TANDA DAN KARIER - ATRIA RAI (waktu itu 26 tahun): "PIKIR SERIBU KALI SEBELUM ALIH PROFESI"

 

(Gadis cantik – era itu – kelahiran Ujungpandang, 21 April 1971 ini satu dari beberapa presenter Fokus Indosiar yang merangkap sebagai reporter. Ia termasuk beruntung karena sampai saat itu lancar-lancar saja mencapai karier yang diinginkannya. Alumnus Columbia College, Chicago, Illinois, Amerika Serikat dan BBC TV Journalism Course ini, berharap bisa lebih memaksimalkan potensinya).

“SAAT ini (1997-red) saya bekerja di Indosiar sebagai reporter sekaligus presenter Fokus. Saya terjun ke bidang ini sejak 1 Maret 1995. Sebelum menjadi wartawan, saya sempat menjadi pramugari di maskapai penerbangan asing – Cathay Pacific – yang bertugas di Hongkong. Tujuan saya waktu itu cari pengalaman dan mengisi waktu sebelum kuliah di Amerika. Lepas dari sana, saya kuliah di ‘Columbia College’, Chicago, Illinois, Amerika Serikat sampai tingkat BA di bidang jurnalistik.

Setahun sebelum lulus saya sempat membantu menjadi kontributor majalah TEMPO. Sayang, sebulan kemudian majalah itu dibredel. Tapi saya sempat menulis tentang transportasi udara di Amerika serta adopsi anak-anak dari Eropa Timur. Selain itu saya juga sempat magang di jaringan televisi CNN (‘Cable News Network’) selama 4 bulan.

Luar biasa! Saya dapat banyak pengalaman di sana. Saya terkesan pada profesionalisme mereka, baik dari cara kerja, waktu, disiplin, memilih narasumber, dan sebagainya. Setelah lulus, saya menjadi reporter Seputar Indonesia di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) selama 3 bulan. Banyak pengalaman selama saya bekerja di Seputar Indonesia. Salah satunya, mewawancarai menteri Ali Alatas dan beberapa menteri lainnya.

Saya memutuskan pindah dari bidang kepramugarian, bukan karena tidak puas dengan gaji atau konflik di tempat kerja. Tapi karena saya ingin berkarier di bidang yang lebih menantang. Itu hanya saya dapatkan kalau bekerja di dunia jurnalistik. Menjadi wartawan itu tidak gampang. Dituntut punya kepekaan dan kecepatan, serta insting jurnalistik yang tajam.

Sedangkan di dunia kepramugarian, saya merasa nggak mungkin bisa berkarier dalam jangka panjang. Karena pramugari dibatasi umur. Mana ada sih pramugari berusia tua? Selain itu, saya merasa kurang bisa menstimulus intelektualitas saya. Saya takut lama-lama saya nggak bisa berkembang.

Harus saya akui saya merasa belum maksimal. Tapi saya akan terus berusaha meningkatkan kemampuan. Pokoknya, saya ingin memaksimalkan semua potensi yang saya miliki.

Karena bekerja seusai dengan pendidikan, saya jarang mendapat kesulitan berarti. Bukan berarti saya sudah mumpuni. Tapi saya rasakan kesulitan itu masih bisa saya Atasi. Anjuran saya untuk orang yang mau pindah profesi, sebelum mengambil keputusan, tolong pikir seribu kali, karena belum tentu pekerjaan yang dibayangkan enak seperti kenyataan yang sebenarnya.”

Ditulis oleh: Masrur

Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer