TAFSIRAN ACARA TEVE: TV & ANAK-ANAK
Untuk beberapa anak (era itu), dalam kondisi tertentu, televisi bisa sangat berbahaya. Untuk anak-anak (era itu) lain dalam kondisi sama, atau untuk anak-anak (era itu) yang sama dalam kondisi berbeda, televisi justru sangat bermanfaat. Untuk kebanyakan anak-anak (era itu) dalam berbagi kondisi, televisi bisa sangat berbahaya, bisa pula bermanfaat.
KALIMAT yang pernah sangat populer di Amerika pada awal 60-an ini, dikutip dari studi yang dilakukan Schramm, Lyle, dan Parker (‘Television in the Lives of Our Children’).
Walau tak secara tegas, kalimat ini memberi pemahaman baru seputar korelasi (hubungan sebab-akibat) antara (acara) TV dan dampaknya terhadap anak-anak (era itu). Betapapun, perilaku seseorang, termasuk anak-anak (era itu), punya latar belakang yang teramat kompleks. Dan adalah gegabah kalau mencoba menjelaskan serta mencari akarnya, hanya dengan bersandar pada salah satu faktor, dalam hal ini televisi.
Kerisauan sekitar dampak buruk TV terhadap anak-anak (era itu), memang persoalan lama yang belum tuntas hingga saat itu. Mula-mula soal seks, lalu kekerasan, dan (belakangan itu) “badai” baru (waktu itu) – berangkat dari kontoversi lama – yang kembali aktual (ketika itu), adalah dampak iklan yang membidik anak-anak (era itu) sebagai sasaran.
Konferensi Tingkat Tinggi tentang Anak-anak dan Televisi (‘Summit on Children and Television’) yang diselenggarakan di Australia beberapa waktu sebelumnya, menegaskan kembali betapa persoalan ini ada tak boleh diabaikan. Dalam hal ini ada dua kubu yang saling berhadapan dan punya kepentingan berbeda. Di satu sisi ada ‘programmer’ acara anak-anak, stasiun teve. Di sisi lain ada para pendidik, orangtua, juga para aktivis yang peduli pada anak-anak (era itu).
Dari penelitian yang pernah dilakukan di Amerika, juga saran dari para pakar, ada beberapa kondisi juga fakta yang perlu dipahami ketika bicara soal TV dan anak-anak. Di antaranya:
1) Potensi paling kuat yang bisa merangsang anak-anak (era
itu) menonton televisi adalah orangtuanya. Biasanya anak-anak (era itu) – waktu
itu – akan menonton acara yang juga disaksikan orangtuanya.
2) Dalam satu keluarga di mana si orangtua keranjingan
nonton teve, anak-anaknya (waktu itu) akan melakukan hal yang sama.
3) Anak-anak (era itu) yang terlalu banyak nongkrong di
depan televisi, biasanya punya problem emosional, entah karena suasana di
rumah, sekolah, atau pergaulan dengan teman-temannya yang tidak serasi. Menonton
teve menjadi semacma pelarian, bukan karena tertarik dengan acara yang tengah
ditayangkan.
4) Anak-anak (era itu) yang punya kecerdasan tinggi, (waktu
itu) akan lebih dini tertarik pada teve, dan lalu meninggalkan teve pada usia
12 tahun, untuk mencari petualangan baru di luar rumah. Sementara anak-anak
(era itu) yang kuirang cerdas, akan lebih lama terpaku di depan teve.
5) Acara TV untuk anak-anak (era itu) yang dibuat dengan
semangat menjadikan mereka pribadi yang sehat, teramat sedikit. Keinginan
mengumpulkan penonton dan pengiklan sebanyak mungkin (kecuali bagi TVRI yang – ketika
itu – tidak boleh ada iklan, red) lebih menjadi pertimbangan utama.
6) Anak-anak (era itu) – yang waktu itu – di bawah usia 8
tahun, belum bisa mencerna isi acara yang ditonton. Mereka menganggap apa yang
dilihat di layar teve sebagai kebenaran.
7) Banyak orangtua yang menjadikan teve sebagai ‘babysitter’
murah (kala itu). Padahal, kalau ini dilakukan, tak ada kerugian sekaligus.
Pertama, tak ada yang melindungi mereka dari pengaruh buruk yang mungkin didapat.
Kedua, membuat mereka terpisah dari dunianya dan enggan melakukan aktivitas
lain.
8) Banyak anak-anak (era itu) yang tak cuma menonton acara
yang khusus dibuat untuk mereka. Tapi kalau saat itu mereka didampingi
orangtuanya, yang dengan aktif memberikan penjelasan, pengaruh buruk itu bisa
dieliminir.
9) Anak-anak (era itu) – waktu itu – akan lebih menyukai
film-film eksyen disertai adegan kekerasan.
Gerakan mewaspadai pengaruh buruk TV terhadap anak-anak, di Amerika sudah mulai berkobar pada tahun 60-an. Sekelompok orangtua yang menginginkan ada peningkatan kualitas tontonan untuk anak-anak, mendirikan ‘Action for Children’s Television’ (ACT).
Organisasi yang dipimpin Peggy Charren ini, secara terus-menerus dan konsisten memperjuangkan segala upaya perlindungan, dan mendesak stasiun teve sebanyak mungkin memproduksi/menayangkan acara yang baik, mendidik, dan berkualitas. Tahun 1974, ACT bahkan berhasil mendesak FCC (‘Federal Communications Commission’) menerbitkan panduan khusus untuk acara anak-anak.
Sejak itu film-ilm kartun yang sarat kekerasan, menghilang dari layar kaca. Tapi ironisnya, acara yang dibuat sesuai dengan panduan FCC dan kemauan ACT, gagal mengumpulkan penonton (anak-anak – era itu) juga pemasang iklan. Stasiun teve pun dibuat kelabakan. Lalu, tahun 1980 FCC melakukan deregulasi dan menghapus kewajiban mengikuti panduan itu.
Film kartun penuh adegan kekerasan, acara yang dibuat dengan lebih mengutamakan pertimbangan bisnis dan mengabaikan dampak buruknya terhadap anak-anak (era itu), kembali merajalela. ACT tak berputus asa. Berkat kegigihan mereka melobi kongres Amerika, tahun 1991, ACT berhasil memaksa semua stasiun teve menunjukkan kepeduliannya pada kebutuhan anak-anak (era itu). Bentuk kepedulian ini, harus dibuktikan setiap kali mereka memperpanjang izin.
Di Amerika, kepedulian terhadap dampak buruk TV, bukan saja terhadap anak-anak (era itu), memang sungguh besar. Banyaknya ‘pressure groups’ (kelompok orang-orang yang peduli), yang memperjuangkan kepentingan dan melakukan upaya perlindungan kelompok-kelompok tertentu, bisa jadi salah satu bukti. Bagaimana dengan di Indonesia?
Lembaga yang betul-betul independen, yang secara konsisten memantau TV dan melakukan koreksi, memang (sampai saat itu) belum ada. Tentu bukan karena kita tidak peduli. Paling tidak, suara-suara protes dan kritik (waktu itu) mulai nyaring terdengar.
Terus bagaimana? Kita serahkan sepenuhnya pada kebijakan pengelola stasiun TV (RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red) dan pemerintah? Siapa sebetulnya yang punya kewajiban melindung anak-anak (era itu)? Apa kita punya kekuatan memaksa pengelola stasiun teve?
‘Only a parent is a parent’. Kata kritikus James Kaplan. Agaknya kita harus kembali pada nasihat kuno: jangan biarkan kekuatan apapun, termasuk TV, merusak anak-anak (era itu). Dan tak daa yang lebih berkompeten dan mampu melakukan selain kita sendiri, para orangtua. Perkembangan, masa depan anak-anak adalah tanggung jawab orangtua. Menemani anak-anak (era itu) nonton TV, lalu mengajak diskusi, tetap tindakan pencegahan yang efektif dan efisien.
Tapi masalahnya, apakah kita selalu punya waktu untuk melakukan itu? Mungkin karena kondisi-kondisi di luar kemampuan kita ini, kritikus Neil Hickey dengan berang berujar: kalau nantinya itu terjadi (dampak buruk TV benar-benar meracuni dan merusak anak-anak – era itu), kita harus menuntut pertanggungjawaban TV.
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar