TELEKON - DEWI YOU'LL.... LILIN
ATRIUM Plaza Indonesia, Jakarta, tempatnya. Rabu, 20 Mei
1992, waktunya. Kira-kira selepas maghrib. Acaranya: penutupan Pekan Dana
Barcelona – diselenggarakan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV
(Surya Citra Televisi Indonesia).
Dewi Yull – salah satu artis pengisi acara – yang masih menunggu giliran, di balik panggung, penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) tanyai komentarnya soal komentar dan kritik dari banyak orang, antara lain lewat surat-surat pembaca di koran dan majalah, perihal sosok dokter Sartika yang kelewat sempurna dan ideal dalam sinetron serial Sartika tayangan TVRI. Dewi adalah pemeran Sartika.
Dewi tak menyangka kejadiannya bakal begini. Dewi bukannya tak menyangka penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) akan bertanya macam begitu, melainkan dia tak menyangka reaksi masyarakat sampai sebegitunya.BNI Tower Live Seafood Restaurant, Jakarta, tempatnya. Kamis, 7 Mei 1992, waktunya. Kira-kira selepas isya.
Acaranya: makan malam sebagai penutupan ‘workshop’ penulisan sinetron, 6 dan 7 Mei 1992 – diselenggarakan TVRI, kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dan The Johns Hopkins University (AS).
Dalam lingkup terbatas – di meja penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) ada natara lain Alwi Dahlan, mantan kepala stasiun TVRI Surabaya: Drs. RM Sudiyanto, dan salah satu “penemu” paket Sesame Street (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red): DR. Edward Palmer, dari The Johns Hopkins University – dokter Kartono Muhammad berkisah soal pengalaman seorang dokter di belahan Indonesia timur (maaf, kalau penulis bacaan ini – Veven Sp Wardhana – menuruti permintaan pak dokter nan ketua perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia itu agar letak persisnya di-‘off the record’-kan) yang mobilnya dilempari batu oleh penduduk setempat.
Penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) kisahkan kembali kisah dokter di Indonesia timur itu ke Dewi Yull. Penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) kisahkan bahwa tingkah masyarakat setempat idola Sartika. Penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) tegaskan bahwa mereka melihat Sartika adalah tipologi umum dokter-dokter di Jawa.
Jabarannya, jika Sartika yang kerja di Puskesmas itu nyatanya senantiasa bisa memberikan aneka obat; jika Sartika yang berpraktek di dusun terpencil itu malah tak menarik bayaran atas pasiennya yang miskin; bukan tak mungkin ledakan kmearahan hingga perlu melmepari dokter di Indonesia timur itu sudah politis sifatnya.
Artinya, di Jawa, di tanah yang dekat dengan pusat kekuasaan, fasilitas dan perlakuan ternyata lebih memanjakan para sementara di Indonesia timur – yang sama-sama berfalsafahkan UUD 45 dan Pancasila sakti itu – kok ya dokter-dokternya nggak kayak dokter di Jawa yang diwakili Sartika itu.
Mereka, para penduduk itu, para masyarakat itu, para “figuran” itu tak pernah mencoba memahami bahwa dokter yang dilempari batu itu adalah juga manusia yang tak beda dibandingkan mereka sendiri: kebutuhannya sama, emosinya sama…. Mereka juga tak sampai pada pemahaman bahwa sebagian besar daerah terpencil memang amat susah mendapatkan obat-obatan, termasuk macam dokter yang mereka timpuki batu itu.
Dewi Yull terperangah mendnegar kisah yang penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana) “jiplak” itu. Dia kian tak menyangka kejadiannya bakal maca mini. Toh, akhirnya terlontar juga komentarnya; biarlah segudang kritik ditimpukkah para sinetron ini, biarlah sejumlah tudingan ditujukan pada dirinya sebagai pemeran dokter itu, sebab dengan begitu, dokter-dokter di tempat-tempat terasing (belakangan itu) nyatanya jadi kian diperhatikan.
“Lilin boleh hancur untuk menerangi ruangan,” Dewi bertamsil. Bagi penulis bacaan ini (Veven Sp Wardhana), Sartika hanyalah salah satu contoh kasus yang menegaskan bahwa budaya televisi di negeri ini (waktu itu) masihlah “bayi”.
Berbeda dengan budaya sastra Indonesia modern, misalnya, yang merupakan manifestasi institusi sosial bagi kelompok sosial baru, menengah, dan urban. Sebagai perwujudan pelembagaan sosial, yang ditulis dalam sastra itu adalah Impian-impian pengembannya, atau idiom dan “bahasa” mereka. Sastra lama, sastra daerah, sastra lokal, bagi mereka tak lagi mampu menampung Impian, idiom, dan pandangan dunia mereka.
Yang hendak direkat dalam tayangan televisi di sini? (waktu itu) masih terjadi tarik-ulur yang akan dirumuskan perjalanan waktu. Namun, benar-benar saja apa yang dibilang Dewi. Di tengah susahnya menampilkan kisah “apa adanya,” di tengah banyak rambu-rambu tanda bahaya, kisah-kisah Impian ibarat lilin itu.
Jika kisah “apa adanya” itu dimaksudkan untuk menggugat kejadian “apa adanya,” kisah mimpi Sartika nan ideal dan Boy nan cakep-pinter-doyan-cewek-tapi-tetap-sembahyang adalah juga gugatan atas dunia perdokteran yang memprihatinkan dan dunia remaja mutakhir (kala itu) yang juga memprihatinkan.
Tujuannya sama, caranya berbeda. Karena iklimnya (waktu itu) sedang demikian, yang “apa adanya” tak sempat didengar dan diketahui, yang mimpi diprotes namun membuahkan hasil. Atas idiom lilin itu, (penulis bacaan ini: Veven Sp Wardhana, waktu itu mengucapkan) Dewi, ooo… ‘I love you’ll’.
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar