TERAPUNG TAK HANYUT, TERENDAM TAK BASAH: "PAK SARMUN TERPAKSA NGOJEK LAGI" (SAR, RCTI - TIAP JUMAT Pk: 19.30 WIB)
SURAM, SELESAI. Begitu suramkah hidup di Jakarta? Pertanyaan yang perlu diajukan setelah menyaksikan Sarana Angkutan Rakyat (SAR/RCTI) episode ke-6, berjudul Terapung Tak Hanyut, Terendam Tak Basah. Eksploitasi kesedihan begitu kentara. Skors belum selesai, pak Sarmun (Basuki) diharuskan membayar uang kontrak rumah dan pelbagai macam beban hidup lainnya. Tak adakah masa depan buat pak Sarmun?
Pertanyaan yang segera dijawab. Variasi cerita sudah mulai dituntut pemirsa. Bahkan pertanyaan sinis pun muncul. Ada ketidakcocokan antara nasib pak Sarmun dan ‘setting’ tempat. Nasib guru yang murung seperti pak Sarmun hanya terjadi di kota kecil. Kehidupan guru di Jakarta bisa dibilang makmur. Motor model (era itu) terbaru, mobil, televisi, komputer bukan barang asing bagi guru di Jakarta (ketika itu).
Sebagian besar mereka memiliki atribut-atribut kemakmruan semacam itu. Kondisi seperti itu adalah realita lain yang mesti dilihat Harry Tjahjono, sebagai penulis skenario dan Rano Karno selaku sutradara. Selain menambah variasi warna cerita, minimal memberi secercah harapan bagi mahasiswa jurusan pendidikan. Di episode keenam ini, menceritakan pak Sarmun (Basuki) belum mendapat lampu hijau dari kepala sekolahnya.
Itu berarti, pak Sarmun belum diperkenankan untuk mengajar. Sedih tentunya. Kesedihan pak Sarmun bertambah ketika dia harus membayar kontrak rumahnya.
Persoalan khas masyarakat pinggiran. Karena terpepet, pak Sarmun memutuskan ngojek kembali. Mbak Sri (Nung), istrinya, awalnya keberatan. Takut skors suaminya diperpanjang. Karena itu berarti Sri harus menerima gaji cuma separo. Sri nggak mau itu terjadi lagi. Tapi apa boleh buat, pak Sarmun telah mengambil keputusan demi biaya hidup.
Tekad baik, belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sepeda kumbang yang dimiliki pak Sarmun ternyata tidak memenuhi syarat untuk membawa penumpang. Sementara motor yang biasa disewa, sedang diperbaiki. Karena itu sepanjang hari, pak Sarmun lebih banyak gnanggru di pangkalan. Kesedihan pak Sarmun lamban laun diketahui pak Sastro (Triman), mertuanya. Sebagai orangtua, dia merasa bersalah telah menjadi beban hidup anaknya.
Untuk lebih meringankan penderitaan anaknya, pak Sastro memutuskan kembali ke Yogya. Mengubur cita-citanya jadi Gareng terkenal yang bisa masuk televisi dan melalang ke luar negeri.
Keputusan pak Sastro tentu membuat Sri sedih. Sebagai anak, dia merasa tidak mampu membahagiakan orangtuanya. Tapi apa boleh buat, nasib melarat sedang menjerat. Untung saja, Didik (Didi Nini Thowok) memberi hiburan. Didik masih tetap tinggal di Jakarta, menuntaskan harapannya jadi anak wayang.
Ditulis oleh: Adi Pamungkas
Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar