TAFSIRAN VIDEO KLIP: RITMIS DAN FILMIS, SIASAT KREATIF DALAM VIDEO MUSIK

 
APA sebenarnya yang diharapkan dan diinginkan dari video musik? Kenikmatan tontonan atau pemahaman tontonan? Tiba-tiba ini menjadi penting, tatkala banyak video musik yang tak memberi penontonnya pengertian dan pemahaman visual. Mungkin satu dua video klip bisa menularkan gagasan sang sutradara ke benak pemirsanya, hanya dengan satu pola kreatif. Yaitu pola ritmis dan filmis. Tapi selebihnya jarang yang memuat pola seperti ini.

Ritmis dan filmis adalah dua frase yang menjadi muara bagi keseluruhan elemen visual. Ketika musik diperdengarkan, unsur ritmelah yang utama terekam setiap orang yang mendengar. Gelombang nada, ketukan dan alunan perangkat lagu adalah unsur ritmis. Sedangkan filmis, adalah gaya memindahkan bahasa lagu (lirik) ke dalam bahasa gambar. Perangkatnya bisa terdiri dari tata lampu dan cerita yang berkonstruksi kuat.

Ritmis dan filmis sebenarnya tak lebih dan siasat kreatif seorang sutradara video musik. Peneknaan dua hal ini sebenarnya bukan barang baru, juga bukan orientasi baru.

Sutradara yang paham ‘positioning’ lagu dan kualitas gagasannya pasti tak mau repot-repot mencari dasar kreasi dengan memikirkan unsur yang sebenarnya tidak menonjol. Dengan memilih dua unsur di atas, cakupan yang mereka punya sudah memadai. Ritmis mencakup unsur pilihan pada teknis perpindahan gambar. Mau ‘fast-cut’ atau ‘slow’, disesuaikan dengan ‘beat’ lagu.

Lagu dengan ritme kencang, akan mendorong sutradara membuat gambar yang perpindahan adegannya berlangsung cepat. Demikian pula sebaliknya. Sedangkan filmis mencakup unsur gaya penceritaan dan penekanan pada kualtias gambar. Di dalamnya terkandung segala persyaratan untuk memenuhi kriteria estetis. Mulai dari tata artistik, eksplorasi kamera, hingga gaya penyuntingan.

Dengan menekankan kedua unsur ini, sebenarnya secara praktis, sutradara video musik telah melakukan hal yang paling mendasar dalam menanamkan interpretasi pada penonton. Begitu dua unsur ini diperhatikan, sutradar sudah membuka kemungkinan yang lebih kompleks. Lebih dari sekadar ‘picture-making’.

Bukankah tujuan sutradara, memberi interpretasi dan pemahaman yang beragam terhadap penontonnya? Mengapa tidak semua sutradara punya ‘touch’ terhadap dua unsur ini (ritmis dan filmis)?

Barangkali karena selama itu unsur ide menjadi hal yang paling menyedot perhatian dan konsentrasi mereka. Mau diapakan penyanyi ini, mau dibikin apa grup ini, adalah pertanyaan yang muncul pertama kali dalam benak sturadara yang belum matang. Masih bingung pada persoalan bentuk (hasil). Bukannya proses.

Sejumlah gagasan dan alternatif visual memenuhi otak, menyita energinya sedemikian rupa. Ada keinginan untuk menyetir interpretasi penonton. Mereka lupa bahwa interpretasi pada diri penotnon, mendekam di wilayahnya sendiri-sendiri. Menempati areal yang tak begitu saja bisa disentuh oleh gagasan sutradara. Yang tak boleh dilupakan adalah bahwa salah satu “kodrat” video musik, yaitu bebas diinterpretasikan.



















Video klip Penari (Dewi Gita), contoh video yang membuang kesempatan untuk diinterpretasikan dengan mudah oleh penonton. Terlalu banyak gagasan. Padahal lagunya sendiri sudah memenuhi unsur ritmis. Mengapa tidak dikonsentrasikan ke sana? Tinggal mengemasnya dengan pendkeatan filmis, jadilah video klip yang jauh lebih bagus dan memberi pemahaman tontonan. Tidak ruwet, seperti yang kita lihat (waktu itu).

Video ini kelewat banyak gagasan, tapi tak menyampaikan apa-apa. Sutradara yang sudah matang dan penjelajahan visualnya berdasar pada penekanan ritmis dan filmis, adalah Garin Nugroho dan Rizal Mantovani. Menilainya bisa lebih pasti dengan melihat video Garin, Negeri Di Awan (Katon Bagaskara) dan karya Rizal, Bebas (Iwa K).

Perbedaan hasil kerja dan kualitas gagasan yang mencolok antara Garin, Rizal, dan sutradara lain, masih terletak pada visi. Garin dan Rizal sudah melampaui batas pengenalan semua pencitraan gambar.

Selalu berangkat dari tema-tema besar, dan kemudian memotongnya bagian per bagian untuk disusun kembali menjadi keutuhan gambar yang mengacu pada satu gagasan utama. Dalam Negeri Di Awan, tema besar yang diambil Garin adlah ‘flashback’ bocah lelaki tentang kerinduannya pada ibu guru.

Untuk menghadirkan imaji kenangan itu, Garin membuat gambar yang perpindahannya lambat. Ini hasil perhitungannya dengan ritmis lagu itu. Dan untuk sampai pada penceritaan yang runtut, sehingga penonton paham pada pikiran sutradara, ia membutuhkan sebuah gaya penceritaan. Di sinilah pendekatan filmis itu terasa dan menjadi penting.

Dengan dua pendekatan yang dilakukan Garin, pemirsa dengan mudah sampai pdaa pemahaman tontonan. Begitu juga yang dilakukan Rizal dalam setiap karyanya. Apa maunya dua sutradara ini tidak lagi jadi perdebatan. Karena setiap orang yang menyaksikan video klip mereka, bis amenarik interpretasi sama persis dengan gagasan sutradara.

Di antara sejumlah video yang digelar sepanjang tahun 1994/1995, Negeri Di Awan dan Bebas adalah dua terbaik. Video ini telah merangkum dua unsur yang paling mendasar dalam sebuah video musik. Sehingga bukan sekadar memberi kenimatan visual, tapi juga sebuah pemahaman yang panjang tentang gagasan dan nilai-nilai estetis.

Ditulis oleh: Erwin Arnada

Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer