TAFSIRAN VIDEO KLIP - VIDEO MUSIK, VIDEO KLIP, DARI DEFINISI HINGGA FUNGSI
ISTILAH video klip dan video musik, akan kita dengar setiap kali membicarakan sebuah tontonan musik di televisi (RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, TVRI-red). Dua istilah itu mengacu pada pengertian yang sama. Yaitu rekaman gambar hidup yang menampilkan potongan adegan yang bernuansa musikal.
Dalam perkembangannya, definisi istilah itu menjadi hal yang bersifat polemis. Pertanyaan apakah istilah video klip sama dengan video musik, tiba-tiba menjadi penting. Perlu bahasan yang lebih serius untuk menemukan kepastian pemakaian dua istilah itu secara benar.
Seperti umumnya unsur budaya pop lain, video musik juga mengalami benturan pada hal-hal di luar teknis. Penyebutan istilah, hal yang sering disoal dalam perkembangan seni modern. Contohnya polemik soal kategorisasi dan penentuan kata kontemporer atau modern di tahun 80an. Saat memilah istilah modern dan kontemporer, memilah istilah video klip atau video musik, juga gampang-gampang susah.
Kita harus lebih dulu menelusuri kedalaman corak dan bentuk. Lihat baik-baik isi potongan-potongan gambar. Apakah unsur musikal dan visualnya saling mendukung dan proporsional? Setelah itu, baru kita analisa makna frasa ini secara harafiah.
Tinjauan etimologi ini, akan sangat menolong untuk sampai ke pemahaman yang sebenarnya. Kata klip dalam terminologi video klip, diambil dari bahasa asing ‘clip’. Yang artinya potongan-potongan (dari film). Video klip dipakai untuk merujuk tontonan yang menayangkan potongan-potongan gambar hidup. Bisa berbentuk video klip iklan, video klip dokumenter, berita, dan musik. Jadi, video musik bukan padanan kata dari video klip.
Benar bahwa kedua istilah ini punya karakter dan ciri berbeda. Video musik, berciri adanya dominasi unsur musikal, di luar visual. Musik menjadi muara dari keseluruhan gambar. Sedang dalam video klip, ciri itu tak tampak. Kalau toh ada unsur musiknya, tidak mendominasi keseluruhan tontonan. Hanya menjadi bagian dari ilustrasi. Ini berbanding terbalik dengan video musik, yang memposisikan unsur visual sebagai ilustrasi dari keseluruhan potensi musikal.
Video klip umumnya difungsikan sebagai alat introduksi. Sebagai tontonan pengantar sampai masuk ke tontonan/pesan visual sesungguhnya. Lihat saja potongan gambar dalam acara berita, presentasi iklan komersial, dan lain sebagainya. Terminologi video klip musik, rasanya lebih pas dipakai untuk menyebut potongan gambar hidup dengan tampilan grup musik atau penyanyi. Menyebutnya dengan istilah video klip akan melahirkan pengertian rancu.
Pilihan kata yang juga tepat adalah video musik saja. Di Amerika dan negara lain yang lebih dulu mengenal video musik, tak pernah memakai ‘clip video’ untuk menyebut tontonan musikal. Mereka menyebutnya ‘music video’. Kebisaan umum, membuat istilah video klip musik sering disingkat sebagai video klip atau video musik saja. Hal itu disebabkan masyarakat awam tidak akrab dengan corak video klip iklan, dokumenter, atau berita.
Meski dalam kenyataannya corak-corak video klip seperti ini telah ratusan kali dinikmati (sampai saat itu). Kalau video klip difungsikan sebagai wahana introduksi, dengan teknik penyampaian langsung kepada pemirsanya, tanpa bahasa-bahasa perlambang (lihat video klip iklan, berita).
Video musik cenderung berfungsi sebagai penyampai visi-ekspresi-imajinasi yang menyelusup ke berbagai bidang kehidupan, yang bersifat filosofis sampai yang remeh sekalipun. Jelasnya, video musik bukan sekadar lahir sebagai medium pengenalan yang linear (introduksi-promosi).
Penambahan fungsi seperti ini dipengaruhi pergeseran konsepsi video musik itu sendiri, seiring dengan perkembangan industri audio dan visual. Begitu industri audiovisual kian melebar, ia membawa konsekuensi lain. Di antaranya adalah pengayaan ragam, corak, dan pendekatan.
Proses pengayaan itu membuat video musik tidak lagi sekadar menampilkan potongan-potongan gambar. Tapi mempunyai potensi naratif yang luas. Untuk mengajak penonton ke dalam suasana bertutur. Memang tak semua video musik menyuguhkan potensi ini. Banyak yang tak menganggap suasana bercerita itu penting.
Namun, persoalannya bukan dieksplorasinya fungsi-fungsi ini oleh sutradara video musik, melainkan bagaimana menjaganya agar tetap menjadi modal untuk pengembangan tema dan penemuan bentuk-bentuk baru.
Fungsi-fungsi video musik yang mendasar (introduksi-promosi) maupun hasil pencarian tema yang individualistik (misi pesan-pesan khusus) tentunya harus dibiarkan berkembang dengan cara dan karakternya masing-masing. Agar video musik tak sekadar menjadi instrumen kecil dalam sebuah industri besar.
Ditulis oleh: Erwin Arnada
Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar