TANDA DAN KARIER - BRIGITTA PRISCILLA (waktu itu 25 tahun): "PERLU TAHU LEBIH JAUH JIKA SEMUA MEMBICARAKAN"
(Sulung dari 4 bersaudara ini pembawa berita Newswatch SCTV).
“TIAP orang punya bakat untuk ngomongin orang. Karenanya, gosip jadi kenyataan yang tak terhindarkan. Masalahnya, tinggal bagaimana menghadapi dan sejauh mana gosip itu beprengaruh pada pribadi yang menjadi boyek gosip. Saya menganggap gosip sebagai informasi baru yang saya simpan dalam memori.
Informasi itu jadi ‘back-up’ yang kalau perlu dicek lagi kebenarannya. Sekalipun gosip itu kelihatannya tidak masuk akal, rasanya perlu juga tahu lebih jauh kalau semua orang membicarakan.
Saya pernah juga jadi korban gosip, waktu saya masih kerja di kantor yang dulu. Saya digosipin punya hubungan khusus dengan atasan saya. Mungkin yang menyebarkan gosip iri, karena sebagai karyawan baru, saya langsung menduduki jabatan dalam level manajer. Mulanya, saya bersifat konfrontatif. Saya langsung mencari sumber gosip dan mengajaknya bicara, ternyata hasilnya malah lebih buruk.
Menurut saya, ini karena kita belum punya budaya terus terang. Karenanya, saya mengubah sikap. Saya berusaha menghadapi ini dengan bersikap biasa.
Tapi saya punya ‘deadline’, kalau dalam setengah tahun keadaan tak berubah, berarti saya harus mencari lingkungan kerja baru. Parahnya, ternyata atasan saya ikut termakan gosip. Ia jadi bersikap memusuhi saya. Untungnya, sebelum ‘deadline’ saya sudah dapat pekerjaan baru. Tapi bukan gosip semata yang membuat saya pergi, suasana kerjanya juga tidak enak.
Menurut saya, orang yang jadi biang gosip itu biasanya senagn cari perhatian dan kurang percaya diri. Tanpa menyebarkan gosip, orang lain tidak akan memperhatikannya. Saya sendiri tidak menolak bergabung dalam perbincangan gosip. Tapi kalau gosip di kantor menyangkut cara kerja seseorang, saya cenderung nggak mau ikutan.”
Ditulis oleh: Samuel Wahyu
Dok. Bintang, Edisi 328/Th. VII/minggu keempat Juni 1997,
dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar