TELEKON: BERANI KARENA BENAR-BENAR

 












MAU meniru, formatnya tak pernah ketemu. Malu meniru, yang ketemu selalu palsu. Ogah dibilang sama dengan negeri barat, demokrasi (dari ‘demos’ & ‘kratos’, bukan emoh dikerasi) di sini dibilang bukan liberal, melainkan demokrasi Pancasila. Begitu juga dengan ekonomi. Bukan kapitalis, bukan sosialis, melainkan ekonomi (lagi-lagi) Pancasila. Yang “unik,” ada yang merumuskan Islam Indonesia, padahal Islam ya Islam. Titik.

Naga-naganya, kita (waktu itu) masih sibuk, lebih sibuk dengan identitas. Hanya identitas. Semata jaket. Untuk perkara pertelevisian, belakangan itu, berulang kali kita dengar bahwa TVRI adalah TVRI. TVRI bukan CNN (‘Cable News Network’), bukan TV3 (Malaysia), bukan SBC (‘Singapore Broadcasting Corporation’), dan bukan-bukan lainnya. Memang, TVRI adalah (singkatan) Televisi Republik Indonesia, bukan Tanpa Visi RI, bukan Televisi Vemerintah RI, bukan Tiada Verita RI, dan seterusnya.

 














TVRI punya motto Menjalin Persatuan dan Kesatuan – sebagaimana RCTI/SCTV punya slogan Saluran Hiburan dan Informasi dan TPI punya embel-embel lain lagi (Turut Mencerdaskan Budaya Bangsa-red). Toh, masing-masingnya adalah brodkas, ‘broadcast’. Sebagai brodkas, stasiun televisi tak berbeda dengan umumnya media massa: menyampaikan informasi faktual – di samping yang lain-lainnya.

Ketika RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) & SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) & TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) semata menayangkan sinetron, film, musik, siaran niaga (iklan-red), dan hiburan-hiburan lainnya, mereka (waktu itu) akan berhenti sebagai semata pusat rental video.

 







Kalau TVRI (TV pemerintah-red) bersikap sama, maka akan sama pula posisinya dengan TV swasta itu – apapun sebutannya: TV swasta nasional ataukah regional. (Apa memang begitu pengkategoriannya?). yang membedakan hanyalah: TVRI (sampai saat itu) jauh lebih banyak bikin paket sendiri ketimbang menyewa (‘rent’) dari rumah produksi atau agensi. Esensinya sama: rental.

Yang menempatkan fungsi stasiun televisi sebagai brodkas, tak semata ‘rental center’, adalah dengan mengembalikannya pada posisinya sebagai media massa: sisi jurnalistik. Sisi – menurut Ashasdi Siregar (yang layak dimakmumi) – yang memenuhi kebutuhan sosiologis. Yang menyampaikan informasi yang faktual informasional. Yang mengudarakan berita yang sesungguhnya berita, bukan semata humas dan pesan sponsor sebuah departemen.











Pembentukan tim ‘hunter’ di sub-direktorat pemberitaan TVRI mencoba memenuhi berita-berita yang non-‘press release’. Tanpa mengurangi rasa hormat atas usaha mereka, toh ketika menghadapi kasus kontroversial, konfirmasi yang “dimenangkan” adalah yang bernarasumber pihak pemerintah.

Itu sebabnya, ada yang menyatakan bahwa tayangan Seputar Indonesia-nya RCTI/SCTV terkesan lebih berani karena berita – apapun batasan rumusannya – yang ditayangkan tiap pukul 18.30 WIB itu relatif lebih “imbang.” Padahal, keberanian yang dimaksudkan (waktu itu) baru sebatas mengambil sisi yang tak diambil TVRI semata, dan berita-berita itu sudah tiap hari jadi langganan koran.

(Mohon maaf, TPI yang punya paket Serbaneka, tiap 07.00 WIB itu tak dijadikan referensi dan komparasi di sini, mengingat tayangannya cenderung bak bunga rampai, yang tak terikat waktu kapan harus disiarkan dan – terutama – kapan harus ditonton).

1992, masalahnya bukan soal “berani” ataukah “pengecut,” melainkan paus berhenti semata sebagai rental atau juga sekaligus berkapasitas sebagai “jurnal.” Pilihannya: berani karena menayangkan berita yang benar-benar berita atau semata kabar sukses pembangunan, tapi gambarnya pita yang digunting atau pejabat yang bercakap dalam seragam dan berlatar belakang kantor departemen?

Itu untuk lingkup berita dalam negeri. Yang menyangkut informasi internasional, masalahnya tak semata kenapa soal peran Mujahidin lebih dapat porsi ketimbang Muhadin, warga Plumpang, Jakarta Utara, yang “hilang” usai unjuk rasa, melainkan siapa yang punya hak khusus dan monopolistis menafsirkan berita demonstrasi di Bangkok, tak bermanfaat untuk pemirsa Indonesia dibandingkan matador di Yunani ketusuk duri.

Barangkali, itulah khas kita: selalu butuh jaket. Bukan karena dingin, tapi biar ada identitas. Identitas RCTI & SCTV (waktu itu) adalah hiburan (kelas menengah ke atas). Identitas TPI (waktu itu), konon pendidikan (dan pemirsa pinggiran). Identitas TVRI (waktu itu): berita humas.

Dan berita-berita sesungguhnya dimaksudkan untuk stasiun televisi lain, yang (perkiraan waktu itu) mungkin perlu segera didirikan, yang mungkin (saat itu) sudah disiapkan. Atau “identitas” masing-masing harus dirumuskan, agar bagi yang ingin mendirikan dalam bentuk lain daa peluang – termasuk peluang dagang.

Ditulis oleh: Veven Sp. Wardhana

Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer