TAFSIRAN - SINETRON LOKAL: "LEBIH VOKAL, LEBIH KENTAL"
(1)
Sinetron lokal:
MARAKNYA sinetron lokal yang mencapai 34, 6 jam setiap harinya, harusnya menggembirakan. Dan (waktu itu) akan lebih membahagiakan andai saja pengertian lokal, atau setempat itu adalah pengertian budaya setempat. Bukan hanya lokasi tempat.
Budaya lokal berarti sikap manusia bermasyarakat, dengan segala ekspresi yang setempa tjuga, dan karena khas dan unik: susah senang, gelisah-gelisah, cemburu-rindu, tangis tawa, putus asa – berharap dan sejenisnya. Demikian juga barnagkali tata artistik, tata busana, dan lain sebagainya.
Inilah sebenarnya yang menjadi ciri khas produk sinetron atau film mudah dikenali: dari Hongkong, India, Meksiko dan sekitarnya. Istilah penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto), menjadi sinehong, sinendia, sinemeks. Kalau hanya lokasi pembautan di sini dengan sikap budaya mencontek, yang terjadi adalah lokalisasi sinetron. Pembatasan suatu tempat produksi sinetron. Tak berbeda dnegan istilah populer “lokalisasi WTS”, asal kumpul di suatu tempat.
Dalam proses perkembangan, “lokalisasi produksi sinetron” ini tidak salah. Tapi sudah layak dan pantaslah kita menengok atau memberi perhatian lebih pada produk yang berani mengambil sikap pada budaya lokal. Bukan kebetulan produk ini juga menjadi unggulan, ‘useful informations’, dan melegakan: si Doel (RCTI), Jalan Makin Membara (SCTV), Telesinema ANteve, Balada Dangdut (TPI), untuk menyebut acara yang mudah diingat.
(2)
Warna budaya lokal
KALAU kita mau menerima angka-angka rating, bahwa budaya lokal ternyata (waktu itu) masih tetap merajai di papan atas. Bahkan bukan tidak mungkin, suatu ketika, apa yang kita kenal sebagai “mega sinema” atau film-film bioskop, akan bergeser posisinya. Bukan hanya karena “di pasar film ini makin menipis”, melainkan karena warna lokal ini terasakan lebih vokal dengan masalah-masalah yang berlangsung dalam kehidupan normal kita, sekaligus juga lebih kental menyatukan potret kita.
Kesulitan keseharian “tukang insinyur” Doel mencari pekerjaan, jalan cinta Mandra, petualangan Handoko, teriakan sedu oh mama, sampai dengan tetesan air mata dan sorak cinta yang menjadi balada dalam lirik lagu dangdut, adalah bagian dari keseharian kita.
Keterasingan menjadi cair, dan keterlibatan emosi mengalir. Warna budaya lokal ini menjadi penting diingat, karena hasil 34, 6 jam sehari, 1996 ini, pada gilirannya nantinya jika semua stasiun swasta (RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, ANTV-red) ‘full’ siaran, (waktu itu) akan mencapai sekitar 97 jam sehari. Betapa menarik dan riuh rendahnya.
Tentu tidak semua harus dipaksakan dengan warna budaya lokal. Juga tidak harus menghilangkan tema-tema “sehari 100 selingkuh” misalnya. Yang begini, pasti tidak sehat, dan pemirsa akan dibuat melarat dengan satu jenis tema. Justru dengan keberagaman, kita menemukan variasi dan alternatif yang masih terus dikoyak.
(3)
Pilihan atau keberanian?
DALAM rangka promosi dan mengantar seri Keluarga Cemara (RCTI) ini, penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) memang terlanjur merumuskan bahwa: untuk mensiasati produk yang kita emohi – produk dari luar negeri, misalnya – hanya dengan satu cara, yaitu memproduksi sendiri. Inilah sebuah pilihan langkah.
Untuk itu, modalnya hanya keberanian. “Opung” Edo Pesta Sirait, sebagai sutradara dan sebetulnya sekaligus pelaksana produksi, menyambut baik dan siap dengan risiko. Risiko tidak mengerjakan judul lain yang ditawarkan, risiko melatih anak-anak (era itu), risiko tidak ada stasiun yang mau membeli, risiko tidak disukai penonton.
Risiko tuntutan artistik pada dirinya sendiri, dengan akibat yang mencemaskan dari sudut perhitungan produksi. Untuk mencari lokasi syuting yang sesuai, mencari pemeran anak-anak (era itu), menghabiskan waktu hampir 40 hari!
Penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) ingat ketika bersama Edo, juga istrinya yang menjadi produser pelaksana, ketika harus membuang adegan-adegan yang sudah diambil selama seminggu, dan mengulang lagi dari awal. “Kita tidak bicara soal untung atau rugi dari segi materi. Kalau jenis ini bisa ditayangkan, bisa sudah untung dari segi ide, dari segi gagasan. Harus ada yang berani begini. Dan saya yakin tontonan seperti ini layak tayang di bumi Indonesia.”
Kurang lebihnya, ia mengatakan begitu, saat anak-anak meminta ‘break’ karena sudah ngantuk – padahal baru jam makan siang, padahal mereka mulai baru sepulang sekolah – atau pihak penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto-red) semua terpaksa menjadi “orangtua” dengan menggendong pemeran Agil yang ngambek karena ingin mancing atau bermain.
Proses ini penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) ceritakan, selain untuk promosi, hehehe, juga untuk memperlihatkan bahwa pilihan itu terbuka, dan pastilah keberanian – betapapun kecilnya – dimiliki oleh semua rumah produksi yang lain. Semua yang penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) ceritakan ini tidak terlihat di layar, tapi dasar ini yang (harapan waktu itu) mduah-mudahan bisa terungkap dan tertangkap nuansanya.
Bisa diproduksi sudah satu langkah kecil. Bisa disiarkan juga langkah yang lebih besar. Keberhasilan di mata dan hati pemirsa, adalah jumlah keseluruhannya.
(4)
Pasar Global
SINETRON mungkin bisa mempelopori wujud lokal, sebelum nantinya bentuk kuis, bentuk berita, bentuk pentas, dialog/’talkshow’ (waktu itu) akan menemukan juga ciri-ciri utamanya, yang pada gilirannya akan memberi sumbangan lokal pada tingkat global. Sebagaimana kita begitu mengenali warna lokal India, Hongkong, atau terutama Amerika Serikat.
Keluarga Cemara, barangkali bisa menjadi bagian dari mozaik untuk menentukan sikap sinetron lokal. (Penulis bacaan ini, Arswendo Atmowiloto, waktu itu mengucapkan) terima kasih.
*) pengantar saat konferensi pers pemutaran perdana Keluarga Cemara di gedung RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), Jakarta (Kebon Jeruk-red), 4 Oktober 96.
Dok. Bintang – No. 297/Th. VI/minggu pertama November 1996, dengan sedikit perubahan
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar