TELEKON - TABLOID RESMI TV SWASTA

KETIKA RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) di Jakarta melepaskan ketergantungan pada dekoder, bersamaan dengan mulainya siaran SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) di Surabaya, ketika itu pulalah pihak Bintang memutuskan untuk bergerak. Memberi imbangan bahan tertulis untuk menyertai siaran yang (waktu itu) mulai memasyarakat di tengah kota.

Dinamika yang bergegas begini ini, mau tak mau menggoyang pihak Bintang untuk segera terjun langsung ke lapangan untuk mengantisipasi. Dengan pembenahan sana sini secara menyeluruh, termasuk bersolek dalam bentuk tabloid, memasang kuda-kuda dengan manajemen yang siap menghadapi tantangan.

Pengalaman selama 20 tahun (1970 hingga 1990-red) mengelola surat kabar mingguan Bintang Indonesia menyadarkan pihak Bintang, para pengasuh, bahwa idealisme murni saja tak cukup. Harus bisa diterjemahkan dalam nilai-nilai yang relevan pada masyarakat pembaca.

Itulah pembenahan yang (sampai saat itu) masih terus pihak Bintang lakukan, dengan memasukkan tenaga-tenaga muda (era itu) yang menggeluti profesinya, tanpa melepaskan pijakan yang positif serta edukatif sifatnya.

Tidak gampang, memang. Keberadaan media cetak yang mengiringi media elektronika sudah lumrah di negara maju. Tapi untuk negara yang mau maju, masih ada berbagai persoalan. Untuk menemukan bahan saja tidak bisa begitu saja. Bahkan kami terpaksa mencari sendiri, menterjemahkan, membumikan, sebelum bisa menyajikan.

Barangkali (waktu itu) akan lain persoalannya kalau nantinya sudah berjalan dengan baik. Barnagkali (waktu itu) masih harus bisa dibuktikan bahwa niatan memberikan informasi yang belum diberikan secara tuntas ini bermanfaat bagi ktia semua. Ya pengelola siaran maupun masyarakat pembaca. Pihak Bintang hanyalah jembatan yang (harapan waktu itu) mudah-mudahan bisa menghubungkan berbagai kepentingan yang saling terkait, langsung maupun tidak langsung.

 

Saat kru Bintang Indonesia bikin tumpengan, Kamis siang, 18 Oktober 1990, mensyukuri “kelahiran kembali” 

KETIKA pihak Bintang memutuskan sebagai “tabloid resmi TV swasta,” pihak Bintang sadar benar bahwa niatan semula adalah ingin menjadi bagian dari perkembangan kemajuan komunikasi di Indonesia yang dramatis ini. Selebihnya, meletakkan harapan agar bisa membangkitkan kembali usaha yang memerlukan keringat dan dana ini, sebagai sumber mata pencaharian pihak Bintang yang halal, yang dikaruniakan olehNya.

Kalau dalam laporan pihak Bintang secara keseluruhan lebih banyak wajah Indo, tokoh bule berambut pirang dan mata biru, tidak selalu dalam pengeritan bahwa pihak Bintang ”setaja-setuju” melulu, justru keberadaan pihak Bintang ingin mencoba menjadi penyambung gagasan, kritik, antara penyelenggara siaran TV swasta dengan masyarakat penonton. Sebagai penyambung, pihak Bintang tak bisa menghindar jauh dari unsur-unsur yang disambungkan.

Ketika pembaca membaca tabloid Bintang Indonesia ini, rasanya (perkiraan waktu itu) masih terlalu “pagi” untuk berjanji apa-apa. Masih terlalu dini untuk bahkan – mengumamkan keinginan. PIhak Bintang menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca. Pihak Bintang minta izin, ‘kulonuwun’ menyapa.

Doa dan restu pembaca semua, (waktu itu) akan menabahkan pihak Bintang, dalam menghadapi berbagai kendala. Baik di pasar media pers, atau penyempurnaan dalam organisasi penyelenggaran ini. Pihak Bintang sadar, bahwa yang pihak Bintang persembahkan masih jauh dari sempurna – tanpa mengurangi rasa syukur bahwa akhirnya menemukan jalan. Pihak Bintang sadar, pihak Bintang masih bisa lebih baik dan berperan dalam masa adepan yang serba menjanjikan ini.

*) telekon dari ‘telecon’, singkatan ‘teletype’ dan ‘conference’. Istilah ini digunakan mula-mula di kalangan militer, mengenai kegiatan konferensi yang berlangsung seketika dari berbagai tempat yang berbeda, melalui hubungan satelit, radio, ‘cable’, untuk meneruskan gagasan dari sat uke lain pihak.

Dok. Bintang – No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer