1970-1974 di Jakarta, 1975-1979 di Iran, 1979-1981 di Jakarta, 1981-1984 di Colombo. (Ayah Rizal, wafat pada 1986 di Jakarta, adalah diplomat. Rizal, bungsu berkakak 4, 1994 – tinggal bersama ibunya yang ibu rumah tangga, bersama kakak-kakaknya dan neneknya.
Ia dan kakak-kakaknya – waktu itu – sudah bekerja. Ibunay memperoleh penghasilan dari mengkontrakkan rumah peninggalan ayahnya, yang bersebelahan dnegan kediaman mereka, kepada keluarga WNA).
Teman-teman gue yang baik-baik saja. Gue malas berteman sama orang-orang yang nggak benar. Minat gue pada yang bersifat fantasi. Jadi, teman-teman gue juga yang begitu. Waktu SD, mulai ngumpulin komik. Waktu SMA mulai bikin video-videoan, pakai ‘handycam’. Selama itu, gue nggak pernah nyenggol sedikitpun yang kriminal-kriminal, yang aneh-aneh. Tapi nggak usah bilang gue anak baik-baik. Kesannya, gue suci banget.”
Kisah tentang pengalamannya berpacaran (sampai saat itu):
“GUE baru pacaran 2 kali. Gue cowok yang penuh pertimbangan untuk ngedeketin cewek. Gue mulai pacaran SMA. Ria pacar gue yang kedua. Kalau gagal pacaran, baru penjajakan awal terus nggak jadi, gue sering. Karena gue orangnya sensitif, kalau gagal pacaran, gue masukin ke hati. Gue nggak tahu apa yang membuat gue jatuh cinta pada seorang cewek. ‘Got feeling’ saja, di dalam terasa saja. Kalau gue bilang cewek gue harus baik, pintar, atau cantik, kayaknya juga klise banget.”
Kisah tentang perasaannya terhadap Ria:
“PERTAMA kali ketemu Ria di rumah produksi Indo Media Pakar Sentosa, gue nggak langsung ‘got feeling’. Waktu itu gue lagi edit klip video Java Jive (Kau Yang Terindah) dan Ria lagi edit klip video Franky Sahilatua (Kemarin). Malah gue ngelihat Ria sebagai ‘competitor’ (pesaing), sama-sama bikin klip video.
Cuma waktu itu gue kaget juga, Ria yang nyapa gue duluan, bilang klip video gue bagus, bisa-bisa klip video Ria kalah. Soalnya, yang gue dengar selama itu yang jelek-jelek soal Ria, Ria yang sombonglah. Besoknya, gue dan Ria langsung jalan bareng. (Pertemuan dan perkenalan pertamanya dengan Ria terjadi sekitar 2 bulan sebelum peristiwa itu).
Waktu peristiwa itu, gue dan dia baru 3 minggu pacaran, itu pun masih penjajakan. Gue dan dia masih berdua, keluarga belum ikut. Kalau gue ke rumahnya, dia khan di rumahnya sendiri, bukan di rumah ibunya. Kalau dia ke rumah gue, juga cuma jemput atau nganter sampai di pagar. Banyak yang masih harus gue “korek” dari dia. Dia juga begitu.
Soal prinsipnya yang cuma mau ngasih cintanya ke cowok 40%, itu mungkin supaya dia nggak sakit hati, karena dia sering putus pacaran. Mungkin ya, kalau gue sih, cinta ke cewek gue harus sepenuhnya. Gue pacaran ada batasnya. Apa yang dilarang agama Islam, nggak gue kerjain. Waktu gue nginep di rumah Ria (dini hari sampai subuh, 12 Januari 1994), orang-orang pikirannya pasti negatif, padahal gue nggak ngapa-ngapain.”
Kisah tentang pengalamannya menghadapi peristiwa itu bersama Ria:
“KARENA peristiwa itu, gue lihat ternyata gue belum dewasa. Masih banyak yang belum gue tahu dalam hidup, yang sebetulnya gue harus sudah tahu. Waktu gue menghadapi peristiwa itu, gue memang bingung dan ‘shock’ (terguncang). Tapi yang jelas, lepas dari gue pacar Ria atau bukan, gue mengumumkan apa yang gue tahu sehubungan dengan peristiwa itu, dan nggak ada niat untuk nutup-nutupin untuk melindungi Ria.
Kalau nanti pihak yang berwenang memerlukan bantuan gue, keterangan gue diperlukan lagi, gue akan bantu. Pokoknya, apa yang terjadi harus terungkap. Tapi itu bukan berarti Ria dikorbankan. Kalau misalnya ada orang yang cenderung mengharapkan Ria kena batunya, nggak ‘fair’ dong. Mau salah mau nggak, Ria jadi harus kena batunya.”
Kisah tentang sikapnya terhadap keluarga Aldi:
“GUE baru tahu dari wartawan kalau keluarga Aldi mau ketemu gue dan Ria. Cerita dari luar (pers) tentang sikap keluarga Aldi banyak banget dan macam-macam. Gue nggak tahu gimana yang sebenarnya sikap keluarga Aldi ke gue. Gue akan datang ke mereka kalau sudah tepat saatnya. Sekarang (Februari 1994-red) belum tepat saatnya, semuanya masih membingungkan semua pihak.”
Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar