TONY DANZA: "PEMBERANG BERWAJAH MANIS"

 

PERHATIKANLAH baik-baik paras aktor Tony Danza (waktu itu 44 tahun). Manis, ramah, dan kekanak-kanakan. Kesan ini dipertegas aneka peran yang dibawakannya di televisi. Di komedi situasi Who’s The Boss (1984-1992, di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red), umpamanya, Danza berperan sebagai Tony Miceli, ‘housekeeper’ dan ayah yang hebat. Atau lihatlah komedi romantik terbarunya (kala itu), Hudson Street.

Di situ ia jadi detektif Tony Canetti yang sama ‘innocent’-nya dengan Tony Miceli di Who’s The Boss, hanya lebih matang. Sebelumnya, pada 1978-1983 lewat komedi situasi Taxi (di Indonesia diputar RCTI-red), Danza dikenal sebagai Tony Banta, petinju mlaang yang tak pernah menang di atas ring, lalu mencari nafkah sebagai supir taksi. Memang susah untuk tidak bersimpati pada pria berzodiak Aries ini.

Tapi kita mafhum betapa dunia rekaan tak selalu paralel dengan dunia nyata. Maka tak perlu heran mendapati informasi seperti ini: Tony Danza adalah pria pemberang yang tak segan-segan menghajar orang yang mengganggunya. Tahun 1984, ia dikenakan hukuman percobaan 3 tahun setelah menyerang seorang petugas keamanan. Pernah pula ia mengarsari seorang fotografer yang sembunyi-sembunyi memotretnya di lapangan tenis.

Polah serupa ditunjukkan Danza di Los Angeles International Airport, ketika menghadapi seorang juru kamera yang berniat merekam setiap gerakannya. Agustus 1995 (yang waktu itu telah lalu), lagi-lagi Danza menyerang seorang pria yang asyik memvideokan kegiatan yang dilakukan beserta dua putrinya, Katie (waktu itu 8 tahun) dan Emily Lyn (waktu itu 2 tahun) di pantai Malibu.

Kelihatannya kasar, memang. Tapi Danza yang dilahirkan dari pasangan Matty Ladanza yang pemungut sampah dan Anne Ladanza yang ahli pembukuan ini, punya alasan kuat. “Saya tidak senang privasi saya diusik,” jelasnya. Sebuah apologi yang tak berkenan bagi kalangan pers, tapi dimaklumi pihak kepolisian Malibu. “Memang melelahkan menghadapi ‘paparazzi’,” kata Sersan Tom Garagliano yang menangani kasus itu.

Sebenarnya, mudah saja memahami temperamen Danza yang meletup-letup. Dibesarkan di kawasan Brooklyn, New York, yang keras, ia bercita-cita jadi petinju profeisonal. Tahun 70an, setelah tamat kuliah, suami dari wanita bernama Tracy (saat itu 36 tahun) ini, mendaftarkan diri sebagai peserta di kompetisi ‘New York Golden Gloves’.

Kala itu Danza turun di kelas berat ringan, dan berhasil menjadi semifinalis. Tahun berikutnya, ia pindah ke kelas menengah. Prestasinya yang meyakinkan membawanya ke dunia tinju profesional. Jadilah Tony Danza laki-laki yang menggunakan kekerasan fisik sebagai media untuk mengekspresikan diri.

Di tengah-tengah usaha mencapai prestasi yang lebih baik itulah, Danza dibujuk pencari bakat untuk mengikuti audisi dalam rangka pembuatan film mengenai dunia tinju. Ia pun tergoda untuk mencoba. Lucunya, ternyata rencana pembuatan filmnya malah dibatlakan. Tapi siapa bilang Danza cuma buang-buang waktu?

Seorang eksekutif stasiun ABC menawarkan Danza untuk bermain dalam film TV yang diberi judul Fast Lane Blues. Lalu ia kembali ke atas ring tinju, sebelum akhirnya dipanggil kembali untuk bermain di Taxi yang mencetak sukses besar. Setelah Taxi ditayangkan, Danza masih dua kali lagi bertarung dan keluar sebagai pemenang. Barulah kmeudian ia benar-benar mentasbihkan diri sebagai aktor.

Setelah kurang lebih 20 tahun (hingga 1997-red) jadi aktor, Danza mencatatkan namanya dalam sekian banyak judul seri teve, film teve hingga film layar lebar. Selangkah lebih maju, ia juga dikenal sebagai produser eksekutif sejak tahun 1991. Sudah ada 5 ‘item’ yang (sampai saat itu) diprdouksinya, termasuk Hudson Street. Kembalinya Danza disambut hangat penonton.

Kritikus pun memuji kecemerlangan Danza yang tak pupus. Meski (sampai saat itu) sudah 3 tahun absen. Kabarnya ia menggagas Hudson Street lantaran kecewa dikalahkan Robert De Niro dalam memperebutkan peran di film Heat yang arahan sutradara Michael Mann itu. 1997, pada usia yang (waktu itu) hampir setengah abad, Danza masih harus berjuang meningkatkan kontrol diri. Mestinya bisa.

Sebab, sepanjang hidupnya, Danza telah menempuh banyak cobaan: ditinggal mati ibu yang mengidap kanker otak dan ayah yang (waktu itu) menderita kanker paru-paru, bercerai dari Rhonda Yeomen sebelum akhirnya menikah kembali, terluka parah saat bermain ski dan nyaris lumpuh, dan kehilangan sebagian harta benda saat gempa bumi menghancurkan rumahnya. Tunggu apalagi, Tony? (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) ‘it’s time to grow up’.

Ditulis oleh: Sandra Kartika (berbagai sumber)

Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer