THE NEW HEAVEN SWORD AND THE DRAGON SABRE (TO LIONG TO), LANJUTAN RETURN YANG PERNAH DIRAGUKAN KESUKSESANNYA (PEDANG PEMBUNUH NAGA, INDOSIAR – MULAI 17 JULI 1995, SENIN-RABU-JUMAT Pkl: 19.30 WIB)

 
TRILOGI, TOP. Pecandu trilogi silat karya Louis Cha boleh lega. Usai penayangan serial Return of The Condor Heroes, 14 Juli 1995 ini, Indosiar menyiapkan serial lanjutannya, The New Heaven Sword and The Dragon Sabre.

Dengan begitu, lengkap sudah penayangan trilogi Legend of The Condor Heroes, Return of The Condor Heroes, The Heaven Sword and The Dragon Sabre (Legend ditayangkan RCTI, pernah pula diputar SCTV sebelum berpisah acara dengan RCTI sekaligus memulai siaran nasional-red).

Kisah To Liong To atau judul lengkapnya dalam Mandarin, Ie Thien Thu Lung Ci yang disiarkan kali ini, adalah versi baru HK-TVB (kala itu), produksi 1986. Sebelumnya, tahun 1978, TVB pernah memproduksi serial yang sama.

Dengan pemain top saat itu, seperti Adam Cheng yang jadi Thio Bu Ki, Lisa Wong sebagai Tio Beng, Gigi Wong sebagai In So So, Chao Ya Che sebagai Ciu Ci Jiak, Idy Chan sebagai Siao Ciao. Serial ini berhasil meraih sukses gemilang. Apakah produksi kedua ini (pertanyaan waktu itu) juga akan sukses?

Menurut Wang Thien Lin, (waktu itu) sudah satu produser TVB yang juga ayah sutradara Wang Cing ini, mulanya banyak pertanyaan dari pemirsa. Kenapa TVB kembali memproduksi cerita yang sama? “Ratusan surat menyatakan pembuatan yang kedua ini pasti takkan sesempurna yang pertama,” cerita Wang.

“Tapi zaman sudah maju, peralatan produksi juga sudah canggih. Bisa menghasilkan yang lebih bagus. Satu dua tahun lagi (1996 atau 1997-red) biarpun sutradara, pemain, skenarionya sama, pembuatan tetap nampak beda,” alasan Wang yang menganggap produksinya kali 1995 tak kalah bagus dengan versi filmnya (waktu itu).

Wang betul. To Liong To versi layar lebar yang diperankan Jet Lee dan Chiu Su Cen, walau cukup sukses dalam pemasaran (karena ada Jet Lee?), namun kisahnya jadi sedikit amburadul. Ceritanya tak runtut. Satu hal yang makin menebalkan keyakinan Wang adalah kecanggihan peralatan, yang membuat setiap adegan jadi lebih hidup. Pernyataan ini disetujui pengarangnya, Chin Yung, yang nampak cukup puas dengan hasilnya.

Produksi kali ini menggunakan tujuh sutradara. Salah satunya Tu Chi Fung. “Kali ini kami sengaja mempertahankan semua adegan sesuai novel aslinya. Walau ada juga adegan yang sulit dibuat pas dengan keinginan Chin Yung,” ungkap Wang. Masalah pemain yang semua serba baru, Wang menanggapi bijaksana.

“Bukan kami ingin membandingkan. Akting pemain yang dulu (jauh sebelum 1995-red) memang sangat dahsyat, berbekas di hati penonton. Kami cuma ingin memberi angin segar, agar penonton tak bosan,” lanjutnya, “Yah, seperti opera Sam Pek Eng Tay deh. Khan sudah beberapa ratus kali ditampilkan. Toh, tetap tak bosan.”

 



















































































Lantas hasilnya? Di Hongkong tayangan ini berhasil mengulang sukses. Ratingnya tinggi dan sempat jadi serial idola. Di Indonesia pun tak kalah top. Beredar dalam kemasan kaset video sebanyak 20 seri, yang dibagi dua, masing-masing 10 kaset. Tapi jangan keliru dengan yang produksi Taiwan. Sama-sama berjudul To Liong To, namun berkualitas beda.

SENJATA, RAHASIA. Dinasti Sung runtuh. Kwee Ceng dan Oey Yong gugur dalam mempertahnakan kota Siang Yang dari serangan pasukan Mongol. Tahun 1279 Mongol berhasil menguasai seluruh daratan Tionggona. Berdirilah dinasti Goan yang dipimpin Jengis Khan, ayah Kubilai Khan.

Sebelum meninggal, Kwee dan Oey sempat memberitahu si bungsu, Kwee Siang alias Siauw Tong Sia (Sesat Kecil dari Timur) tentang sebatang golok To Liong To dan sebialh pedang Ih Thian Kiam yang dibuat Kwee Ceng melalui seorang pandai besi. Bahannya diperoleh dari leburan pedang pusaka Hian Tiat Kiam milik pendekar Yoko. Di dalam golok To Liong To tersembunyi kitab siasat perang Bu Bok karya Kwee Ceng dan kitab silat terkenal Kiu Im Cin Keng yang ditulis Oey Yong.

Kedua senjata ini sungguh hebat, tak ada yang dapat menghancurkannya. Kecuali To Liong To dan Ih Thian Kiam saling dibacokkan. Sejak lama, sepasang senjata itu jadi rebutan dunia. Para jagoan menyebut To Liong To sebagai “pendekar tertinggi dunia persilatan” serta Ih Thian Kiam sebagai tandingannya. Kwee Siang berusaha mencari pasangan Yoko dan Siauw Liong Lie, tapi gagal.

Thio Chui San, salah satu murid Bu Tong Pay, turun gunung, berusaha mencari abang keduanya yang lagi ikut pertandingan merebut To Liong To. Tapi ia malah ketemu In So So dari Partai Sesat yang juga bertanding merebut golok. Keduanya jatuh cinta.

Dari sini konflik mulai timbul. Cia Sun alias Kim Mo Say Ong/Singa Rambut Emas yang banyak disebali partai lain, merebut To Liong To dari tangan Kwee Siang dan memaksa Chui San dan So So ke pulau Api Es. Hubungan Chui dan So berlanjut ke perkawinan hingga lahir Thio Bu Ki.

Saat mereka kembali ke Bu Tong, nasib jelek sudah menunggu. Tepat pada pesta ultah Thio Sam Hong ke-100, Chui San dan So So memilih bunuh diri daripada harus mengatakan persembunyian Cia Sun. Sedang Bu Ki kena pukulan Tapak Beracun. Walau sudah dicarikan obat ke mana-mana, Bu Ki tak kunjung sembuh. Hingga suatu hari, dia terjerembab di jurang dan memperoleh ilmu tenaga dalam dari kitab Kiu Im Cing Keng.

Ia mendadak punya tenaga dalam yang hebat. Bu Ki memutuskan kembali ke dunia kang ouw. Dalam petualangannya, ia bertemu banyak wanita. Mulai Tio Beng hingga Ciu Ci Jiak, semua naksir padanya. Dari Ci Jiak, akhirnya Bu Ki tahu rahasia To Liong To dan Ih Thian Kiam.

Setiap ketua penerus generasi Go Bi Pay yang didirikan Kwee Siang itu, wajib mengetahui rahasia pedang dan golok. Dengan rahasia kitab perang Bu Bok yang tersimpan dalam To Liong To, Bu Ki mampu mengusir penjajah Mongol. Tumbangnlah dinasti Goan dan tumbuh dinasti Ming.

Dengan jam tayang yang sama, serial yang penuh dengan bumbu cinta rada gombal ini, diramalkan (waktu itu) bakal menyusul kesuksesan yang telah dirintis Return. Apalagi bertaburan bintang yang (belakangan itu) sedang laris namanya. Sebut saja Tony Leung Chiu Wai atau Liang Chao Wei, Simon Yam, Dodo Cheng, Chen Hua Chien, Kitty Lai, Sharon Teng Chui Wen, Shao Mei Chi (pacar Noodle Cheng Yi Cien-The Temple Street Fighter), Chen Chiang.

DIALEK, DALAM. Satu yang sangat mengganjal, judulnya itu lho, Indosiar menterjemahkan jadi Pedang Pembunuh Naga. Berdasarkan apa nih? Pedang dan golok bentuknya beda lho. Dalam cerita khan dikisahkan ada dua senjata, To Liong To dan Ie Thian Kiam? Terjemahan To Liong To (dialek Hokkian) selama itu adalah Golok Pembunuh Naga yang memang sesuai dengan arti sebenarnya. To atu Tao dalam bahasa Mandarin berarti golok.

Sedang bahasa Mandarin untuk pedang adalah Cien. Atau dalam dialek Hokkian, Kiam. Bila terpaksa menerjemahkan kata pedang, maka harusnya judul berganti, jadi Ih Thian Kiam atau Pedang Langit. Sekadar mengingatkan, sebaiknya pengucapan nama-nama tokoh menggunakan dialek Hokkian. Di sini, masyarakat pelahap novel silat, terutama karangan Asmaraman Kho Ping Hoo terlanjur akrab dengan pemakaian nama dalam dialek itu.

Terlebih kisah To Liong To sudah sangat top. Orang akan lebih ngeh siapa itu Thio Boe Ki dibanding Chang Wu Chi. Atau Tio Beng, bukan Chao Ming. Yah, supaya yang nonton tidak bingung dan bahasanya jadi seragam. Sip khan. Makin sip bila mendengar tiga lagu tema duet Anita Mui dan Tony Leung.

Ditulis oleh: Funnywati Sucipto

DAFTAR PEMAIN

Tony Leung sebagai Thio Bu Ki/Chang Wu Chi

Simon Yam sebagai Thio Chui San/Chang Chui San

Dodo Cheng sebagai In So So/Yin Su Su

Chen Hua Chien sebagai Kwee Siang/Kuo Shiang

KIitty Lai sebagai Tio Beng/Chao Ming

Sharon Teng sebagai Ciu Ci Jiak/Chou Che Juo

Maggie Shao Mei Chi sebagai Siao Ciao/Siao Chao

Chen Chiang sebagai Cia Sun/Shie Sun alias Kim Mo Say Ong/Cin Mao She Wang alias Singa Rambut Emas.

Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer