TELAH HADIR TELEVISI BERBAHASA PERANCIS

 

MULAI Rabu (23/4/97), hadir jaringan televisi baru (kala itu) berbahasa Perancis dalam sistem informasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jaringan televisi asal Perancis, TV5, ditransmisikan melalui satelit Asiasat 2 dan bisa ditangkap lerwat parabola arah timur 100,5 derajat, ‘C-Band’, ‘digital compression’, MPEG-2/DVB. Selain TV5, jaringan itu juga menyajikan siaran gabungan televisi Eropa, seperti saluran musik MCM (Perancis), RAI (Italia), Deutsche Welle (Jerman), dan TVE (Spanyol).

TV5 sendiri, meski berbahasa Perancis, hasil kerjasama dari beberapa negara seperti Belgia, PErancis, dan Swiss. Dibentuk pada tahun 1984.

“Pada 1986, konsorsium TV Quebec Kanada menghimpun televisi Perancis di Kanada untuk bergabung dengan TV5. Ini perkembangan yang sangat baik, dan pada tahun 1988 kami sudah bisa memulai siaran dari Montreal ke seluruh wilayah Kanada,” ujar Ny. Madeleine Robin de Langalerie, penanggung jawab siaran TV5 di kawasan Asia Tenggara, pada acara jumpa pers di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Salemba, Rabu (23/4/97), yang langsung dilanjutkan dengan siaran perdana TV5 di kawasan Asia Tenggara.

Tahun 1992, TV5 semakin mengembangkan sayap dengan memulai siaran di benua Afrika, Amerika Latin, dan kepulauan Karibia. Tahun 1993, program TV5 bisa dinikmati masyarakat Eropa dan Afrika selama 24 jam penuh.

Ini memang satu perkembangan bagi kelancaran arus informasi dari belahan Eropa ke Asia. Berbagai program yang bersifat mendunia, seperti berita-berita terkini, sampai dengan program khusus masyarakat Eropa dapat dinikmati. Pemirsa juga bisa mendapatkan informasi lebih jauh tentang dunia ‘fashion’, peristiwa budaya, olahraga, ilmu pengetahuan dan sebagainya langsung dari Paris dan kota-kota besar lain di Eropa.

“Satu hal yang paling penting, penggunaan bahasa Perancis pastinya akan membantu banyak pelajar, mahasiswa dan peminat kebudayaan Perancis. Mereka akan lebih bisa memahami bahasa yang mereka pelajari dengan menyimak program-program dari TV5,” ujar Aji Yahuti RI, staf humas CCF.

Ditulis oleh: Dicky Lopulalan

Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer