TELEKON - 'FAMILY SIZE'
BENAR, bahwa judul ini merupakan pemlesetan dari judul film seri Family Ties, yang disiarkan ‘National Broadcasting Company’ (NBC) sejak Rabu, 22 September 1982 (kemudian di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red).
‘Size’-nya, yang berarti ukuran, bisa dirujukkan pada salah satu pemerannya, Michael J. Fox – sebagai Alex P. Keaton – yang menurut ukuran orang-orang bule umumnya terhitung pendek, selain dia tampak tetap belia (kastingnya berusia ‘sweet seventeen’), sekalipun dia dilahirkan pada (9 Juni) 1961.
Tidak. Tulisan ini tak hendak ngerumpiin “kekuarangan” aktor film Back To The Future nan berjilid-jilid itu. Tidak etis kalau kita mengetawakannya – bahkan untuk tujuan komedi macam dalam dagelan ‘made in’ nusantara.
Penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) hanya membayangkan, Family Ties bisa dijadikan salah satu tolok ukur, mengingat seri ini, di negerinya, pernah di-‘rerun’, ditayangkan ulang, sejak Desember 1985 hingga Januari 1987. Bahkan di pagi hari pada jam-jam kerja. Itu adalah catatan sebuah prestasi.
Catatan prestasi lainnya: seri ini – dari September 1984 hingga April 1987 – sempat uber-uberan peringkat dengan The Cosby Show (di Indonesia diputar TVRI-red), yang juga sama-asma berkisah soal kehidupan keluarga dan sama-sama dalam gaya komedi (situasi).
Selain itu, bersama-sama Cheers (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red), CHIPS (di Indonesia diputar TVRI-red), Newhart (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red), The Sonny and Cher Comedy Hour – untuk menyebut beberapa judul – seri ini bertahan sepanjang 6 musim. Dan untuk ‘The Top 100 Series of All Time’, dia (sampai saat itu) menempati posisi ke-50.
Jabarannya, dia termasuk seri favorit mengingat hitungannya dimulai sejak seri yang ditayangkan 1955. Setidaknya, itulah yang dicatat Tim Brooks dan Earle Marsh dalam buku ‘The Complete Directory to Prime Time Network TV Shows: 1956 Present’.
Tapi, data ini tak akan “bunyi” apa-apa jika tak “dibumikan” di sini. Data itu hanya akan berhenti sebagai semata ajang pamer referensi dan bacaan. Apalagi, petatah-petitih “lain ladang lain rating, lain lubuk lain iklan” tetap berlaku di sini. Indikasinya, setidaknya bisa dilihat dari RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) yang (belakangan itu) tak lagi menyiarkannya.
Ada dua generasi yang jadi tulang punggung kisah yang berlokasi di wilayah suburban Columbus, Ohio. Generasi pertama, Elyse dan Steve Keaton, generasi orangtua, adalah generasi bunga produk dekade 1960-an. Generasi kedua, Alex, Mallory, dan Jennifer merupakan generasi produk dasawarsa 1980-an.
Elsye (arsitek) dan Steve (manajer humas stasiun televisi) adalah pendukung tata nilai liberalisme. Tata nilai yang ideal dan diidealisasi generasi 1960-an. Tata nilai anak-anaknya? Alex bahkan dijuluki sebagai Mr. Konservatif, pak kolot. Jadinya, ya terjadi konflik antargenerasi.
Kesimpulannya, selalu ada celah antar generasi. Macam apapun
tata nilai masing-masingnya. Siaratan kiashnya – setidaknya dlama penafsiran
egois penulis (Veven Sp Wardhana) – sama sekali tak harus berarti bahwa tata
nilai liberal, yang diwakili Elyse & Steve, itu buruk. Kalaupun Alex dss
(dan saudara-saudara) itu simbol generasi 1980/1990-an, tak berarti dia
sekaligus mewakili para remaja nusantara kita (era itu) yang mayoritas sebagai
generasi dasawarsa yang sama.
Lain lubuk, lain iklan, eh… ikannya. Lain generasi, lain yang diwakili. Sama-sama tahun generaisnya, tapi tak selalu sama identifikasinya. Taruh kata Elyse & Steve nan liberal itu ditempatkan pada posisi yang “salah”, yang antagonis, yang harus diantipati, setidaknya mereka menggambarkan bahwa sosok orangtua tak selamanya menjadi panutan.
Tak selamanya sebagai gambaran kebijak(sana)an. Tak selamanya
yang nakal itu hanya dan senantiasa para remaja – hingga dulu (jauh sebelum
90an-red), di sekeliling kita pernah muncul istilah “kera”: kenakalan remaja. Fragmen-fragmen
di televisi kita selalu gampang menempatkan para remaja (era itu) sebagai biang
keladi persoalan. Remaja (era itu) selalu dalam posisi yang (waktu itu) harus
dinasihati.
Drama-drama keluarga dalam khazanah tayangan televisi Indonesia rasa-rasanya senantiasa hanya disasarkan pada para remaja (era itu). Padahal, pengeritan keluarga tak berarti remaja esmata. Barangkali, saat-saat 1992 ini kita (waktu itu) masih pantas merindukan drama-drama kelaurga yang tak harus menuding-nuding.
Kita (waktu itu) masih perlu melahirkan kembali paket Keluarga Marlia Hardi, atau Keluarga Mak Wok, atau Keluarga Ratu Asia (ketiganya pernah diputar TVRI jauh sebelum ada TV swasta-red), dan semacamnya – yang tak tegang bernasihat, yang tak gempita dengan kalimat menggurui, yang menghibur, informatif, dan syukur-syukur bisa memancing dialog dengan pemirsanya, siapapun dia.
Dok. Citra – No. 120/III/15-21 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar