TAFISRAN VIDEO - RETROSPEKSI VIDEO MUSIK INDONESIA (TERBENTUKNYA DUA DESAIN BESAR)

 


DITELUSURI secara makro, selama tahun 96 telah terjadi pembentukan dua pola besar dalam produksi video musik Indonesia. Pola (desain) pertama adalah video dengan konsep ‘simplicity’ yang mengutamakan kesederhanaan bentuk. Ciri dari video berpola simpel, adalah penekanan pada karakter artistik.

Soal eksplorasi teknik dan eksprerimentasi visual, tak diutamakan. Karakter artistiknya dipertaruhkan pada komposisi lansekap, pemilihan warna-warna primer atau ‘monocolor’ (hitam putih atau sepia). Gambar-gambar yang ditawarkan hampir semua bersifat naratif. Visualisasinya bertutur secara sederhana agar mudah dipahami pemirsa.

Video musik yang masuk kategori ini, antara lain Rumahku – Oppie Andaresta, Andai Dia Tahu – Kahitna, Suratku – Hedi Yunus, Kala Sang Surya Tenggelam – Chrisye, Tak Ada Waktu – Nita Tilana.

Video dengan desain seperti ini, menularkan emosi yang harmonis, karena terekam nyaris tanpa pergolakan yang berarti, seperit perpindahan gambar yang melompat-lompat atau visual yang ekstrem, yang sebenarnya telah menodminasi ragam video musik di Eropa dan Amerika sepanjang dua tahun terakhir. Desain kedua adalah video dengan pendekatan ‘post-modernism’.

Kecenderungan mengeksplorasi alat saat pra dan pasca produksi (syuting, ‘editing’) sangat menonjol dalam video bergaya ‘post-mo’. Ciri lainnya adalah eksperimentasi dalam tata warna dan keberanian menawarkan konfigurasi visual baru, terutama yang berhubungan dengan bidang industri lain, seperti iklan dan desain grafis.

Kalau dalam video ‘simplicity’, warna primer menjadi pilihan dalam menentukan karakter artistik, dalam video ‘post-mo’ justru sebaliknya. Pilihan warna maupun elemen artistik lainnya seperit tata busana dan dekor jatuh pada gaya ‘retro’. Warna pastel yang identik dengan era alternatif menjadi pilihan. Contoh video dengan desain ‘post-mo’ antara lain Ingat-Ingat Pesan Mama – Oppie Andaresta, Kebebasan – Singiku, Jujur – Uchie WIby, Ya Udah – Humania.

Video yang disebut di atas pada dasarnya memiliki temperamen yang sama, baik musikalitas maupun visualisasinya meletup-letup, emosional. Citarasa ini lahir karena adanya semangat mengingkari ketertiban dan standarisasi, serta tumbuhnya kemauan mencoba segala bahan untuk ekspresi seni. Sesuai filosofi ‘post-modernism’.

Terjadinya separasi pendekatan ini bukan mustahil sebagai konsekuensi dari tumbuhnya sebuah industri yang ditandai dengan munculnya sumber daya manusia dan kemajuan teknologi. Dua hal ini yang pada akhirnya membekrati lahirnya sutradara muda (era itu) yang punya latar belakang berbeda dengan pendahulunya. Tentu dengan konsep dan pemahaman-pemahaman yang (waktu itu) baru pula.

Tokoh-tokoh video musik, seperti Rizal Mantovani, Richard Buntario, selama tahun 96 boleh dikatakan merelakan ruang bagi sutradara muda (era itu) untuk berkreasi. Rizal dan Richard yang (waktu itu) sudah membuktikan keterampilannya mengerjakan video musik dengan dua desain ini, memang sudah selayaknya bersikap demikian.

Mengingat tuntutan yang ditimpakan kepada mereka, 1996, bukan lagi soal kualitas atau teknik penyutradaraan, melainkan kemampuan menyatukan beberapa unsur kesenian ke dalam satu tontonan, sebagai bukti pluralisme kesneian bisa diterima di mana-mana dan ikut mendorong perkembangan seni itu sendiri. Dengan kata lain, mereka dituntut menjalin hubungan global seni rupa dengan konsep video musik.

Misalnya, memasukkan seni tari, teater, seni instalasi atau yang lainnya ke dalam desain video musik. Seperti film, yang harus diakui menjadi menarik setelah menggabungkan unsur fotografi, suara, teater, dan olah tubuh. Seperti kata Garin Nugroho, “Akan menarik kalau dalam video musik terjadi sinergi elemen seni yang plural. Misalnya, Rizal Mantovani bekerjasama dengan Sardono W. Kusumo.

Bicara soal penerus generasi Rizal dan Richard, untuk urusan video musik, nama-nama seperti Dimas Djayadiningrat, Gusti Hermansyah (Djerit Sinema), Nyonyo (Kornet Biru Production), Glen Kainama (Broadcast Design Indonesia) tak bisa diabaikan begitu saja.

Mereka adalah sutradara muda (era itu) yang reputasi artistiknya patut diacungi jempol. Kehadiran mereka bukan hanya menandai tumbuhnya industri video musik, namun menstrimulir lahirnya dua desain besar dalam pola produksi.

Yang membahagiakan, tak lain keberhasilan mereka menunjukkan perbedaan pendekatan penyutradaraan. Ini harus diakui sebagai indikasi bahwa independensi terus tumbuh di kalangan seniman video musik. Jay punya kecenderungan mendesain video musik dengan pola ‘simplicity’. Lihat saja video musik Rumahku (Oppie Andaresta).

Sementara Gusti, yang sayangnya belakangan itu tidak produktif, malah bisa menempatkan diri di tengah dua konsep dan desain besar. Baik desain ‘postmo’ maupun ‘simplicity’ bisa digarapnya dengan baik. Saat mengerjakan video Terbunuh Sepi (Slank) yang begitu minimalis dan bagus, sebenarnya ia langsung menunjukkan kemampuannya menggarap video berdesain ‘simplicity’.

Saat menyutradarai video Ingat-Ingat Pesan Mama (Oppie Andaresta), ia menunjukkan dirinya paham dengan desain ‘ost-mo’. Dua sutradara lain, Glenn Kainama dan Nyonyo, dilihat dari karya akhir mereka, memperlihatkan diri masuk dalam arus besar ‘ost-mo’. Kebebasan (Singiku) dan Lumpia vs Bakpia (Project Pop) adalah misal yang paling pas.

Sebagai catatan, video musik karya empat sutradara tadi berhasil menmpati posisi unggulan dalam kompetisi bulanan di acara KC-VMI (RCTI), menyisihkan puluhan video musik lainnya. Artinya, mereka bukan cuma menawarkan sesuatu yang (waktu itu) baru tanpa perhitungan kualitas. Selain terjadi pemilahan desain visual seperti yang diurai di atas, yang menandai perkembangan video musik Indonesia sepanjang tahun 1996 lalu adalah lahirnya kegenitan-kegenitan baru (ketika itu).

Yang menonjol adalah ulai diseriusinya video bergaya ‘cameo’ (melucu dengan teknik memparodikan adegan film dan video musik lain). Beberapa video musik Project P, grup komedi musikal Padhyangan 6 (Tenda Biruku), dan Project Pop (Lumpia vs Bakpia), bisa dicap sebagai gejala lain yang tumbuh selama tahun 96. Tahun 1997 ini, diprediksi (waktu itu) bakal tumbuh kecenderungan mengolah tema visualisasi.

Dimulai dengan diproduksinya video musik yang bersinergi dengan unsur kesenian lain. Kalau Garin Nugroho berani memulainya dengan memasukkan seni bela diri ‘wushu’ dan seni tradisional, seperti tanjidor dalam konfigurasi visual di video Ita Purnamasari dan Chrisye (Zamrud Khatulistiwa), tentu gagasan dan semangat serupa (waktu itu) akan terstimulasikan. Toh, video musik pada hakikatnya merupakan seni yang sangat adaptif.

Dok. Bintang – Edisi 305/Th. VI/minggu kedua Januari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer