TAK ADA GELAK YANG TERKUAK DARI TOM TAM YANG BERPAKAIAN ANAK-ANAK
AGAKNYA pantas dipertanyakan pemunculan Tom Tam Grup dalam
ARS (Aneka Ria Safari, TVRI) ini: sebagai pelawak atau penyanyi? Sebenarnya bukan seusatu yang
baru kalau sebuah grup lawak mengisi acara itu dengan lawak disambung nyanyian.
Beberapa grup telah muncul begitu. Tom Tam sendiri pun bukan sekali ini. Cuma yang terlihat jadinya sekenanya. Ambil contoh penampilan Tom Tam Minggu (4/9/88) ini. Lantaran mereka juga harus tampil untuk menyanyikan lagu anak-anak, tema lawakan yang dibawakan sebelumnya otomatis berkisar itu. Jika memang mereka mampu tampil dengan baik, tidak jadi persoalan. Sayangnya, Tom Tam tampil jauh sekali dari lucu.
Muncul dengan semua persoalannya berambut nyaris gundul – bahkan Komar pelontos sama sekali – dan berpakaian anak-anak, selama hampir 10 menit mereka tak menghasilkan gaya yang sesungguhnya. Ogut yang muncul pertama gagal menghangatkan suasana. Gaya lawakannya dengan mengandlakan kebloonan tak lagi jadi senjata ampuh. Komar yang kemudian masuk juga tak menolong. Datar sekali materi yang disodorkan kedua pelawak ini.
Perdebatan soal mode pakaian tidak tergali dalam. Firman pun yang biasanya cukup bisa diandalkan sebagai pemancing, pembagi umpan, tidak jalan. Mereka malah semakin terjebak dengan permainan ludah, meski tidak berupa saling semprot ke wajah lawan.
Namun, tetap saja kesannya verbal dan menjemukan. Adanya Kimung bentuk lawak mereka tak berubah. Malah yang terlibat pengulangan dan perpanjangan bentuk yang verbal tadi. Untuk Tom Tam rasanya (waktu itu) perlu diperhatikan, agar dalam penampilan (yang saat itu akan) datang tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sekali lagi, grup lawak mau ikutan menyanyi sah saja. Hanya jangan sampai mengorbankan yang telah menjadi profesi sebenarnya. Apalagi kalau lagu yang dinyanyikan bukan dari suara mereka sendiri. Bagi pengelola acara ini, sedikit selektif dalam menampilkan selingan lawak ditingkatkan. Jika memang lawakan dari Tom Tam dinilai gagal, ya tak perlu dipaksakan untuk disiarkan.
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar